
Pulang dari pesta Gio merasakan tubuhnya tidak baik. Dia kedinginan dan demam.
Padahal mereka masih dijalan, masih didalam mobil.
Jalanan malam ini cukup padat karena weekend juga. Bertambah malam semakin parah. Seperti hanya maju satu senti satu senti saja.
Ditambah hujan yang melanda.
"Anj***! lengkap sudah penderitaan gue. " Gio kesal.
Gea mencari obat didalam tasnya. Dan syukurlah dia menemukan obat sakit kepala.
"Gio, ayo minum obat ini. " Gea menyerahkan obat itu.
"Tapi gue mengemudi Gea"
"Kan lagi macet, gimana kalau kita menepi saja dulu. Dipaksakan jalan juga nggak ada gunanya. " Gea memberikan ide.
Gio melihat kebelakang.
"Bahkan buat mundur sedikit aja nggak bisa. "
"Ya udah, gue yang ada disitu" maksud Gea berada dibalik kemudi.
"Tidak, yang ada habis ini gue mampus. " Gio menggesek-gesekan telapak tangannya.
Lalu muncul sebuah ide di kepala Gea.
"Gio" Gea mendekatkan tubuhnya pada Gio lalu menempelkan bibirnya pada bibir Gio.
Tentu saja Gio suka ini, karena ini mungkin bisa menghangatkan badannya. Mereka berciuman, namun ketika mulut Gio membuka cepat-cepat Gea memasukkan obat kedalamnya. Dan mendorongnya juga sampai tertelan.
"Sialan, apa ini? " Gio menghentikan adegan itu.
Gea hanya tersenyum kuda.
Gio mengambil air minum yang ada di dasbor.
"Gila ya lo! " masih tidak terima Gea mengakali nya.
"Sudahlah, ayo istirahat saja. " saran Gea.
__ADS_1
Setelahnya Gio merasakan badanya sudah agak lebih baik tapi efek samping yang lain juga muncul. Yaitu mengantuk.
Hingga beberapa kali klakson mobil belakang protes karena Gio tak kunjung maju.
"Gara-gara lo tuh! " terpaksa Gio menepikan mobilnya di area parkir minimarket.
"Bagus, gue bisa beli minum dulu. " Gea malah senang karena berhenti didepan minimarket.
Gea memakai kardigan dan mengambil payung. Lalu dia turun dari mobil dan masuk ke minimarket.
Gio beneran ngantuk, dia tertidur.
Hingga Gea sudah kembali Gio belum juga bangun.
Gea meminum minuman hangat,dia sebenarnya juga membeli teh hangat untuk Gio tapi malah mendapati dia tidur. Dia membiarkan saja, lagian Gio butuh istirahat.
Sambil memandang wajah yang nyaris sempurna membuat jantung Gea berdetak kencang.
"Mungkinkah aku mencintaimu sebagai seorang pria? kenapa bisa aku nggak kuat melihat mu seperti ini? " Gea berbicara sendiri karena yakin Gio tidak mendengarnya.
Ternyata tidak, Gio bangun. Dia langsung menyambar Gea menciumnya dengan hangat. Tangan Gio tidak hanya diam, Gea membiarkannya.
"Kita pulang saja" Gio menghentikan karena tempat tidak mendukung.
Dia merasa malu karena kini dia seperti memberi lampu hijau pada suaminya itu.
"Masih macet lagi." tumben Gio nggak mengumpat padahal sedang kesal.
"Sudah enakkan? " Gea mengulurkan tangan menyentuh jidat Gio.
"Hem, berkat lo. "
Jam sudah menunjukkan tengah malam. Tapi masih saja belum sampai rumah. Perjalanan yang seharusnya hanya ditempuh 45 menit kini sudah satu setengah jam belum sampai. Karena tadi juga istirahat 30 menitan.
"Kita mampir disitu aja,lo pasti masih ngantuk" Gea menunjuk sebuah hotel mewah di sisi jalan.
"Tidak, bentar lagi juga nyampe"
Gea diam sejenak.
"Sesekali boleh dong nginep diluar kitakan suami istri. " Gea masih menatap hotel itu.
__ADS_1
Sepertinya memang Gea memberi ijin pada Gio. Tanpa ragu Gio menepikan mobilnya dan memasuki hotel tersebut.
Mereka masuk kamar setelah melakukan cek in sebelumnya.
"Wahh" Gea kagum sama kamar yang dipilih Gio.
"Lo suka? "
"Apa nggak berlebihan, kaya mau honeymoon aja kamarnya modelan gini. " Gea menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Gio menyusul, tubuhnya sudah membaik jadi hanya tinggal istirahat saja pasti akan sembuh.
"Gio, lo yakin mau tidur sekarang? " Gea miring ke arah Gio yang sedang memejamkan mata.
"Hem, gue mau tidur biar cepat sembuh." Gio beneran tidur.
Gea memeriksa jidat cowok itu masih sedikit hangat. "Tidurlah"
Lalu melepas cardigan dan gaunnya dikamar mandi,dia memakai kimono mandi saja agar bisa tidur.
Gea memilih tidur juga.
*
Pagi hari Gio bangun duluan. Dia mendapati Gea masih tidur.
"Sial, gue kira sudah di ijinkan. Eh di php lagi. " Gio mengingat malam tadi yang dia kira bakalan lanjut ke tahap yang lebih panas lagi. Nyatanya cuma tidur doang.
Gea bangun seketika langsung menyentuh jidat Gio. "Oh, sudah sehat"
Sentuhannya beralih ke bibir Gio, tentu saja dengan bibirnya juga alias menciumnya.
Gio tidak mau menyiakan kesempatan ini.
"Gue nggak yakin kali ini kalau cuma dibibir. "
"Ya serah lo" Gea mengijinkan.
"Tolong jangan suruh gue berhenti kali ini, gue nggak mau. " Gio memohon dengan tangannya tidak bisa diam.
Gea hanya tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Dan terjadilah yang harusnya terjadi.