
Gea diwanti-wanti tidak boleh keluar rumah. Jadi dia bingung mau mencari dimana cowok itu.
Akhirnya dia punya ide di kepalanya minta tolong pada papi Mark.
Gea menelpon, lalu menceritakan semuanya pada ayah kandung Gio tersebut. Padahal besok adalah hari pernikahan dia dan mami Vero.
"Baik, nanti papi coba cari Gio ya. Kamu tenang saja, Gio pasti baik-baik saja. "
*
Gea membujuk papa agar membiarkan dia keluar mencari Gio.
"Dia sudah besar, nanti juga pulang sendiri. "
"Papa nggak sadar kalau udah ngusir Gio? "
"Kamu juga mau melawan papa? "Papa emosi lagi.
"Tidak papa, Gio emang salah. Tapi papa jangan emosional pa, sampai harus mengungkit Gio anak pungut anak yang bla bla. Gea nggak berani mengucap nya. Rasanya Gea juga papa katain, karna Gea juga anak angkat papa yang nggak ada gunanya. "
"Kamu anak baik, tidak pernah nakal kaya Gio. Itu karena kamu anak kami, kamu yang mama susuin jadi gen kami masuk ke tubuhmu. Sedangkan brandalan itu? Cuma pintar disekolah aja bangga, tapi sifatnya kaya preman. Kamu tahu kan dia bahkan punya geng? "
"Gio nggak kaya gitu pa, Gio nggak ikut geng-gengan gitu pa. Mereka cuma bersahabat pa. "
"Papa tahu selama ini, tapi papa diam karena tidak mempengaruhi nilai Gio. Jadi papa memilih diam. "
"Gio nggak ikut pa"
"Sudahlah, jangan membela anak itu." Papa dengan nada tinggi.
padahal selama ini Gea tidak pernah sekalipun dibentak. biasanya Gio yang selalu didisplinkan oleh papa. baginya karena Gio anak laki-laki jadi harus keras.
__ADS_1
"Maaf pa" Gea menangis.
Papa sadar dia menyakiti putrinya itu, lalu memeluknya.
"Sudah ya, papa sedang kecewa. Rumah sakit bangkrut. Papa pusing sekali, banyak yang harus papa urus. Jadi jangan ganggu papa, dan jangan melawan papa ya sayang. "
*
Ternyata Gio hanya diam diri di depan markas, tidak ada tempat selain ini. Namun, pintu dikunci yang bawa kunci Zico,dia baru ingat kalau anak itu sekarang sedang berlibur ke Paris.
Gio melihat HP beberapa panggilan dari Gea dan pesan ia abaikan.
Hingga langit sore meggelap Gio masih disitu, dia bahkan seperti berharap Gea akan datang menyusulnya. Namun, hingga hujan jatuh dia tidak datang.
"Bangsat! Drama banget hidup gue. Bahkan gue harus kehujanan dipinggir jalan kaya gini. " Gio meratapi nasibnya.
Lalu ada mobil van hitam berhenti tepat di depan Gio.
Sang sopir turun dulu dengan payung,lalu membuka pintu belakang.
Papi
Gio tidak berharap papi menemukan dia dengan keadaan menyedihkan seperti ini.
"Ayo masuk, kamu bisa sakit Gio! " Papi mengajak Gio masuk ke dalam mobil.
"Pergi!, Gio baik-baik aja" Sinis Gio.
"Bawa dia! " Papi masuk mobil.
Lalu ada dua orang keluar dari mobil menarik Gio seketika.
__ADS_1
Kekuatan dua pria ini sangat kuat, Gio meronta-ronta tapi tidak dilepaskan malah semakin kuat.
Gio berhasil dimasukkan kedalam mobil.
Dia duduk di samping papi. Sedangkan pria yang satu duduk di depan yang satu lagi membawa motor Gio.
"Kenapa kaya anak bodoh diam di pinggir jalan? Bukannya kamu punya orang tua punya rumah? Kami siap menerimamu kapan saja. Kalau kamu pergi dari rumah pak Dion seharusnya kamu pulang ke rumah papi. " Papi sedikit memarahi Gio.
Gio diam, dia malas berbicara soal ini.
Papi mengamati Gio yang basah lalu meminta handuk pada satu pengawalnya yang ada di depan. Segera mengelapkan ke kepala Gio.
"Aku bisa sendiri" Gio menyahut handuk itu.
*
Meraka membawa Gio ke hotel W. Memang Mark tinggal disana selama ada di indonesia.
Hotel itu juga menjadi lokasi pernikahan papi dan mami besok jadi sudah dihias dengan indahnya tidak seperti terakhir kali Gio ke sini
Gio hanya mengikuti papi, dia pasrah karena memang tidak ada tempat tujuan lagi. Mungkin ini adalah yang terbaik buat dia.
Papi membuka kamar dengan bantuan asistennya.
"Kamu istirahat disini, kamar papi di sebelah." Papi memberi tahu. " Ini Ben, asisten papi kalau kamu perlu apa-apa panggil dia. Ben, dia Gio anakku."
Yang namanya Ben membungkuk sedikit, "baik tuan. Senang bertemu dengan anda tuan Gio. "
Gio hanya tersenyum miring, "ya, gue juga"
Lalu masuk kamar.
__ADS_1
"Dia memang rada songong, jadi jangan tersinggung ya Ben" Papi memberi pengertian.
"Tidak tuan, dia mirip dengan anda. Saya yakin dia punya sisi baik. " Ben pengertian.