Menikahi Kembaranku

Menikahi Kembaranku
Episode 14 : Surat wasiat


__ADS_3

Gea dan Gio meresapi kenyataan ini mereka harus menerimanya. Yang paling terpukul adalah Gea. Dia masih menangis sejak tadi bahkan sampai pindah ke kamarnya masih nangis.


"Ge, sudahlah kita nggak usah sedih. Lagian mereka tetap orang tua kita,apa pentingnya kandung atau bukan. Kita tetap keluarga" Gio menenangkan Gea.


"Lo nggak sedih? "


"Apa kesedihan harus ditunjukan. Kita harusnya berterima kasih sama mereka karena mereka sudah baik banget mau merawat kita. " Gio berusaha memberi pengertian.


Mama dan papa ke kamar Gea.


"Sayang, jangan nangis terus. " mama memeluk Gea.


Lama kelamaan Gea tenang.


"Maaf, Gea hanya syok.Gea sangat berterima kasih sama kalian karena menerima Gea jadi anak kalian"


Gio juga berterima kasih.


Lalu mereka berempat berpelukan.


Dirasa sudah tenang papa menyerahkan berkas lagi.

__ADS_1


"Ini alasan kami memberi tahu kalian kenyataan kalau kalian bukan anak kembar. Ini adalah ini surat wasiat nenek sebelum meninggal. " papa menjelaskan.


Perasaan Gea tidak baik,dia tidak mau menerima berkas itu. Sedangkan Gio yang lebih kuat menerimanya.


"Apa ini pa? " tanya Gio sambil membuka wasiat nenek mereka yang sudah meninggal sekitar satu setengah tahun yang lalu.


Disitu dijelaskan bahwa warisan yang ditinggalkan nenek untuk papa berupa rumah sakit bisa dimiliki kalau dia sudah menikahkan Gio dan Gea. Jadi mereka berdua bisa mewarisi setelahnya. Kalau mereka tidak menikah hartanya akan disumbangkan. Rumah sakit akan dijual dan dananya akan didonasikan kepada yang membutuhkan.


Gea ikut membaca karena melihat ekspresi Gio yang terkejut.


Gio bahkan menjatuhkan berkas ditangannya itu.


"Aapa tidak cukup kenyataan kalau Gea bukan anak kalian sekarang Gea harus menerima kenyataan lagi kalau Gea harus menikah dengan Gio? " Gea menangis.


Dan bingung hendak kemana, dia hanya masuk kamar Gio.


Gea meringkuk ditempat tidur Gio,dan menangis.


Gio dan papa mama masih didalam kamar Gea.


"Jadi bagaimana kamu Gio? apa bersedia menikahi Gea? " papa bertanya.

__ADS_1


----


Gio hanya diam, dia masih berpikir. Dan tidak percaya kalau dia harus menikahi kembaranya itu.


"Apa Gio harus melakukan itu? bagaimana kalau tidak? " Gio bertanya.


"Sebenarnya nenek kamu, ibunya papa sudah berpesan ketika kalian kami angkat jadi anak dulu. Dia setuju asalkan kalian kami nikahkan setelah umur 17 tahun sebelum 18 tahun kalian harus menikah. Karena usia ini kalian sudah punya KTP dan berhak mendapatkan warisan juga. Nenek sayang kalian jadi dia tidak mau hartanya akan jatuh ke orang lain. Dia hanya ingin kalian tetap jadi keluarga sampai nanti. Makanya hanya Gea yang disusui mama kamu agar dia jadi keluarga. Lalu dengan menikahkan kalian otomatis kamu akan jadi keluarga juga. " papa menjelaskan panjang lebar yang dimengerti Gio.


"Kamu juga suka sama adek jadi apa susahnya? " mama merangkul Gio.


"Jadi kami harus menikah dalam dekat ini? " Gio memastikan lagi.


"Ulang tahun kalian dua bulan lagi,yang sebenarnya ulang tahun kamu sebulan lagi. Jadi sebelum itu kalian harus menikah" papa menjelaskan lagi.


"Apa tidak terlalu mendadak? " Gio masih belum menerima.


"Sebenarnya kami mau bilang dari dulu tapi ragu, kami takut kalau kalian tidak bisa menerima ini" papa masih menjelaskan.


"Tapi kami masih sekolah"


"Kalian bisa menikah diam-diam hanya yang penting sah secara hukum. Agar surat wasit itu terpenuhi dan rumah sakit aman Gio" papa memberi saran.

__ADS_1


"Gio akan diskusikan sama Gea dulu, sepertinya akan sangat sulit bagi dia" Gio memberi keputusan sementara.


__ADS_2