
"Gea benar, aku mau jadi murid terkenal lebih baik menggunakan otakku.
Habis itu aku mendapatkan pujian saat menjuarai peringkat pertama di kelas dan sekolah karena nilai ku paling tinggi nyaris sempurna. Banyak yang memuja juga apalagi kaum hawa, beuh berasa jadi idol pokoknya.
Setelah itu aku masuk klub olimpiade matematika dan IPA. Nah disini ada kakak kelas cewek yang baik banget ngajarin aku nge bimbing aku agar bisa ikutan olimpiade. Dia cantik namanya kak Manda, anaknya yang punya kantin. Manda ternyata suka sama aku,yah ternyata dia juga sama kaya cewek yang lainnya yang terjerat pesona ku.
Kami suka menghabiskan waktu bersama, kadang jalan bareng kaya nongkrong di kafe lalu jalan ke mall dan nonton.
"Lo suka sama gue? " Tanya manda dengan malu-malu.
"Iya kak" Jawabku seadanya.
"Ya udah jangan panggil aku kakak"
Dia tersenyum mendekatiku.
Dan mencium bibirku, aduh padahal kami lagi di ruang klub olimpiade. Entar ada yang lihat gimana? Ya udah lah gue cuek aja lagian dapat yang enak kenapa ditolak.
Ketika lagi ciuman aku lihat jendela dan apa yang mata ini lihat, Gea lewat.
Waduh gawat, seketika aku melepaskan Manda. Dan berlari keluar ruangan itu.
Aku mengejar Gea, dia masih bisa aku tangkap.
Aku menariknya ke bawah tangga ketika dia hendak ke atas.
"Apa sih! " Gea menghempaskan tanganku.
"Lo lihat gue di ruangan olim tadi? " Gue penasaran apa dia sempat lihat pemandangan yang tidak baik tadi.
__ADS_1
"Lihat! Huh menjijikan! " Dia langsung pergi begitu saja.
Aku frustasi, imageku turun dong dimata Gea. Aku kejar lagi tapi malah ada siswa-siswa melintas. Duh, gawat aku harus gimana ini? Masa cewek yang aku suka lihat aku sedang ciuman sama cewek lain kan gila.
Aku memilih mengirim pesan. Yang isinya,
Gue sama kak Manda nggak ada apa-apa
Gea jawab,
Gue nggak peduli ngapain lo kasih tahu gue.
Sepulang sekolah, aku minta tolong Zico buat nganter Gea karena merasa nggak enak tadi.
"Anterin Gea pulang Zi. "
Nah kok sama kaya aku? deket sama kakak kelas, kak Manda.
Yang aku batin datang begitu Zico udah pergi.
"Hei Gio, pulang bareng yuk? Anterin aku pulang kebetulan ibu aku bakalan tutup sore soalnya ada ektra kelas 3." Manda ngajakin. Biasanya emang dia milih pulang ke kantin bareng ibunya.
"Ok"
"Kita berarti udah pacaran kan Gio? " Pertanyaannya yang bikin aku bingung.
"Kenapa kita pacaran kak? "
"Kita udah gituan tadi,terus saling suka? " Dia mendesak ku.
__ADS_1
"Sorry kak, gue emang suka sama lo. Tapi gue nggak bisa pacaran sama lo. " Kataku yang kemudian mendapatkan tamparan dari tangan cewek ini.
"Ba**ngan lo! " Dia ngatain aku dengan melotot. "Masih kecil aja udah jadi bre**s*k! "
Dia pergi, aku mengelus pipiku yang perih. Tidak aku sangka bakalan sakit ditampar cewek.
Terus aku harus gimana? Masa pacaran sama cewek yang nggak aku cinta.
Heh, mending nyamperin cewek yang aku cinta aja biar sembuh sakit ini.
Aku berhenti dengan motorku disebrang halte tempat Gea menunggu bis. Dia itu emang payah, padahal ada mobil tapi nggak bisa mengendarainya. Jadi susah sendirikan mesti naik angkutan umum.
*
Besoknya aku cerita ke Zico, Arya dan Bian soal gimana aku bisa ditampar sama Manda.
Semuanya tertawa.
"mampus! " tanggapan Arya
"Eh lo tahu nggak kenapa monas ujungnya emas? " tanya Bian entah kenapa dia nanya random.
"Ya mana aku tahu? "
"Kalau ujungnya nyakitin cewek itu elo! " Zico yang jawab.
Aku nggak Terima dong, diledekin mereka. "Heh, ngaca lo! Lo itu sama aja, Anj***! "
"Ya beda lah, kalau gue, gue pacarin dulu. Sedangkan elo? dicium digrepe-***** bilangnya suka tapi nggak mau jadian? wahhh bre***ek lo. " Zico membandingkan aku sama dirinya.
__ADS_1