
Gea menunggu Gio di kamar cowok itu.
Lama, sampai malam Gio belum juga pulang karena banyak pekerjaan di rumah sakit.
Sebenarnya bisa saja Gio pulang tapi dia masih ingin bekerja agar kalau bertemu Gea emosinya sudah hilang.
Jam 11 malam Gio baru pulang.
Ketika masuk kamar terlihat Gea sedang duduk meringkuk di sofa depan TV yang masih menyala. Namun mata gadis itu tertutup, dia ketiduran di kamar Gio.
Gio cuma melihatnya, lalu dia pergi mandi karena memang dia tadi habis dari rumah sakit dan bertemu banyak orang. Juga badannya sudah pegal dan lengket semua.
Gio selesai mandi Gea masih tidur.
"Ge, Gea! bangun, pindah lo" Gio akhirnya membangunkan Gea.
Tapi cuma menggeliat aja tidak bangun.
Padahal Gio ingin segera meletakkan badannya di tempat tidur. Sedangkan Gea disini meringkuk.
Gio menghela nafas, " Kasihan juga ni anak kalau tidur begini"
Akhirnya Gio menggendong istrinya itu untuk dipindahkan ke tempat tidur.
Dan saat diletakkan Gea terusik, dia bangun.
"Gio? udah pulang? " Gea sedikit membuka matanya.
"Hem" Gio masih dingin.
Gea sadar dia dipindahkan di tempat tidur Gio.
"Kok gue dipindah kesini? "
__ADS_1
Gio nggak jawab, dia malah merebahkan diri di samping Gea.
"Kenapa pulang malem banget? "tanya Gea masih dengan nada ngantuk.
Nggak ada jawaban dari cowok itu, yang ada malah dia memejamkan matanya.
"Gue minta maaf" Gea mengingat kejadian tadi siang.
Gio malah menarik selimut tidak peduli yang Gea katakan.
Karena diperlakukan demikian, Gea memilih pergi dari kamar Gio.
***
Pagi harinya,
Gea lari ke mobil yang didalamnya sudah ada Gio yang akan berangkat.
"Mau ninggalin gue lo? " Gerutu Gea.
"Itu kan dulu sebelum gue punya suami."
Gio menjalankan mobilnya.
"Lah itu tahu, napa banyak tingkah" Gio pelan tapi masih bisa didengar.
Gea cuma memiringkan badannya menatap si pengemudi.
"Lo masih marah? gue semalam udah minta maaf loh, walaupun lo juga salah. Gue yang minta maaf duluan"
Gio tidak menanggapi celotehan Gea. Dia malah melihat rok gadis itu agak tersingkap, mungkin efek dia banyak gerak.
"Kalau mau pulang bareng cowok lain, jangan pakai rok itu." Gio bilang gitu sambil melirik rok Gea lagi.
__ADS_1
Gea seketika menurunkan roknya.
"Halal kok buat gue, bahkan dalamnya juga." Gio terdengar mesum. " Jadi jangan sampai orang lain lihat. "
"GIO! "
Sudut bibir Gio tersenyum karena berhasil membuat Gea sebal.
"Iya iya gue nggak bareng cowok lain lagi. " Gea berteriak.
Gea cemberut, tidak bisa dipungkiri karena ini berat buat dia. Pergaulannya dibatasi, padahal dia hanya menganggap semuanya itu teman. Gea memang tidak banyak punya teman cowok tapi ini akan berlaku seterusnya.
"Entar gue bentar, cuma mau bertemu pak Ridho wali kelas gue, kalau lo udah selesai bareng gue. Kalau belum nanti gue jemput atau naik taksi. Gue mau ke rumah sakit soalnya. " Gio menjelaskan sebelum mereka turun karena sudah sampai parkiran sekolah.
Gea tidak menanggapi, dia langsung keluar dari mobil.
Gio segera mengejar Gea.
"Lo dengarkan? " tanya Gio begitu bisa meraih tangannya Gea.
"Iya iya, ish bawel" Gea mengibaskan tangannya agar terlepas dari Gio.
Tapi Gio nggak mau melepaskan, bahkan dia beralih menautkan jarinya ke jari Gea. Mereka berjalan bergandengan tangan.
"Bisa lepasin gue nggak" Gea nggak nyaman
"Kenapa? saudara emang nggak boleh gandengan? " Gio mempererat malahan.
Gea nurut aja, lagian percuma debat sama Gio cuma makan ati.
Sampai didepan kelas Gea baru dilepaskan.
"Gue cuma diskusi perpisahan acara kelas, habis itu gue bareng elo pulang jadi kalau udah selesai samperin gue" pesan Gea sebelum masuk kelas dan berpisah dengan Gio.
__ADS_1
"Hem"
Dalam hati Gea merasa bingung, sebenarnya Gio itu saudara atau suaminya. Ini sebenarnya yang bikin rumit adalah dirinya sendiri. Berawal dia menyetujui pernikahan ini tapi dengan syarat masih bisa menjalankan kehidupan seperti biasanya. Walau Gea tetap menganggap Gio saudara nyatanya Gio suaminya yang harus ia patuhi.