
Bian menyelusuri tangga turun dengan berlari, karena rooftop emang di lantai 4 paling atas.
Dia tidak mau Zara melarikan diri, dia tahu cewek itu akan begitu.
Benar, Zara memang segera turun ke jalan untuk mencari taksi, karena tadi dia berangkat bersama Bian.
"Mau kemana lo!? " Bian dengan ngos-ngosan akhirnya bisa menangkap Zara yang akan keluar gerbang.
Zara kaget Bian bisa mengejarnya, dan kini tangannya sudah dipegang cowoknya itu.
"Bian, emm aku mau pulang. Tiba-tiba aku disuruh pulang, jadi maaf nggak bisa kasih tahu. " Zara mencoba mencari alasan.
Bian tidak peduli sama kata-kata cewek ini. Dia lalu menariknya ke pojok sekolah yang sepi.
"Lo kan yang punya nomer ini? " Bian mencoba menghubungi nomer yang tadi.
Dan ada yang berbunyi di tas Zara. Tanpa permisi, Bian merebut tas itu dan mengeluarkan semua isinya dengan cara menumpahkan nya ke tanah.
Nampak lah HP yang sedang berdering.
Bian memungutnya dan melihat isinya, ternyata dikunci.
"Buka! " Bian membentak.
__ADS_1
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu bayangkan" Zara merasa khawatir.
Karena terpaksa, Zara membuka hpnya menggunakan sidik jari.
Bian lalu melihat isi didalamnya, dan benar Zara pengirim video dan gambar itu.
"Maksud lo apa anj***? dari mana lo dapetin ini heh? " Bian emosional.
"Dari nomer seseorang," Jawab Zara.
"Siapa? "
Zara menarik nafas, dia mencoba untuk tegar agar tidak kalah dengan Bian.
"Hah, gue nggak nyangka lo ini cewek jahat. Gue benci sama diri gue bisa-bisanya suka sama cewek macam gini. Lo dapet apa dengan menyebarkan ini heh? gue tanya! " Bian benar-benar kecewa.
"Oh jadi kamu menyesal jatuh cinta sama aku hanya gara-gara masalah Gio? " Zara kayanya nantangin. "Kamu lebih memilih Gio dari pada cewek kamu sendiri? "
"Bukan gitu Zara, kamu itu salah ya harus gue ditegur. " Bian sedikit melemah.
"Aku cuma mau kasih tahu ke semuanya tentang kekasih Gio oh bukan yang ternyata dia bahkan sudah menikah dengan kembarannya sendiri. Gio itu nggak normal, bisa-bisanya manusia seperti itu di idolakan." Zara membela diri dengan memberi tahu alasannya.
"Lo itu nggak tahu apapun tentang Gio, jangan sok menilai orang! "
__ADS_1
"Aku sekarang tahu, Gio dan Gea itu tidak normal, itu kan?. Jadi kamu mendukung hubungan yang tidak normal itu heh? " Zara nggak mau kalah.
Bian menahan emosinya dengan menarik nafas panjang, karena Zara cewek.
"Ok,baiklah sekarang gue tanya dapet dari mana itu video dan foto? apa lo sendiri yang ngambil langsung kemarin? apa lo juga ada di kantin kemarin? " Bian mendesak dengan cara mendekatkan wajahnya ke wajah Zara.
Zara gugup, jarak mereka begitu dekat hingga dia tidak sanggup lagi bertahan,"Aku dapet dari Mika, dia nggak mau bilang dari siapa katanya dia nggak tahu juga itu dari siapa. Kemarin begitu cepat, begitu Mika dapet gue minta dan gue kirim ke grup." Akhirnya Zara ngaku yang sebenarnya.
Posisi mereka seolah sedang berciuman, sangat dekat.
Dan Zara beneran mencium Bian, biasanya kalau pacarnya itu sedang emosi akan luluh kalau sudah dicium.
Bian mendorong tubuh Zara, "Jangan deketin gue lagi, gue nggak mau punya cewek kaya lo! "
"Hah apa maksud kamu? "
"Gue akan lupain pernah pacaran sama lo dan kenal sama lo, jal***? " Bian mengambil keputusan mengakhiri hubungannya dengan Zara.
"Bian" Zara menampar pipi Bian "Seenaknya lo bilang gue jal*** lo heh, lo mau kita putus? lo lebih memilih temen lo itu dari pada gue? setelah apa yang gue kasih sama lo heh? " Zara tidak terima diperlakukan seperti itu. Dia bahkan menangis karena dia diputuskan gara-gara masalah Gio.
"Lo emang cewek kaya gitu, gue nyesel bisa suka sama lo. Nggak sah drama lo! " Bian meninggalkan Zara yang kini jongkok menangis.
Zara memunguti barang-barangnya lalu pergi keluar sekolah.
__ADS_1