
Setelah pulang dari apartemen mami tadi Gea segera ke Penthouse untuk menemui Gio.
Padahal ini sudah malam, mungkin suaminya itu sudah tidur. Dia tidak peduli yang harus dia lakukan meminta maaf akan kesalahannya yang mungkin menyinggung Gio.
Ting
Kamarnya sepi begitu Gea sampai,
"Kemana tu anak? "
Gea mencari ke ruang ganti, kamar mandi, dan balkon tempat favorit Gio tidak ada. Lalu dia ke ruang kerja pria itu.
Benar saja Gio ada disitu ketiduran dengan macbook masih menyala.
"Gio, bangun. " Gea menepuk pelan suaminya itu.
Gio tidak merespon.
Lalu Gea memilih mengecup kening pria ini. Seketika Gio menggeliat kaget.
"Gea? "
Gio tersenyum mendapati ada istrinya disini, tapi dia pikir ini adalah mimpi.
"Geaaa, kebetulan banget kamu kesini. Aku lagi pengen. " Gio manja, tapi matanya masih belum terbuka lebar.
"Ini anak ngigo apa gimana ya? " kata Gea pelan.
Brug
Gio meletakkan kepalanya pada baju Gea.
"Dih, Gio! bangun woi! "
Karena suara Gea yang kencang membuat Gio kali ini benar-benar bangun.
__ADS_1
"Ehh, Lo beneran disini? " Gio pake acara mendorong Gea segala, karna agak terkejut.
Gea menghela nafas berat.
"Kenapa tidur disini? "
"Emmm, percuma gue tidur ditempat tidur juga nggak ada temannya."
"Ih, kasian. " Gea mengalungkan tangannya pada leher pria tinggi ini, hingga dia agak mendongak.
"Ngapain lo kesini malam-malam? kenapa nggak minta jemput kalau mau tidur disini, heh? "
"Emang nggak boleh? " Gea ingin menurunkan tangannya lalu dicegah.
Gio mengecup bibir wanitanya ini. Menaruh kedua tangannya di pinggang Gea.
"Apa? katakan? "
"Apa apanya? "
"Ihhh enggak ya, wajar gue nemuin suami gue sendiri. Ya udah kalau lo nggak suka gue disini. Gue pergi ya. " Gea pura-pura merajuk melepaskan tangan yang sedari tadi dileher Gio.
Namun tangan itu seketika ditarik oleh Gio.
"Nggak akan gue lepasin lo malam ini. "
******
Mereka kini sudah berada di tempat tidur bersiap akan tidur, setelah melakukan kegiatan menguras tenaga tadi.
"Reportase lo sebagai selebritis akan dipertaruhkan loh kalau lo ketahuan satu kamar dengan seorang pria. " Sindir Gio.
"Dih." Gea masuk kedalam selimut.
Gio tertawa mengejek.
__ADS_1
Gea muncul kini merapatkan diri di dada suaminya.
"Gio, maaf ya selama ini aku salah. Aku nggak memikirkan bagaimana perasaan kamu. "
Gio mendengar suara Gea yang sopan itu membuatnya mengecup kepalanya.
"Nggak kok, aku nggak papa kalau kamu senang. "
"Tidak Gio, aku sudah bertekad mau jadi istri yang baik. Aku mau melanjutkan cita-citaku sebenarnya yaitu berada di rumah ngurus rumah, masak,kalau capek rebahan nonton drakor sampai suami pulang kerja kalau suami capek dipijitin dan nyenengin suami pokoknya. " celoteh Gea.
Yang seketika bikin Gio kaget, "Lo masih ingat cita-cita lo sejak dulu itu? Kirain udah lupa setelah jadi wanita sibuk apalagi jadi chef selebritis. "
"Jangan lo gue an lagi Gioooo, aku mau kita romantis. "
Gio tertawa, "Oh sorry, jangan ngajak gue kalau mau romantis".
Gea mengerucutkan bibirnya mendongak ke wajah Gio yang malah menggodanya.
" Apa? "Gio mengangkat alisnya.
"Aku udah menyampaikan loh keinginanku jadi istri baik dan taat pada suami. Sekarang kamu dong harus bertekad jadi suami yang baik. "
"Lah gue harus apa? emang selama ini gue jahat? "
Gea diam, memilih membelakangi Gio saja. Malas berdebat dengan pria ini yang sejak kecil dia selalu salah.
"Gue nggak papa kok mau lo ngapain yang penting tetap sama gue, mau lo jadi seleb lah mau lo cuma rebahan dirumah gue terima kok. " Gio ternyata pengertian.
"Aku kira kamu keberatan soal hubungan rahasia kita"
"Keberatan banget, lo ingat pas sekolah dulu juga lo ngajakin backstreet dari anak-anak yang lain. Sekarang keadaan kebalik tetap aja lo yang ngajakin main rahasiaan. Pernah mikir apa lo malu punya suami gue? " dia mengingat masa lalu.
Gea berbalik badan, kini merangkul tubuh Gio.
"Maaf, itu tidak benar. Kenapa aku harus malu bersuamikan kamu yang idaman para wanita. "
__ADS_1