Menikahi Kembaranku

Menikahi Kembaranku
Episode 105 : Belum terbiasa


__ADS_3

Gio sudah rapi dengan berpakaian sendiri. Sebenarnya tadi mau dibantu Max tapi nggak enak sama istrinya eh si istri nggak peka sama sekali.


"Ge, seharusnya lo bantuin gue nyiapin semuanya kalau gue mau kerja tuh. Siapin baju dan pasangin dasi gitu, lah lo malah bengong. " Gio menceramahi Gea padahal ada Max.


"Ih, kan bisa sendiri ngapain gue bantu. " gerutu Gea,yang sebenarnya belum terbiasa. Malu juga ada asisten Gio dianya terang-terangan ditegor gitu.


"Biasanya sih Max yang nyiapin, tapi sekarang ada istri gue. " Gio merapikan dasinya.


Lalu Gea berdiri mendekat, berinisiatif membantunya.


"Nah gitu dong kan romantis. " Gio tersenyum lalu mengecup dahi Gea.


Max seketika membalik badannya agar tidak melihat mereka, barang kali adegan selanjutnya akan sedikit panas.


"Anjrt lo Max, cuma lihat gue cium jidat aja malu. Sekarang tahu kan perasaan gue kalau lihat lo lagi sama cewek. " Gio menyadari tingkah Max.


"Beda lah, kan ini pasangan halal jadi lihatnya adem gitu. " Max sekarang bicara santai, sambil membalikan badan lagi.


"Makanya cepat nikah. " Gio sudah siap.


"Baru umur 27 masih muda santai saja. "


"Gue aja nikah umur 18."


Gea jadi ingat, tentang pernikahan paksa itu. Dulu rasanya aneh menikahi kembaran sendiri. Sekarang setelah berpisah jadi lupa kalau mereka pernah jadi saudara kembar.

__ADS_1


Setelah itu, Gea ditinggal sendiri. Dia memilih menggeledah apa saja barang yang dibawa Gio didalam kopernya ini. Semua pakaian ternyata sudah digantung rapi dilemari lalu tersisa kaos oblong mungkin buat tidur. Lalu Gea perhatikan semua barang suaminya ini mewah dan branded semuanya.


"Gio yang sekarang jadi terlihat mewah. Beda dengan yang dulu lebih memilih tampil sederhana." Gea bicara sendiri membandingkan pria ini sekarang dengan yang dulu lewat barangnya.


Gea memilih kembali ke dapur untuk bekerja.


*


Seharian ini Gio sibuk, bahkan tidak sempat menghubungi Gea.


Gio pulang sudah larut malam, dia bingung antara ke hotel apa pulang ke rumah padahal sudah sampai pekarangan rumah.


Dia memutuskan untuk pergi ke hotel saja, tidak enak kalau harus membangunkan penghuni rumah.


Entah kenapa Gio merasa rumah itu asing baginya, saat berada didalam berasa seperti tamu. Mungkinkah efek dia terakhir kali pernah diusir dan pergi dari rumah itu.


pasti sudah tidur, pikirnya.


*


Paginya, Gio sudah bersiap untuk bekerja dengan stelan resminya. Max sudah datang menjelaskan jadwal hari ini apa saja.


Kemudian ada yang datang, seorang pegawai layanan kamar membawa sarapan.


Lalu ada Gea juga, tapi tidak ada senyum diwajahnya.

__ADS_1


Setelah selesai menyajikan pegawai hotel itu pergi.


"Max kamu juga keluar dulu." Gio menyuruh Max.


Begitu Max keluar, Gio langsung menerkam Gea.


"Kenapa tadi malam nggak pulang? " tanya Gea begitu Gio sudah puas dengan bibirnya itu.


"Gue capek. "


"Gue tahu, terus kenapa malah milih ke hotel? sedangkan lo punya rumah dan istri yang nunggu in lo. " Gea menahan emosinya.


Gio diam, dia bingung jawab apa.


Hanya bisa bilang, "Sorry, mungkin gue belum terbiasa. "


Kalimat Gio malah bikin dia tidak bisa menahan emosinya. "Belum terbiasa lo bilang? kita bahkan sudah menikah 9 tahunan. Jadi lo lupa kalau lo udah punya istri? apa selama ini lo hidup tanpa mengingat itu? pantesan lo selama ini nggak pernah pulang dan ngasih kabar. "


Gio nggak terima Gea meninggikan suaranya, " Lo yang nggak mau tahu tentang gue! jangan ngungkit lagi masalah itu Ban**at! " dengan lebih tinggi lagi.


Gea hanya menangis dibentak Gio. Dia memang salah tidak mendengarkan dulu tapi sikapnya tidak realistis, kenapa bisa belum terbiasa dengan hubungannya.


Gio bukanlah Gio yang masih remaja dulu, kalau habis marah lebih memilih pergi. Kini dia juga menyesal membuat istrinya ini menangis.


"Maaf, maafin gue." Dia memeluk erat Gea.

__ADS_1


Gea menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya itu.


"Sepertinya kita butuh quality time agar terbiasa. "


__ADS_2