
"Gimana Gio sudah memutuskan mau ambil kedokteran dimana? " Papa bertanya serius di tengah makan siang.
Gea yang kaget, karena dia nggak tahu kalau Gio bakalan mewujudkan cita-cita Gea waktu kecil. Jadi dulu Gea bercita-cita jadi dokter seperti mama. Kalau Gio dari dulu nggak mau jadi dokter, dia ingin menjadi pemain sepak bola. Tapi papa dan mama tidak setuju jadi sekolah sepak bola waktu ia SD kelas 6 diberhentikan sejak Gio bilang mau jadi pemain sepak bola profesional.
Mungkin karena sudah besar Gio berpikir kalau dia bisa jadi dokter dengan kemampuan otaknya.
"Entahlah, Gio belum tahu. Tadi sama wali kelas Gio ada tawaran lagi dari UB kemarin juga ada dari UGM. "jawab Gio.
"UI mungkin" mama mengusulkan. "Biar dekat rumah"
Jadi Gio dapat tawaran beasiswa dari kampus di jakarta, jogja dan malang.
Gea nggak nyangka Gio benar-benar hebat.
"Harvard" papa malah mengusulkan salah satu kampus terbaik dunia.
Yang bikin Gea tercengang.
"Itu yang paling menarik" Gio jawabnya santai.
Gea tambah terkejut lagi," Jadi lo mau kuliah di Amerika? itu jauh banget Gio"
"Itu dekat Gea,sehari nyampe" jawab Gio enteng.
Padahal hati Gea sudah nggak tenang, dan sedikit kecewa karena dia tidak pernah tahu sama sekali tentang ini. Tentang keputusan Gio mau jadi dokter dan bahkan niat kuliah di luar negri atau luar kota.
__ADS_1
"Kalau adek mau kuliah dimana? " sekarang Gea giliran yang ditanya.
Gea nggak tahu harus jawab dimana, karena dia belum pernah memikirkan itu.
"Gea nggak mau kuliah" pernyataan Gea membuat semuanya terkejut.
"Pemikiran macam apa itu" tanggapan papa.
"Gea males mikir, udah nggak mau belajar lagi."
"Terus mau ngapain? " papa kini serius.
"Gea sudah nikah, mau di rumah jadi ibu rumah tangga yang baik" Gea asal jawab karena memang itu yang terlintas.
"Sayang, papa dan mama menikahkan kamu itu bukan dengan tujuan itu. Ini demi keluarga kita, jadi kalau Gea menjadi putus asa begini kami jadi merasa bersalah." Mama yang cantik itu berbicara dengan anak gadisnya lembut. " Jangan sampai pernikahan kalian menjadi penghalang cita-cita kalian. "
Mama memeluk Gea.
"Adek harus kuliah nanti bisa ngambil management kalau lulus bisa bantu di kantor rumah sakit. "papa memutuskan.
Gea menggeleng, " aku nggak mau"
Gio nggak bisa berkomentar, karena dia tahu Gea sangat tertekan.
"Gea beda dari Gio, mendingan kalian fokus ke dia aja. Nggak usah ngurusin Gea kali ini. Tolong jangan ikut campur soal hidupku lagi. Cukup kalian memaksa Gea menikah di usia dini ini. Jadi soal kuliah atau tidak tolong jangan paksa Gea. " Gea makin menangis.
__ADS_1
Dia lalu keluar ruangan, bahkan berlari keluar restoran.
"Ada apa dengan Gea? " papa malah emosional karena perkataan Gea.
"Sudahlah pa, mungkin Gea asal bicara aja. Dia kadang nggak pikir panjang kalau bicara." Gio menjelaskan.
"Kamu kejar adek sana" Mama khawatir.
Gio mengangguk
"""""
Gio tidak menemukan Gea diluar restoran.
"Aish! kemana tu anak" Gio bermonolog.
Gio ke parkiran, tidak ada dan tanya orang tidak ada yang lihat.
"Duh Gea kemana sih lo" Gio mencoba menghubungi lewat HP.
Tidak ada jawaban, Gea tidak menjawab panggilan dari Gio.
Gea tadi langsung naik taksi, dia tidak punya tujuan. Selama ini dia jarang pergi keluar, hanya sekolah dan rumah.
Jadi Gea tetap memilih pulang ke rumah tempat ternyaman selama ini yaitu kamarnya.
__ADS_1
Dia hanya berpikir mereka akan memaksa Gea kalau tetap di sana tadi.