
Rey terbangun dan mengerjapkan matanya saat terdengar suara keras dari langit malam yang begitu menghitam. Tidak hujan, namun kilatan - kilatan cahaya serta petir begitu terlihat dan terdengar jelas menghiasi malam ini.
Bayangan masa lalu yang begitu kelam, yang tadi masuk ke dalam mimpinya masih teringat jelas.
Ini bukan saatnya aku memikirkan diriku sendiri. Keluarga tuan besar sedang dalam ancaman saat ini.
Rey menyimpan kembali gelang kecil dan juga foto yang ia pegang tadi ke dalam lacinya. Dengan sedikit perasaan yang bercampur aduk, ia mengambil mantel hangatnya dan bergegas keluar. Ia mengeluarkan mobilnya dari garasi lalu mengemudikannya menembus hawa dingin malam ini.
Di balik jendela, bi Ani melihat kepergian majikannya dengan bertanya - tanya. Di dalam hatinya ada perasaan cemas dan khawatir pada pemuda itu.
Sudah beberapa hari belakangan, Rey nampak begitu tidak tenang. Bi Ani sering melihatnya tampak berpikir keras, hingga sering melupakan waktu makan.
Rey terus melajukan mobilnya menyusuri sebuah jalan yang nampak sepi.
Setelah hampir 40 menit jalanan panjang telah ia lewati, Rey masih ingat tempat dan bangunan ini. Ini adalah bangunan yang belasan tahun lalu menjadi saksi penangkapan Jordan dan Hendrawan. Dua orang yang menjadi otak dari rencana kejadian mencekam dan hampir membahayakan nyawa banyak orang.
Bangunan ini nampak tidak terawat, banyak semak belukar di sana - sini. Temboknya juga banyak ditumbuhi lumut. Sementara pagarnya sudah sangat berkarat.
Namun Rey heran, karena terlihat cahaya lampu yang menyala dan menerangi salah satu sudut ruangan dalam bangunan rumah itu.
Tidak mungkin ada yang tinggal di dalam sana. Tapi kenapa lampunya menyala?
Rey kemudian mematikan mesin mobilnya dan mengambil senjatanya, kemudian menyelipkannya di saku mantelnya. Dengan kaki yang dilapisi sepatu broque, ia melangkah perlahan memasuki gerbang yang tidak tertutup rapat.
Namun ia harus menghentikan langkahnya saat melihat dua orang berbadan kekar berjaga di pintu belakang. Mereka masing - masing memegang senjata laras panjang di tangannya dengan posisi siaga.
Siapa mereka? batin Rey, karena nampak asing dengan kedua orang tersebut.
Rey menyelinap di balik tembok dan mencoba menengok ke dalam, namun ia tidak dapat melihat apapun. Ada tirai yang menutupi bagian jendela tersebut.
"LEPASKAN AKU!" teriak seseorang.
Rey membelalakkan matanya saat mendengar suara tersebut. Suara yang sangat tidak asing di telinganya. Ia lalu memasang telinganya.
"Aku sudah melakukan apa yang kalian suruh, kenapa kalian justru menyekap ku disini? Dimana anak dan istriku?"
"Hahaha ... kau pikir aku akan menepati janjiku? Dasar bodoh! Kukira kau adalah orang yang cerdas. Tapi nyatanya kau hanya seperti kera yang diberi umpan pisang sebiji. Dengan mudahnya kau terperangkap, hahaha ...." kata seseorang yang lain. Dari suaranya nampak jika orang itu sudah berumur. Mungkin seumuran tuan Wira.
"DASAR IBL*S! Lepaskan anak dan istriku! Kau pikir hanya dengan menyekap ku kau akan menang melawan tuan Wira, hah? Hahaha ... jangan bermimpi! Perusahaan kecilmu itu hanya seperti butiran debu bagi tuan Wira. Jadi jangan mengkhayal akan meruntuhkannya."
PLAK!!
__ADS_1
Terdengar suara tamparan keras di dalam sana. Rey masih berusaha meyakinkan jika yang didengarnya adalah kebenaran yang nyata. Ia kembali memasang telinganya dengan tajam.
"Kau bunuh aku sekalipun, aku berani bertaruh jika tuan Wira ataupun putranya tidak akan tergeser hanya karena ibl*s bodoh seperti kalian," masih suara orang yang tadi, nada bicaranya terdengar sarkas.
"TUTUP MULUTMU!" teriak lawan bicaranya.
"Hah ... ternyata mendekam di dalam penjara tidak membuat otakmu menjadi waras. Kenapa tidak menjalin kerjasama untuk mewujudkan mimpimu? Tuan Wira adalah orang yang sangat baik dan murah hati, bukankah dulu beliau juga menyuntikkan banyak dana di perusahaan mu? Kenapa kau malah ingin meledakkannya bersama seluruh keluarganya di dalam gedung itu? Tidak tahu malu!"
"KUBILANG TUTUP MULUTMU, MATHIAS!"
Deg ....
Jantung Rey terasa terhenti.
Jadi Mathias tidak bersalah? Mathias melakukan ini untuk anak istrinya?
"Aku mengatakan kebenarannya, bukan? Sekalipun aku telah mencoreng namaku sendiri dan seolah - olah bergabung denganmu, kau pikir mereka akan kalang kabut dan jatuh begitu saja? KAU SALAH BESAR, Jordan!"
Rey tersadar dari lamunannya saat mendengar Mathias kembali berbicara.
"Ku bilang tutup mulutmu, dan bekerjalah padaku! Aku akan melepaskan mu, melepaskan anak dan istrimu. Dan kalian bisa berkumpul dan kembali menjalani hidup dengan bahagia."
"Cih ... lebih baik aku mati bersamaan dengan anak dan istriku daripada harus bekerja pada ibl*is sepertimu. Saat ini saja kau sudah menipuku, lalu aku harus percaya lagi ucapan mu?"
Plak!
Di luar bangunan, Rey merekam semua yang ia dengar tadi. Ia kemudian memberikan pesan pada anak buahnya agar mereka menuju ke titik koordinat yang ia kirimkan.
Rey berjalan perlahan - lahan menuju mobilnya dan melajukan mobil itu sedikit menjauh dari bangunan rumah tua itu. Ia menunggu Robin dan anak buahnya datang, hingga beberapa saat kemudian.
Jadi Mathias tidak pergi ke luar negeri?
Dan anak istrinya? Dimana keberadaan mereka?
Rey memukul kemudinya dengan kesal. Bagaimana bisa ia kecolongan seperti ini?
Apa dana yang digelapkan oleh Mathias juga ada kaitannya dengan hal ini? Untuk apa?
Jika memang Mathias memang sengaja menggelapkan uang itu untuk dirinya sendiri, lalu untuk apa ia masih mengagungkan nama tuan Wira meski nyawanya sendiri berada di ujung tanduk?
30 menit berlalu, Rey tersadar dari kekacauan pikirannya. Ia melihat sebuah mobil datang ke arahnya.
__ADS_1
Beberapa orang menggunakan pakaian hitam, lengkap dengan pelindung dada. Mereka pun turun dari mobil tersebut.
"Selamat malam, skertaris Rey," sapa Robin. Sementara anak buah yang lain membungkukkan badannya ke arah Rey.
"Ikuti aku!"
Rey kemudian mengajak tujuh orang anak buahnya untuk menyelinap ke dalam bangunan rumah itu. Sementara beberapa yang lain menyelinap di bagian belakang rumah tersebut.
Tidak perlu menunggu lama, anak buah sekertaris Rey melumpuhkan kaki kedua penjaga tersebut dengan pistol tanpa suara.
Mereka kemudian membekap mulut kedua penjaga itu dan mengikat tubuhnya di tiang penyangga rumah.
Anak buah Rey kemudian memberi kode bahwa tugasnya telah beres.
Rey dan yang lainpun menuju ke lokasi penyekapan.
Dor ... dor ...
Tepat disaat Rey menendang pintu, terdengar suara keras dari dalam sana.
"Mathias!" panggil Rey dengan keras saat melihat lelaki itu baru saja tertembak di bagian perutnya.
Mendengar teriakan dari Rey, Jordan pun berlari keluar melalui pintu yang lain.
"Kejar lelaki itu! Dan yang lain, cepat lepaskan ikatannya! Kita harus bawa dia kerumah sakit." Rey dengan sigap melepaskan ikatan di tangan Mathias, sementara satu orang lagi melepaskan ikatan di kaki lelaki tersebut.
"Cobalah untuk tetap terjaga, Mathias."
"Maafkan aku, Rey," Ucap Mathias dengan lirih.
Rey lalu mengangkat lelaki itu di atas pundaknya dan berlari menuju mobilnya.
Ia lalu melajukan mobilnya dengan sangat kencang, beruntungnya lokasi tempat kejadian tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Hanya kurang dari 10 menit, Rey berhasil sampai di tempat itu.
Rey lalu mengangkat lagi tubuh Mathias yang mulai lemas menuju UGD.
Mathias langsung ditangani, keadaannya semakin memburuk. Peluru yang bersarang di bagian perutnya harus segera dikeluarkan.
"Panggil dokter kalian sekarang juga!" perintah Rey dengan emosi.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Dengan tangan bergetar dan kaki yang terasa tak bertulang, seorang perawat kemudian menelepon para dokter dan memberitahukan kondisi darurat saat ini. Tentu tak lupa, perawat itu juga menyebutkan nama sekertaris Rey agar dokter - dokter itu segera bergegas ke rumah sakit.
💗💗💗💗💗💗