
Pagi harinya,
Mereka bangun dalam kondisi saling berpelukan.
"Udah pagi Gio, bangun." Gea membangunkan Gio dengan cara mengecup bibirnya.
Gio bangun, plus yang dibawah sana juga. Apalagi tepat dipaha Gea.
"Gio apa ini kok menonjol" Gea merasa heran ada yang aneh. Dia malah menggesek nya.
Gio mendorong sedikit Gea, "Pergi lo. " merasa frustasi melihat istrinya sebodoh ini.
"Lah marah"
Gio duduk.
"Kalau lo belum siap jangan mancing atau apalah apalagi nyentuh. "
Menurut Gea, Gio ini ngelantur. " Lo ngigo ya? lo ngomong apa? "
Gio menghela nafas.
"Lo itu udah 18+ nggak sah sok polos deh lo"
Gio lalu keluar dari tenda.
Gea berusaha mencerna apa yang dimaksud.
***
Mereka memilih sarapan di warung dekat pantai.
"Habis ini kita balik. " Ajak Gio.
Setelah itu sampai perjalanan pulang Gio dingin. Gea jadi bingung karena Gio berulah demikian lagi.
__ADS_1
"Maaf Gio, apa itu penting banget buat lo? "
Gio yang sedang mengemudi menoleh sedikit.
"Mungkin sekarang belum, sudahlah gue cuma emosi sesaat mungkin dihinggapi jin pantai tadi. " Gio sadar kalau sikapnya tidaklah benar.
"Jin mesum" kata Gea pelan.
Ujung bibir Gio berkedut, " Kita lihat aja sampai kapan lo mau bertahan. "
"Kan gue udah pernah bilang sampai gue nganggep lo itu cowok. "
Mendengar hal itu membuat Gio tersinggung lagi.
"Wah wah lo beneran mancing lagi ya Gea"
"Apa?maksud gue nggak menganggap lo saudara gue lagi gitu Gio. "
"Baiklah adikku tersayang. "
***
Mama dan papa memanggil mereka untuk ngobrol.
"Ada hal serius apa ini pa? " Gio yang emang super peka langsung tanya biar mereka langsung ke inti.
"Beberapa hari lalu ada wanita yang mencari bayi laki-laki nya yang pernah ditinggalkan olehnya 18 tahun yang lalu di rumah sakit." mama mulai bicara.
"Bayi laki-laki? apa Gio ma? " Gea penasaran.
Gio juga menebak kalau itu adalah dia.
"Kami sudah menyelidiki semuanya dan memang benar bayi itu adalah Gio. " papa menyambung.
"Jadi orang tua kandung Gio mencarinya gitu pa? " Gea penasaran.
__ADS_1
Gio hanya diam.
"Iya, jadi ibu itu sebenarnya sudah mencari tahu sejak dulu hanya saja karena kami sudah menghapus jejak informasi tentang kelahiran Gio makanya susah menemukannya. Dan dia berhasil menemui mama, dia sangat menyesal telah meninggalkan kamu mas. " mama menggenggam tangan Gio.
Gio melepaskan tangan mama, " Lagian ini semua udah nggak penting lagi. Gio nggak butuh orang mencari Gio. Hidup Gio baik-baik saja apalagi sama kalian. Sudahlah abaikan saja ma, bilang ke dia tidak usah cari tahu tentang Gio lagi. "
"Bukan begitu sayang, mereka ingin bertemu kamu" mama malah menangis.
Gio bangun dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya.
Gea yang tidak tega melihat mamanya menangis, lalu memeluknya. Begitu juga papa.
"Adik bisa bicara sama mas Gio? bilang ke dia kalau orang tua kandungnya hanya ingin bertemu." pinta mama.
Gea mengangguk.
Lalu Gea mencoba masuk kamar Gio yang tidak dikunci.
Ternyata dia sedang berbaring, dengan menutup mata dengan lengan tangannya.
"Lo tidur? "
"Hem, semalam gue nggak bisa tidur. Gue ngantuk jadi nggak usah ganggu gue." Jawab Gio tanpa membuka lengannya.
"Ok, nanti kita bicara lagi. "
Gea malah duduk di sofa, menyenderkan tubuhnya dengan nyaman
"Bagaimana bisa ada orang tua seperti itu? meninggalkan bayi yang tidak berdosa sendirian. Lalu sekarang mereka dengan mudahnya mencari dan ingin bertemu dengan bayi itu. Kalau mau dicari kenapa harus ditinggalkan? apa mereka pikir bayi itu mau setelah apa yang mereka lakukan. " Gio malah berbicara tanpa bangun dari tempat tidurnya.
Gea mendengar itu lalu mendekati Gio yang sedang rapuh.
"Tahu nggak seorang ibu tidak akan mungkin meninggalkan anaknya sendiri. Pasti dia tahu kalau bayi itu akan bersama orang-orang yang akan mencintainya. Dia pasti punya alasan sendiri Gio. Kita harus tahu alasannya kan? beri mereka kesempatan. Lagian benar kata lo ini tidak akan berpengaruh dihidup lo. Tapi akan berpengaruh di hidup mereka, karena lega si bayi telah tumbuh baik. " Entah kenapa Gea tumben bicaranya berbobot sampai Gio terheran.
"Gue mau tidur, pergi lo" usir Gio.
__ADS_1