
Gea semalam pulang langsung tidur, lagian juga agak malam. Mama dan papa sudah tidur.
Pagi ini Gea dikejutkan dengan pintu kamar depan kamarnya terbuka sedikit. Padahal sudah lama sekali kamar ini terkunci rapat. Gea membukanya,dan tidak terkunci. Lalu dia masuk kedalam, dan dia sangat terkejut akan sosok yang sedang tidur pulas ditempat tidur kamar itu.
"Mamaaaaa" teriak Gea.
Otomatis yang sedang tidur dihadapannya terbangun karena suara teriakan itu.
Mama yang di bawah dengar, lalu segera naik karena khawatir.
"Mama, kenapa Gio berubah jadi kecil? " tanya Gea begitu mama sudah berada dibelakangnya.
Mama lega tidak ada hal yang serius penyebab putrinya teriak.
"Hai" Anak kecil itu melambaikan tangan masih lemas karena ngantuk.
"Kirain ada apa Gea, ini itu Gerald. Adiknya Gio, jadi ya gitu mirip banget ya. " mama memperkenalkan Gerald.
"Hah? adiknya Gio? "
Mama memilih melanjutkan masak saja, karena tidak mau bercerita soal Gio yang pulang. Pokoknya kalau Gea tidak tanya mama tidak boleh memberitahu tentang Gio begitulah ultimatum dari putrinya tersebut sejak dulu.
Mama setahun lalu sudah pensiun jadi lebih banyak di rumah mengurus rumah, masak dan berkebun.
*
Sekarang mereka sarapan.
Gea masih tidak percaya kalau di hadapannya ini adik Gio. Wajah, hidung dan matanya mirip banget. Dia lalu membandingkan dengan foto keluarga yang ada diruang makan tersebut kebetulan ketika berfoto usia mereka sama kaya anak ini.
__ADS_1
"Tuh lihat ma, mereka mirip banget. Aku jadi curiga, kalau Gio pulang tapi mengecil. " ucap Gea menunjuk foto keluarga itu.
Gerald hanya geleng-geleng. "Emang gue conan bisa jadi kecil. Kebanyakan nonton film fantasi lo. "
"Heh nggak sopan! , songongnya sama kaya Gio juga tuh ma"
Gerald menghela nafas. "Pantesan abang Gio bilang kalau lo itu bego"
"Heh! begitu ya kalau bicara sama orang tua. Pasti yang ngajarin abang lo kan? nggak boleh kaya gitu bocil! "
Mama menengahi, melihat keributan mereka.
"Gerald sayang, siapa yang ngajarin ngomong bahasa Indonesia? " mama berkata lembut.
"Kakak dan mami. Biasanya Kak Gio yang ngajarin bahasa gaul Jakarta kalau mami yang dasarnya. " Gerald menjawab polos.
"Pantesan nggak bener gurunya aja Gio. " Gea menghela nafas panjang.
"eh, kalau mau makai lo-gue itu sama yang seumuran atau dibawah lo gitu. Kalau sama orang tua nggak boleh Gerald. " Gea memberi tahu
"Kak Gio tidak ngasih tahu soal itu" Gerald membela diri.
"Yahh serah, gue mau pergi dulu. Mama Gea berangkat ya? " Gea sudah selesai sarapan.
"Lo mending belajar lagi deh bahasa yang baik sama mama jangan sama abang lo itu. "
"Iya nanti mama ajari ya Gerald." mama menyanggupi.
Gerald senang banget.
__ADS_1
*
Gea mengemudikan mobil sendiri, dia sudah mahir setelah dulu ketika kuliah khursus mengemudi sesuai pesan Gio.
Gea dijalan baru memikirkan kenapa bisa ada anak kecil mirip banget sama Gio dan katanya adik Gio. Terus kakaknya mana? apa dia datang sendiri? aneh.
Ketika terus bergumam, telpon berbunyi dari Jihan.
Tiba di hotel,
Gea bergegas segera ke dapur, tadi kata asistennya itu kalau pagi ini ada tamu spesial yang mau makan masakan chef langsung tidak mau sous chef atau asistennya.
"Emang siapa sih tamunya masa harus saya? " Gea segera menggunakan apron jaketnya beserta face shield.
"Tidak tahu chef, tamunya menginap di kamar VVIP lalu katanya bule gitu. Terus secara khusus dia mau kepala chef yang memasaknya sendiri " jawab Jihan.
Gea segera membuat menu breakfast eropa,tanpa tanya dia bule dari mana. Lagian antara Eropa dan Amerika hampir sama juga.
"Jihan sudah memeriksa alergi nya?" Gea bertanya ditengah membuat makanan.
Memang selalu begitu, harus tahu alergen nya tamu. Terutama tamu VIP yang harus diperlakukan khusus.
"Tidak ada chef. " Jawab Jihan yang juga membantu atasannya ini.
"Ok"
Begitu sudah selesai Gea menghidangkan makanan yang isinya roti panggang dengan butter, selai kacang, daging panggang, waffle, kentang goreng, buah potong berisi apel dan pear, kopi dan susu.
"Sudah siap, panggil room service nya. "
__ADS_1
Jihan segera menelpon. Tak lama ada yang datang membawa troli tersebut.