
"Nyebelin, kenapa kaya gini ih" Gea tidak henti-hentinya merengek sejak semalam dan bangun tidur masih saja seperti itu.
Karena sekarang dirinya yang sakit, memang bukan sakit yang sebenarnya cuma efek semalam.
"Udah dong, gue jadi merasa bersalah terus nih" Gio frustasi melihat bibir manyun istrinya terus.
"Pokoknya jangan sentuh gue lagi" Gea melotot.
"Ya nggak bisa."
"Habisnya lo cuma nyakitin gue" Gea memalingkan wajahnya.
"Demi apa? cuma sakit? perasaan lo juga nikmatin. " Gio menggoda.
"Udah, ayo mandi." tangannya melingkari pinggang Gea lalu mengangkatnya udah kaya ngangkut sekarung beras.
Gea meronta-ronta karena cara menggendeng Gio tidak romantis sama sekali.
Dia meletakkan gadis cantik itu di bathtub yang sudah terisi air hangat.
"Mandi lah, ini akan meredakan nyerinya. " kalimat lembut berhasil lolos dari mulut Gio.
*
Gio tadi sudah mandi, kini dia memilih memesan makanan lewat layanan kamar saja karena tidak yakin Gea mau turun ke resto.
Beberapa saat kemudian sudah datang, dan dibarengi oleh seorang pria.
"Kenapa nggak bilang kalau kalian nginep disini? " pria itu tersenyum.
"Papi? " Gio kaget, yah yang masuk bersama petugas hotel papinya.
__ADS_1
"Papi ganggu kalian ya? " papi malah salah tinggal dipanggil papi oleh Gio.
"Ya sudah kamu mau sarapan kan? mana Gea? apa sedang mandi? " papi masih salah tingkah.
"Ehh iya Gea sedang mandi."
"Baiklah, bisa ngobrol sambil minum kopi saja. Papi yakin Gea akan lama." papi terdengar serius.
Gio menyetujuinya.
Papi mengajak putranya itu ke kafe yang ada di hotel tersebut.
"Papi tadi malam ditelpon sama papa kamu katanya kalian nginep disini. " papi membuka obrolan.
Gio jadi ingat dia semalam telpon papa kalau mereka tidak pulang karena macet dan Gio sedikit tidak enak badan makanya memilih menginap di hotel W.
'Lalu kenapa harus memberitahu papi?' batinnya.
"Papa kamu cuma khawatir katanya kamu sakit?"
"Tidak,sudah sembuh, ada Gea juga jadi dia perawat yang baik."
Kopi datang.
Mereka lalu menyeruput kopi sedikit.
"Banyak yang harus kita obrolkan. Masa lalu kamu dan masa depan kamu. Kapan-kapan kita harus ngobrol lagi. " papi terdengar serius.
"Anda jangan salah paham, Gio mau memanggil anda dengan sebutan papi karena hanya ingin menghormati anda sebagai ayah kandung saya. Masa lalu dan masa depan biarkan Gio saja yang tahu dan menentukan. Ini tidak seperti saya sudah menerima kalian. Sekali lagi ini hanya untuk rasa hormat. " Gio sangat serius.
"Baik, papi ngerti. Sangat sulit memang, tapi ijinkan kami dekat dengan mu ya nak. Jangan menghindar apalagi menjauh. " mata papi berkaca-kaca.
__ADS_1
"Gio mau balik ke kamar, takutnya Gea nyariin. " Gio bergegas ke kamarnya karena dia juga nggak mau larut.
Tiba dikamar,
Gea sudah memakai baju bukan bajunya semalam melainkan blouse dan celana panjang. Dia bahkan sudah mulai makan.
"Lo dari mana saja?"
Gio duduk, "Bajunya siapa? lo bawa dari rumah? " tidak menjawab malah balik nanya.
"Emm, bukannya elo yang nyiapin? tadi ada di sini. Tuh ada kaos juga. " Gea menunjuk set kaos cowok.
Gio berpikir ini ulah papinya, karena tidak mustahil ada seperti itu mengingat ini hotel miliknya.
"Pasti layanan kamar. "
"Wahh, bagus ya. Lain kali kita nginep disini lagi. Mereka tahu apa yang kita butuhkan padahal nggak bilang. "
"Ini hotelnya papi Mark"
"Apa? " Gea terkejut. "Gue nggak nyangka nikah sama pewaris hotel. "tersenyum bangga.
"Maksud lo? " Gio agak emosi padahal lagi makan.
" Lo dengarkan apa yang gue bilang? ini milik Mark Wilson. "
"Iya, gue denger. "
"Lah, yang jadi suami lo itu gue. Bukan papi kenapa lo bilang nikah sama pewaris hotel, bego! "
"Lo tuh yang bego, secara lo anaknya jadi gue yakin ini bakalan diwariskan ke elo. " Gea asal
__ADS_1
"Mimpi lo ketinggian, bangun lo! entar jatuh. "