Menikahi Kembaranku

Menikahi Kembaranku
Episode 49 : Iya gue tahu


__ADS_3

Gio tahu, tidak ada tempat tujuan selain rumah buat Gea. Jadi dia langsung pulang mengendarai motornya.


Dan benar Gea sedang berada di kamarnya terbukti kamarnya terkunci dari dalam.


"Gea, lo didalam? bukain dong" Gio mengetuk pintu kamar Gea.


Gea langsung membukanya, padahal Gio sudah berpikir kalau Gea bakalan ngambek.


"Ngapain lo nyusulin gue? "


Gio nggak jawab, dia memilih masuk.


"Lo ngambek? " Gio tanya


"Enggak, gue cuma mau melarikan diri dari perasaan benci akan nasib gue sekarang. Gue nggak mau lagi dipaksa buat melakukan sesuatu apalagi ini soal hidup gue." jelas Gea


"Lo kalau ngomong pakai otak lo! " Gio sedikit ngegas.


"Lo mikir dong, mereka itu sudah membesarkan kita dan membiarkan kita hidup berkecukupan selama ini. Coba bayangkan kalau kita diadopsi sama orang selain mereka. Mungkin kita belum tentu mendapatkan kasih sayang melimpah dan hidup enak seperti saat ini. "


"Mereka nggak nuntut banyak, hanya menikahkan kita demi rumah sakit dan itu sudah kita bahas dulu. Tapi ternyata lo masih belum ikhlas sama pernikahan kita ini. Dan soal kuliah, mereka cuma mau kita punya masa depan cerah meraih mimpi yang kita cita-cita kan. Mereka sayang banget sama kita Gea" Gio bicara panjang lebar.

__ADS_1


"Iya gue tahu, gue tahu mereka sangat sayang sama kita" Gea paham dan memberi tanggapan.


"Gue cuma nggak mau kuliah, gue sadar kalau gue kuliah tidak akan sanggup. "


"Yakan belum lo coba, ya emang sih otak lo mungkin capek kalau buat mikir. Oh, ya belum tentu lo lulus juga" di akhir kalimat bercandain Gea.


Gea melotot, bisa-bisanya bercanda dalam mode serius ini.


"Sialan lo! "


Gio mengecup bibir Gea, lebih tepatnya dia mencurinya.


"Nyebelin! " Gea memukul lengan Gio.


Gio pura-pura sakit. " Anj***"


"Habisnya lo juga nyebelin, nggak bilang ke gue kalau mau jadi dokter" Gea kini sudah lebih tenang.


"Pernah,gue pernah bilang ke elo, dulu." Gio mulai mengingat.


Gea nggak ingat sama sekali.

__ADS_1


"Itu cita-cita lo sejak kecil, dan gue pernah bilang kalau gue janji akan mewujudkannya kalau lo nggak bisa jadi dokter gue akan jadi dokter menggantikan lo. " Gio mengingatkan.


"Dan lo mau nge relakan cita-cita lo demi cita-cita konyol anak SD yang tidak kesampaian? " Gea menanggapi.


Gio kini mengajak Gea duduk di atas tempat tidur biar enak ngobrolnya sambil duduk, kan pegel berdiri mulu.


"Entahlah gue rasa gue udah jatuh cinta sama elo sejak kecil" Gio sok romantis nggak jelas.


"Apaan, kalau lo itu beneran cinta sama gue,seharusnya lo itu sudah bertekuk lutut dan bucin abis sama gue. Lah lo malah selalu ngata-ngatain gue dan kadang dingin bahkan galak sama gue."


"Itu bukan gue banget. Dan juga emang lo nya ngeselin juga. Bisa gitu ya deket sama cowok lain padahal udah punya suami yang ganteng gini" Gio diakhirnya kalimat confident tingkat tinggi.


"Gue nggak deket cuma pulang bareng. Udah deh malah bahas itu random sekali bapak ini" Gea jadi kesel.


Gio mengecup bibir Gea lagi. Entahlah ini tidak bisa ditolak Gea, padahal ini seharusnya bikin dia kesal justru hatinya bergetar.


"Coba kita temukan apa yang bisa lo lakuin dengan otak lo ini" Gio masih menyinggung masalah otak.


Gea yang tadinya hatinya bergetar kini jadi sebel lagi berkat mulut pedas suaminya ini.


"Pergi sana lo! katanya mau kerja. Gue mau tidur, dah sana pergi! " usir Gea.

__ADS_1


__ADS_2