
"Happy birthday adek" mama dan papa kompak saat memberi surprise ke Gea ditengah malam.
Gea yang dibangunkan dengan ektrim langsung kaget dan bangun. Bagaimana tidak Gio membunyikan trompet tepat di telinga Gea.
"Ah, Gio! " teriak Gea seketika ketika bangun tapi tetap duduk di kasurnya dengan selimut masih di badannya.
"Sayang, selamat ya" mama memeluk putrinya itu.
Lalu disusul papa dengan ucapan yang sama.
Mama menyodorkan kue untuk ditiup lilinnya. Dan Gea segera meniupnya.
"Kadonya mana? " Gea manja.
"Ada itu dibawah nanti aja kamu lihat ya" yang jawab mama.
"Ini dari gue" Gio memberikan sebuah kotak besar ke Gea. " and happy birthday my wife"
Mama dan papa menyoraki.
"Aneh banget denger kata my wife" Gea menerima kotak itu. "Ini apaan gede banget"
Lalu HP mama yang selalu dikantong bunyi, segera ia angkat dan ternyata panggilan ada operasi darurat.
"Masa nggak ada dokter lain ma? " bantah Papa yang habis dapat kabar dari mama.
"Nggak ada, yang lain juga lagi operasi. Ini kalau nggak segera kasian bayinya." mama panik.
"Sudah mama dan papa pergi aja. Gea nggak papa kok" Gea menyarankan.
Lalu mama dan papa pergi. Kalau ada operasi malam kaya gini, papa selalu menemani mama.
Kini tinggal Gea sama Gio aja.
Gea turun menyingkap selimutnya, karena biar bebas membuka kado dari Gio dan niat mau makan kue yang tergeletak di meja.
"Gue buka ya" Gea penasaran.
__ADS_1
Entah kenapa Gio malah berbalik badan.
"Buka aja, gue mau balik kamar. " kalimatnya bergetar.
"Lo kok gue ditinggal sendiri? lo nggak mau makan kuenya? "
"Nggak, udah kenyang" tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
"Kenapa sih lo? beneran kenyang? biasanya lo paling suka kue. "
"Baiklah, ayo kita makan kue. Gue tunggu dibawah. Lo pakai bh dulu! " ternyata Gea tidak pakai bh dan hanya menggunakan kaos yang ngejiplak bentuk dadanya.
Gea kaget, dan seketika menutupi dadanya. "Hah, sorry gue lupa. Untung aja tadi masih gue bungkus selimut jadi mama papa nggak lihat."
"Cepetan gue tunggu"
Gea malah tertawa melihat salah tingkah Gio.
Setelah memakai bh, Gea langsung turun dengan membawa kado dari Gio.
"Makan aja, kenapa nggak dipotong?" Gea membangunkan lamunan Gio.
Gio memberikan pisau kue ke Gea, dan langsung Gea potong dia irisan.
"Aneh ya kita ulang tahun nggak barengan. Biasanya tukeran kado, eh sekarang beda" Gea memakan kue.
Gio juga
" Buka aja kadonya"
Gea yang antusias langsung membuka kado besar tersebut. Tapi ternyata didalamnya ada kotak lagi dan lagi dan lagi hingga kecil kotaknya. Itu bikin Gea naik darah, karena dikerjain Gio.
"Lo tahukan ini nyampah? " Gea menggerutu setelah kotak ke tujuh baru tidak ada lagi.
Gio hanya tertawa.
"Ini apaan? kecil banget? " Gea ingin membukanya. Dan dibukanya hadiah tersebut.
__ADS_1
Sebuah cincin berlian.
"Cincin? bukannya kita udah punya cincin nikah. Yah walau belum bisa kita pakai. " Gea penasaran.
"Bagus nggak? "
Gea mengeluarkan dari kotak, "Bagus, ini lebih sederhana dan manis."
"Ini cincin dari gue, kemarin pas nikahkan yang beli papa dan mama" Gio menunjuk cincin tersebut.
"Sama aja, lo emang punya uang sendiri? "
"Punya dong, gue kadang bantuin papa kerja dan gue dapet gaji juga." jelas Gio.
Selama ini Gea nggak tahu tentang itu.
"Makasih Gio, tumben lo manis banget" Gea tersenyum.
"Dipakai dong"
"Emang boleh? "
"Boleh, biar semua tahu lo itu milik gue" Gio menggebu.
Gea malah kaget, "Bakalan ribet nanti jelasinnya Gio sama temen-temen gue kalau gue ketahuan pakai cincin"
"Ini itu desainnya sederhana dan nggak kelihatan cincin mewah jadi lo pakai dijari tengah aja kaya cincin biasa." Gio ngotot.
"Pakein" Gea manja.
Gio tersenyum, lalu memakaikan cincin itu kejari Gea. Dan mengecup punggung tangan Gea dengan manis.
"Biar apa coba nyium tangan gue" Bukannya melting malah nggak jelas.
"Ya udah cium bibir aja" Gio bercanda. Tapi dalam hati beneran.
"Cium tuh kue! "
__ADS_1