
Gio keluar kamar Gea degan membanting pintu kamar tersebut.
Brakk
Terdengar dari bawah oleh mama dan papa kebetulan pulang lebih cepat.
"Astaga pa, mereka ribut lagi. " Mama mengelus dada.
"Udah biarin aja entar juga baikan sendiri" papa yang lebih tenang.
"Semenjak mereka nikah malah ribut terus, mama jadi khawatir. "
"Sejak kecil juga mereka sering ribut, mereka cuma ribut kecil saling salah paham seperti biasanya pastinya. Sudahlah kita jangan ikut campur" papa menenangkan.
Mama menghela nafas, "Ya kan biasanya kita damaikan mereka nah sekarang mereka sudah berumah tangga jadi kita nggak bisa ikut campur. Mama malah jadi lebih khawatir"
"Yang penting mereka tidak terluka secara fisik, sudahlah mama jangan khawatir. Papa percaya sama Gio"
Lalu yang disebut namanya turun.
"Loh papa sudah pulang, baru Gio mau ke rumah sakit nyusul papa" Gio terkejut karena niatnya emang dia mau bekerja.
"Papa mau istirahat aja di rumah agak capek, kamu kesana aja." papa menjelaskan alasannya.
Gio tersenyum dan mengangguk.
"Kalian ribut lagi? " mama nggak tahan kalau nggak nanya.
"Oh, biasanya anak mama itu manjanya kumat. Gio mah cuma menggertak dia. Jangan khawatir ma." Gio menjelaskan tanpa memberitahu masalahnya. " Sudah ya ma, pa Gio berangkat dulu. "
Gio berangkat ke kantor rumah sakit. Dia di sana belum mempunyai posisi tetap hanya sebagai pembantu admin saja. Kadang membantu pekerjaan papanya atau sekertaris papanya bahkan membantu menjadi resepsionis yang sedang libur juga.
__ADS_1
***
Setiba di rumah sakit Gio selalu menemui sekertaris papanya dulu.
Dan para suster dan staf akan senang melihatnya.
"Si ganteng kerja"komen mereka.
"Siang bu Indi" Gio menemui bu Indi sekertaris papanya.
Bu Indi padahal masih berumur 30an tapi dia suka dipanggil ibu.
"Eh ada mas Gio. Tapi kerjaan saya bisa saya kerjain sendiri mas, cuma nyusun laporan buat rapat besok habis ini saya malah mau pulang" bu Indi menjelaskan sebelum Gio bertanya.
Ini memang sudah jam 2 an.
"Oh bagus dong, papa aja udah pulang duluan" Gio tersenyum.
"Gio masih sekolah bu, jadi belum sepenuhnya meluangkan waktu buat kerja. Habis ini juga kuliah jadi akan sangat repot kalau saya diberi posisi tetap. " Gio menjelaskan pada ibu satu anak ini.
Bu Indi setuju, "Padahal kamu kayanya bisa loh menduduki salah satu jabatan disini. " tapi tetap memberikan pendapatnya.
"Ah bu Indi, Gio masih kecil loh"
"Kecil tapi udah nikah. " Bu Indi bergurau.
Gio tertawa.
"Ya udah, Gio ke depan aja kalau gitu"
"Wao, itu kesukaan para suster kalau kamu didepan" bu Indi masih bercanda.
__ADS_1
Dan benar kalau Gio membantu di bagian resepsionis para suster pada suka.
"Wah, pencuci mata datang nih" komen mereka.
Gio nampak malu-malu nggak jelas kalau digodain para suster.
""""
"Eh mas ganteng, senengnya mas kesini" itu kata staf resepsionis bernama Silvi.
"Bisa aku bantu kan mbak"
Silvi tersenyum, "Bisa banget, kebetulan hari ini ada banyak pasien dari rumah sakit daerah yang pindah kesini. Kebetulan rumah sakitnya habis kebakaran"
Gio tak lupa memakai masker.
"Nggak usah pakai juga nggak papa mas, kan biar pasien langsung sembuh kalau lihat mas Gio" Silvi bercanda sambil menggoda.
"Mbak ini bisa aja" Gio berusaha tertawa garing.
Dengan bekerja Gio sedikit bisa melupakan emosinya mengahadapi istrinya tadi.
"Mas masih SMA kok mau kerja?" tanya Silvi di tengah jam kerja mereka.
"Iya karena kebutuhan" jawab Gio
Silvi tertawa karena menurutnya itu bercanda. Yang tahu kalau Gio sudah nikah cuma staf jabatan tinggi. " Kamu ini bisa aja, mas mas. Pasti karena disuruh pak direktur kan? Tapi aku salut dan kagum biasanya anak orang kaya cuma hobinya menghabiskan duit bapaknya. Lah mas Gio ini udah ganteng, ganteng banget malahan eh mau bekerja juga"
Gio cuma senyum, " jangan dipuji terus mbak"
"Ya emang gitu, jadi nanti kalau mas Gio udah jadi direktur rumah sakit ini jangan lupakan aku ya mas." Silvi asal bicara. " Dan seandainya mas Gio seumuran sama aku, akan aku goda mas Gio biar mau sama aku"
__ADS_1
Gio kadang muak dengan kata-kata para cewek yang menggodanya hanya karena dia ganteng.