
Sampai rumah.
"Bawain baju gue, gue mau langsung mandi" perintah Gio kemudian keluar dari mobil masuk rumah.
Gea hanya menghela nafas. Sambil memungut kemeja dan kaos Gio di jog belakang.
Begitu masuk ia langsung membawa pakaian kotor itu ke keranjang cucian kotor.
Kemudian masuk kamar dan merebahkan diri.
Setengah jam kemudian Gio masuk kamar Gea.
"Ayo, hari ini papa ngajak makan siang diluar." katanya begitu membuka pintu.
"Lo belum ganti? " melihat Gea yang masih berpakaian sekolah sedikit emosi.
"Lah lo nya nggak bilang" Gea duduk.
"Gue kira papa ngasih tahu lo juga" Gio berdiri dihadapan Gea. " Ya udah cepetan!"
Gea bangun,membuka lemarinya.
"Udah laper gue" Gio ngomong lagi.
"Katanya lo mau kerja? " Gea malah nanya.
"Habis makan siang"
Gea tetap diam, tidak segera ganti baju. Menatap Gio agar dia segera keluar biar dia bisa ganti baju.
"Ribet amat mau ganti, pasangan normal mah bisa ganti baju depan pasangannya. " Gio peka kalau Gea ingin dia keluar. Jadi dia dengan cepat keluar kamar Gea.
"""
Gea turun sudah rapi menggunakan blouse dan rok jeans pendek, Gio sudah menunggu diruang tamu.
__ADS_1
"Kenapa pakai rok pendek, lo mau pamer paha?" Gio yang tadinya duduk langsung berdiri.
"Iya,gue pamerin ke elo" Gea mencibir kan bibirnya.
"Gue mau pakai motor, udah lama gue nggak motoran gara-gara lo." Gio menjelaskan bagaimana dia akan memilih alat transformasi.
"Ya udah nggak masalah. " Gea nggak peduli mau dia pakai motor atau mobil.
Gio menghela nafas panjang, "Cepetan ganti! , gue nggak mau ribet cuma perkara rok pendek paha kelihatan."
Gea cemberut, " Lo tu yang ribet! "
"Cepetan! " Gio dengan menaikkan suaranya.
Gea terpaksa harus ganti.
***
Gea sudah mengganti rok dengan celana panjang.
Gea nggak mau banyak ngomong, dia langsung duduk dibelakang Gio.
Mereka sampai di restoran tidak sampai seperempat jam. Karena tidak begitu jauh juga Gio mengendarai dengan cepat.
"Kenapa cemberut itu bibir adek? " Mama bertanya saat keduanya sudah sampai.
"Laper kali" jawab Gio asal sambil meletakkan pantatnya di lantai.
Jadi restoran ini lesehan dan mereka menempati ruangan private.
Gea tidak jawab, dia memilih menyenderkan badanya ke bahu mamanya.
"Hampir mau mati Gea ma, tadi Gio mengendarai motor kenceng banget. " Gea mengadu dengan manjanya ke mama.
Papa yang denger seketika melotot pada anak laki-laki nya." Kalian pakai motor? Duh Gio, kan sudah papa bilang kalau sama adek itu bawa mobil. Kalau pakai motor itu kalau kamu sedang sendiri. "
__ADS_1
"Gea aja yang lebay, padahal Gio biasa aja. Jangan cepu lo" Gio malah menatap Gea yang menjulurkan lidah padanya.
"Gio, yang papa bilang denger? " mama yang bijak selalu dengan nada anggun.
"Maaf, jalanan kalau jam-jam gini macet. Kalau pakai mobil bisa entar sore nyampek nya. Dan Gio sudah kelaparan. " Akhirnya Gio membuat alasan yang dapat diterima.
Tak berapa lama makan siang datang. Dengan menu ikan bakar dan segala perlengkapannya.
Gio seketika langsung mencicipi ikan bakar itu.
"Ih jorok, belum cuci tangan juga! " Gea memukul tangan Gio.
Gio cuek, dia tetap memakan potongan ikan tersebut.
"Enak, kaya masakan lo." Gio mengkomentari.
"Enakan masaka gue kali"
"Yah baiklah, cuma itu keahlian lo. Yang lain nol besar. " Gio mamang mengakui masakan Gea enak banget.
"Mulai, mulai" Gea sudah berpikir kalau cowok ini akan menghinanya lagi.
"Papa, Gio itu selalu ngatain Gea loh pa. " Gea mengadu.
"Cepu" Gio tidak menyangka Gea akan mengadukan perilakunya pada papanya.
"Emang ngatain apa mas Gio? " papa menanggapi sambil mulai makan.
"Ya pokoknya A sampai Z, Yang paling sering G alias B. " Gea ngadu nya pakai inisial.
Gio yang dengar antara mau tertawa atau tidak. Dan akhirnya dia memilih tertawa saja.
"Apa aja A sampai Z? ada-ada aja tingkah kalian sama kaya waktu SD" papa malah menanggapi demikian.
"Ish, papa. Jadi papa kira Gea kaya anak kecil" Gea merajuk.
__ADS_1
"Maksud papa itu, kalian udah gede udah nikah jadi nggak perlu ngadu ke kita kalau masalahnya bisa diatasi kalian berdua. " mama yang menjelaskan.