Menikahi Kembaranku

Menikahi Kembaranku
Episode 80 : Spesial


__ADS_3

Sesuai janji Papi dan papa bertemu besoknya di sebuah ruangan hotel.


"Saya waktu itu mendapat telpon dari Gea dia menceritakan tentang Gio yang telah membuat rumah sakit anda bangkrut. " Papi langsung ke intinya karena sejak kemarin sampai hari ini dia masih capek.


"Gea? Anak itu kenapa besar mulutnya. " papa sedikit emosi mendengar Gea mengadu pada papi.


"Bukan seperti itu pak Dion, dia sebenarnya minta tolong agar saya mencari Gio yang kabur dari rumah anda. Lalu saya tanya alasannya. Jangan salahkan Gea, dia anak yang baik dan hanya mengkhawatirkan Gio." Papi segera mengkonfirmasi agar papa tidak salah paham.


Papa memahami,


"Mereka berdua memang berbeda, sangat berbanding terbalik. Gea penyabar Gio emosional. Tapi Gea terlalu lemah kasian dia harus mengahadapi Gio yang keras kepala. " Papa membandingkan Gea dan Gio.


"Benar, mereka cocok sekali" Papi menanggapi


"Tidak, saya tidak akan membiarkan Gea selalu disakiti Gio lagi. Dia tidak bisa bersama Gio sebagai pasangan. " pikiran papa berbanding terbalik dengan papi.


"Pak Dion jangan begitu, biarkan mereka memutuskan sendiri. Apalagi mereka sudah menikah, kita jangan ikut campur." Papi tidak setuju.


"Mereka menikah karena terpaksa, karena wasiat ibu saya. Beliau terlalu mencintai cucu-cucunya hingga menginginkan mereka tetap bersama. Dengan alasan rumah sakit juga waktu itu. Tapi semuanya tidak ada gunanya, rumah sakit tanpa uang tidak akan berjalan." papa menceritakan bagaimana mereka bisa menikah.


"Oh, begitu ternyata. Jadi mereka lebih saling sayang terhadap saudara begitu mungkin ya" papi menyimpulkan begitu.

__ADS_1


"Mungkin, tapi Gio pernah bilang kalau dia menyukai Gea. Namun, sikapnya masih saja keras jadi saya tidak mau mereka bersama lagi sebagai pasangan. "


Lalu papi mengambil sebuah kertas dari sebuah laci.


"Saya akan jadi investor rumah sakit anda,berapa yang anda butuhkan saya bersedia. Jadi tolong jangan salahkan Gio lagi atas masalah ini pak Dion. " Ternyata papi ingin menyelesaikan masalah papa.


Papa terkejut, pasalnya dia tidaklah pernah berpikir kalau papi akan melakukan itu. Dia memang tahu kalau Mark Wilson pebisnis tapi kalau untuk berinvestasi kayanya belum pernah dengar dia melakukannya. " Hah, benarkah? anda mau jadi investor kami? ini suatu kehormatan bagi saya. "


"Iya tentu tapi itu syarat saya. " papi meyakinkan.


Papa setuju, "Baik, saya sangat Terima kasih tapi saya tetap tidak mau anak saya Gea bersama bocah gendeng itu lagi. "


Papi memang sangat mudah mengeluarkan beberapa rupiah dia bahkan mampu membeli rumah sakit itu sekaligus mengingat berapa kayanya dirinya.


Papa tersenyum melihat kertas itu yang akan menyelamatkan rumah sakitnya.


"Padahal anda sendiri yang membesarkan bocah gendeng itu, kenapa anda malah membencinya sendiri? " Papi berkata setelah transaksi selesai.


Papa diam.


Papi berpikir kalau Gio tetap bersama mereka mungkin suatu saat dia akan disalahkan lagi.

__ADS_1


"Baik pak Dion, saya sangat berterima kasih telah membesarkan anak saya dengan baik jadi sepenuhnya uang ini saya berikan pada anda. Kita tidak perlu bekerja sama,anda saja yang menjalankan rumah sakit dengan baik. Saya akan ambil anak saya, sekarang giliran saya yang akan menjadikan anak itu hebat. Saya yakin dia akan menjadi sukses nantinya. Gio anak yang spesial." mengulurkan tangan.


Ternyata papi hanya memberikan uang secara cuma-cuma bukan menjadi investor rumah sakit.


"Loh jangan gitu mr. Mark saya jadi tidak enak" Papa sungkan menjabat tangan papi.


"Tidak apa-apa pak Dion. Bahkan itu semua tidaklah cukup,melihat anda membesarkan Gio dengan baik selama ini. " Papi tersenyum ramah.


Akhirnya papa setuju asal rumah sakit selamat.


*


Mami kini berada dalam suatu ruangan dengan Gio.


"Gio, makasih ya sayang kamu mau datang ke pernikahan mami dan papi. Kamu hadiah spesial kami. " Mami memandang wajah Gio.


Gio hanya tersenyum miring, "langka kan, anak bisa menghadiri pernikahan orang tuanya? "


"Iya makanya kamu spesial banget" Mami tidak peduli maksud lain Gio.


Gio tetaplah dia yang dingin, walau seharusnya dia memeluk mami nya itu karena dia sudah diakui.

__ADS_1


__ADS_2