Menikahi Kembaranku

Menikahi Kembaranku
Episode 46 : Tepe


__ADS_3

Katanya cuma mau bertemu pak Ridho nyatanya Gio sekarang sibuk main basket bersama teman-temannya.


Terpaksa Gea nyamperin.


Gea duduk di pinggir lapangan basket sendiri. Dari kelas-kelas junior mereka pada ngintip dari jendela karena apalagi kalau bukan untuk melihat gerombolan visual kakak kelas 3 sekolah ini main basket.


Gea muak dengan pemandangan ini, selalu begitu. Gio di manapun selalu dipuja dan dipuji. Walaupun itu memang pantas buat dia karena memang Gio paket komplit sebagai manusia. Dia bisa semuanya termasuk basket ini.


"Wah ada Gea" Zico yang lagi main tiba-tiba menghampiri.


"Pergi lo! gue nggak mood bercanda" bentak Gea.


"Galak amat" Zico malah duduk di samping Gea. Bukan Zico namanya kalau nggak ngebangkang.


Gea membiarkannya, lagi pula ini cuma Zico.


"Lo pilih dia jadi saudara lo apa suami lo? " pertanyaan Zico seakan tahu kalau Gea sedang dilema akan itu.


"Gue pilih nggak kenal dia,lo lihat deh tingkahnya. Dia berlagak biar para adik kelas kejer tuh.Kerjaannya selalu tepe terus. " Gea jawab sambil melihat Gio yang masih berlari lalu mendribel bola dengan kemeja dibuka kancingnya dan terlihat kaos hitam. Dengan keringat terus bercucuran.


Bahkan setelah memasukkan bola kedalam keranjang dia selebrasi dengan memberikan melambaikan tangan pada adik kelas yang ada di lantai atas. Yang langsung salting.


Zico tertawa terbahak-bahak mendengar Gea.


Melihat Gea bersama Zico tertawa, Gio jadi terusik. Bagaimanapun Zico pernah bilang juga suka Gea, jadi dia tidak mau membiarkan ini.


"Mau pulang sekarang? " tanya Gio langsung, lalu duduk didepan Gea selonjoran sambil minum air mineral.


Dan kemudian air yang tersisa ia siram ke kepalanya. Rambutnya yang sudah basah bertambah basah lagi. Nyebelinnya ia kibaskan hingga mengenai Gea dan Zico.


"Iiih! " Gea mengeluh.

__ADS_1


"Ayo pulang, jangan dekat-dekat kadal entar lo dikadalin" Gio menarik tangan Gea meninggalkan Zico yang hanya bisa nyengir.


"Anj***! lo" Zico ngumpat.


"Kasian gue, lepas dari kadal ditanggap buaya" Gea menyindir.


Gio menyentil kepala Gea. " Buaya itu setia sama pasangannya. Jadi bersyukur lo dapetin gue"


🐊🐊🐊🐊


Gio melepas kemejanya di mobil.


"Aduh panas banget" Gio melepas juga kaos hitamnya. Tanpa bertanya pendapat Gea boleh enggaknya.


"Sebentar aja ya lo nanti masuk angin kalau jalanin mobil telanjang dada" Gea langsung merespon tanpa ditanya.


Meski sudah sering Gea melihat Gio telanjang dada, kini terlihat lain.


Gea melihat itu semua, dia bahkan menelan ludahnya. Jadi dia nggak yakin kalau Gio ini ia anggap saudaranya saja.


"Napa lo? "


Gea menggelengkan kepala dan memalingkan wajahnya ke sisi lain.


"Ayo cepetan pulang gue mau tidur nih" Gea mengalihkan perhatian.


"Widih, malah ngajakin tidur siang-siang gini. " Gio menggoda.


"Omes lagi ini anak, ih" Gea menggerutu.


"Otak lo tuh! "

__ADS_1


Gio menahan tawanya. Dia masih mau menjaga image tetap cool.


*


Tiba di lampu merah pertama, Gio hendak memakai kosnya.


"Kok basah gini." Gio malah melemparkannya ke jog belakang.


"lah nggak dipake? " Gea heran,sampai lampu hijau sudah menyala.


"Bajunya basah, udahlah gue nggak papa kok kaya gini" jawab Gio santai sambil terus mengemudi dengan fokus menatap ke depan.


Batin Gea tidak baik-baik saja.


"Habis ini lo kerja? " Gea mengalihkan perhatiannya.


"Hem"


"Lo kerjanya ngapain sih? "


"Bantuin di sana" jawabnya datar.


"Nggak mau di rumah aja gitu? nyantai aja kali. "


"Gue nyantai di sana" masih datar.


"Kok nyantai emang kerja apaan?"


"Bisa diem nggak lo! jangan kelihatan goblok lo kalau beneran bodoh. Lo nggak pernah ke rumah sakit? lo nggak tahu mereka ngapain aja? " Dengan nada tinggi.


Gea sampai menahan air matanya, Gio selalu bilang seperti itu tapi setiap kali juga dia harus tetap baik-baik saja karena memang itu benar.

__ADS_1


Habis itu mereka diam hingga sampai rumah.


__ADS_2