
Gea pulang dan sudah ada Gio sudah cekikikan dengan Gerald di ruang tengah sambil main ps.
Cowok ini berbeda kalau lagi sama adiknya, kewibawaan yang dia tunjukkan di kantor hilang deh kalau lagi mode main game.
"Eh, kak Gea udah pulang?" Gerald menyapa.
Gea datar melihat sekilas lalu lempeng aja memilih naik ke atas masuk kamar,apalagi lihat pria disamping Gerald itu rasanya sebel banget.
Gio menyusul melangkah cepat sampai dua anak tangga untuk satu langkah.
"Nggak nyangka lo sekarang ngambekan, seharusnya gue yang ngambek. " Gio masuk kamar sebelum tertutup.
"Gue capek, nggak mau berdebat. Pergi lo! " usir Gea.
"Lah,aneh"
Gea mendorong Gio keluar tapi karena memang kekuatannya tidak sebanding alias nggak kuat ya udah nggak bisa pindah pria itu.
"Hidih lemah" ledek Gio.
Gea nyerah, percuma juga. Dia lebih baik masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Gio tetap nunggu sampai selesai.
"Ngapain lo masih disini, keluar nggak gue mau pake baju" sentak Gea.
Gio cuma menikmati pemandangan seksi ini, Gea cuma pakai handuk doang.
"Gue udah pernah lihat semua kale, pake ya pake aja. Atau nggak usah pake juga nggak masalah. "
"Keenakan lo" Gea melengos, menyahut baju lalu masuk kamar mandi lagi.
__ADS_1
Begitu keluar Gio sudah rebahan, memejamkan mata.
Gea memakai ritual skincare malamnya, tidak menghiraukan pria itu.
"Kalian pernah ada hubungan ya dulu ketika gue ada di Amerika, dan gue yakin lo selama ini pasti mempunyai pacar atau sejenisnya karena merasa lo itu janda. " Gio tiba-tiba bilang gitu.
Gea naik ke atas tempat tidur.
"Nggak ada, nggak pernah ada. Selama 28 tahun gue hidup,lo doang!.Lo doang sejak kecil hingga sekarang yang ada dihidup gue. Lo doang yang bikin gue jatuh cinta, dan lo doang yang bikin gue sakit hati. Ampe enek gue!. "
"Ck, lo mau gombalin gue? " nyengir menggoda.
Gea menghela nafas sebal, lebih memilih tidur saja disebalah cowok itu.
"Tapi tadi lo salah ya" Gio miring kesamping.
"Gue udah minta maaf. " memakai selimut.
Gea diam, matanya terpejam tapi tidak tidur.
Tadi ia sudah memikirkan tentang kehidupan pernikahannya ini. Mau nggak mau memang harus menerima Gio dengan tempramental dia yang nggak pernah berubah. Tidak bisa ia hindari memang sudah takdirnya dia menjadi istri seorang Gio.
Rasanya kalau boleh ditukar sama Jin BTS dia tukar deh.
Tapi ya udah ia harus menerima iblis bukan Jin.
"Ayo kita umumkan pernikahan kita secepatnya, gue akan ikhlas jadi istri lo. " Gea mengucap dengan berat
"Lah emang lo selama ini nggak ikhlas jadi istri gue? " Gio yang tadinya mau tidur bangun melek lagi.
"Nggak, nggak pernah sama sekali, kita dulu nikah paksa kalau lo inget. " Gea mempertegas.
__ADS_1
Gio diam, benar kata Gea mereka dulu terpaksa menikah. Tapi tidak dengan dirinya dia senang akan pernikahan ini sejak awal. Karena Gea adalah cintanya sejak dulu beda dengan Gea yang hanya menganggap dirinya saudara kembarnya.
"Setelah proses pergantian nama hotel Rose menjadi hotel Wi rencananya kita gelar pesta disana sekalian. " Gio menjelaskan rencananya.
Gea jadi kepikiran soal Haidar tadi.
"Pak Haidar tadi juga curhat masalah pergantian nama itu, dia sepertinya nggak rela. Kasihan dia. "
"Dia ngapain curhat ke elo? tuh kan kalian beneran dekat? "
"Tidak, mungkin nyaman aja curhat ke gue"
Gio malah sesak dadanya mendengar itu.
"Jauhin dia, dia pasti naksir elo tuh? "
"Emang"
Gio dibikin frustasi akan jawaban istri nya ini.
"Kalian ada hubungan? "
"Dia itu punya istri, ya kali gue jadi pelakor. Emang nggak ada kerjaan, heran deh pertanyaan lo nggak ngotak. " Gea menyingkuri pria itu, dia capek berdebat sedari tadi.
Gio memeluknya dari belakang, tangannya?ya berjelajah.
"GIO!!! TANGAN LO BISA DIEM NGGAK!! "
Seketika tangan Gio membungkam mulut cewek ini.
"Fik, besok kita pindah rumah! " Gio tegas.
__ADS_1