Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Terkilir


__ADS_3

Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Morgan


"Masuk!" Lelaki angkuh dan dingin itu tak merubah posisinya. Ia duduk di sofa dengan melipat kakinya.


"Dokter Adam sudah datang Tuan." Pelayan itu datang bersama dokter yang dimaksud.


"Hemm ... pergilah!" Morgan menyuruh pelayan itu untuk pergi.


"Cepat periksa keadaannya." Perintahnya pada dokter Adam.


"Baik Tuan Muda." Dokter itu lalu mendekati Eylina.


"Bagian mana yang sakit Nona?"


"Kakiku ... kakiku terkilir Dokter." Eylina tersenyum. Berharap dokter itu tidak seaneh suaminya.


Namun dokter tersebut nampak terlalu profesional, wajahnya sangat kaku. Bahkan terkesan pucat dan tegang.


Maaf Nona, aku tidak bisa membalas senyum anda. Aku bahkan bisa kehilangan pekerjaanku jika tuan muda salah mengartikan senyumku. Apa anda belum tahu jika tidak ada yang boleh mengganggu sesuatu yang menjadi miliknya. Dokter Adam.


Ia kemudian memeriksa kaki Eylina dengan seksama.


"Maaf Tuan, kaki Nona muda tidak bermasalah. Hanya perlu sedikit dipijat dan diurut saja." Dokter itu tersenyum seramah mungkin pada Morgan.


Hey, anda bisa tersenyum? tidak adil, anda bahkan tidak menatapku tadi. Eylina.


"Kalau begitu lakukanlah!" Berkata enteng tanpa beban.


Ya Tuhan ... aku ini dokter Tuan bukan seorang tukang urut.


"Ta ... tapi itu bukan keahlian saya Tuan. Mu ... mungkin salah satu pelayan dirumah ini ada yang bisa melakukannya." Mencoba memberi ide, namun ia seolah sedang mengakui sebuah kesalahan. Pelipisnya mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Ya sudah ... pergilah." Morgan melakukan gerakan mengusir dengan tangan.


"Baik Tuan, terimakasih. Saya permisi." Dokter Adam menundukkan kepala dan kemudian menghilang dibalik pintu. Ia menutup pintu itu dengan tanpa suara.


Morgan kemudian menelepon dan memanggil kepala pelayan.


Tok ... tok ... tok ....


"Masuk!" Morgan masih duduk di sofa dengan tangan terlipat di dadanya.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Seorang kepala pelayan berusia sekitar lima puluh tahun itu berdiri dengan kepala menunduk di hadapan Morgan.

__ADS_1


"Pak Gun, tanyakan pada pelayan di belakang. Apa diantara mereka ada yang punya keahlian memijat atau mengurut? Jika ada, cepat bawa kemari. Dan juga siapkan sarapan untuk kami. Bawa kemari sekalian!" Perintahnya.


"Baik Tuan Muda." Pak Gunawan atau sering dipanggil pak Gun itu kemudian menundukkan kepalanya dan melaksanakan perintah tuannya.


*****


Semua pelayan membentuk barisan rapi dihalaman belakang setelah pak Gun memberi instruksi.


Lelaki yang nampak sangat berwibawa dan disegani itu lalu menatap satu persatu anak buahnya.


"Katakan dengan jujur! Apa diantara kalian ada yang memiliki bakat atau keahlian memijat?"


Para pelayan itu kemudian saling pandang satu sama lain. Mereka mengernyitkan dahinya seolah sedang saling bertanya.


Untuk apa?


Kemudian tiga orang diantara mereka mengangkat tangan.


"Baiklah kalian bertiga ikut saya ke kamar tuan muda. Dan yang lain cepat siapkan sarapan untuk tuan muda dan bawa ke kamar beliau." Pak Gun kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar tuan mudanya.


Sementara tiga orang pelayan wanita yang ditunjuk itu kemudian mengekor mengikuti langkah pak Gun.


Apa yang sebenarnya terjadi. Begitulah batin ketiga pelayan tersebut. Namun mereka tidak pernah berani bertanya. Mereka hanya akan melakukan tugas sesuai protokol yang telah ditentukan dan tidak boleh banyak bertanya. Terlebih tentang urusan para penghuni rumah ini.


"Pak Gun, apa yang terjadi sampai Morgan memanggil dokter Adam kemari?" Ayu bertanya dengan melipat tangannya di depan dadanya.


Dasar tidak berguna. Ayu mengumpat dalam hati.


"Ada apa sih Ma? Kenapa kelihatan kesal sekali?" Wira datang dari arah taman belakang.


"Itu, tadi Morgan memanggil dokter Adam kemari. Entah apa yang terjadi pada istri temuannya itu." Ayu melengos dan berjalan menuju ruang tengah dan duduk di samping Emily.


"Mama ini, Eylina itu menantu kita. Lagipula dia juga gadis yang sopan." Wira menyusul duduk disamping Ayu.


"Sopan saja tidak cukup Pah, menantu kita harusnya memiliki bibit, bebet dan bobot yang baik."


"Iya Ma, kak Eylin baik kok. Emily lihat dia juga selalu sopan dan tersenyum ramah." Emily mencoba ikut meyakinkan.


Gadis ini memang sangat peka dengan sifat orang disekitarnya. Aura yang dipancarkan Eylina memang berbeda.


Emily dapat merasakan jika kakak iparnya itu berhati lembut dan hangat. Dan juga memiliki sifat yang jujur dan tulus.


"Bagi Mama, Bella tetap yang terbaik dan paling cocok mendampingi Morgan. Titik."

__ADS_1


"Sudahlah Ma, hargai keputusan Morgan. Sudah hampir sepuluh tahun anak kita menutup diri semenjak kepergian Alice. Jadi biarkan dia membuka hatinya kembali. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya." Wira berkata dengan halus dan penuh wibawa.


"Ya nggak bisa begitu dong Pah, Bella yang paling pantas menggantikan posisi Alice disamping Morgan." Ayu masih bersikeras.


Andai mama tahu, kak Bella nggak sebaik yang mama kira. Emily sering memergokinya berkencan dan bergonta - ganti lelaki.


Kak Bella adalah orang yang sangat berbahaya Ma. Emily. Ia tahu semua tentang Bella dari Gavin, kekasihnya yang merupakan adik angkat Bella.


****


"Permisi Tuan Muda, ini adalah ketiga pelayan yang memiliki keahlian yang Tuan Muda inginkan tadi." Pak Gun masuk bersama tiga orang pelayan dibelakangnya setelah Morgan mengijinkannya.


"Kaki nona muda terkilir, apa kalian bisa mengurutnya?" Morgan menatap ketiga pelayan itu secara bergantian.


"Bisa Tuan ...." Bi Sani adalah yang paling berumur diantara dua rekannya yang lain. Ia lalu maju dan menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu kerjakan sekarang! Tunggu apa lagi?" Morgan berkata dengan enteng.


"Baik Tuan, saya hanya butuh sejenis minyak urut. Jika tidak ada mungkin bisa minyak kelapa atau minyak zaitun Tuan." Dengan sangat sopan Bi Sani mengutarakan maksudnya.


"Kalian berdua ambilkan apa yang diminta Bi Sani!" Pak Gun memerintah kedua anak buahnya yang masih berdiri itu.


"Baik." Kedua pelayan itu kemudian segera pergi mengambil apa yang diperintahkan pak Gun.


Sementara disaat bersamaan datang dua pelayan dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Morgan dan Eylina.


"Permisi Tuan Muda, sarapan anda sudah siap."


"Letakkan disana!" Morgan menunjuk sebuah meja yang terletak di ujung sofa.


Dan kedua pelayan tadi mengikuti perintah tersebut lalu segera menghilang di balik pintu.


Tak berselang lama ganti seorang pelayan datang dengan membawa minyak zaitun yang diminta bi Sani. Pelayan itu langsung memberikannya pada wanita tersebut.


Dan dengan segera bi Sani mulai mengurut pelan kaki Eylina yang terkilir. Membuat gadis itu sedikit meringis menahan rasa sakit.


"Maaf Nona, tahan sedikit saja. Ini akan terasa sedikit sakit, namun akan terasa jauh lebih baik setelahnya." Bi Sani memberi peringatan.


Aaaa ... sedikit saja bibi bilang? aku sudah menahannya dari tadi Bi. Mau ditahan seperti apa lagi? huhuhu ....


Klak ....


"Aaaww ...." Eylina meringis namun lelaki yang sedang duduk di sofa dan menikmati sarapan itu malah terlihat tertawa tanpa suara.

__ADS_1


"Sudah Nona, anda bisa mencoba berjalan." Dengan wajah nampak tak berdosa, Bi Sani tersenyum pada Eylina.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2