
Sudah beberapa hari Gio terlihat dingin.
Dan Gea kini berangkat sekolah diantar pak Tono suami bu Rima art yang biasanya bersih-bersih rumah yang kebetulan bisa mengemudi. Tapi hanya bisa mengantar saja karena kalau siang sampai sore Pak Tono harus bekerja. Jadi saat dia nganter bu Rima ke rumah kemudian nganter Gea.
"Kenapa nggak bareng mas Gio aja mbak? " tanya pak Tono penasaran, mungkin merasa aneh sekolah mereka sama tapi nggak berangkat bersama.
"Males naik motor saya pak" jawab Gea asal aja biar cepet.
""""
Tiba disekolah,
Jonatan terlihat menunggu di gerbang,
"Tumben diantar sopir? " Jo emang tahunya Gea naik bus biasanya
"Iya udah beberapa hari kebetulan ada mobil nganggur dan ada yang bisa nyopirin gue, tapi cuma ngantar aja sih. Nanti pulang tetap naik bis. " jelas Gea sambil berjalan ke kelas bersama Jo.
"Nanti bareng gue aja" Jo menawari.
"Lihat entar deh"
Gio juga sudah sampai, dan melihat interaksi keduanya membuatnya kesal. Masih duduk di atas motornya sambil tangannya mengepal keras. "Brengsek! "
Kemudian Zico datang dengan motornya.
"Kenapa lo? " tanya Zico yang melihat Gio geram.
__ADS_1
Tidak ada jawaban, lalu Zico mencari tahu sendiri lewat pandangan Gio yang menuju ke depan. Dan ternyata ke arah Gea yang sedang berjalan dengan Jonatan lagi asik ngobrol.
"Samperin, jangan? " Zico memprovokasi.
"Kita lihat aja nanti sampai mana mereka. " keputusan Gio.
Lalu mereka berjalan menuju kelas.
"Makanya go publik dong, pamerin ke dunia kalau Gea itu milik elo. Gea cantik, cantik banget malahan. "saran Zico
"Dia nggak mau nyet"
Lalu lewat lah empat cewek gengnya Mika.
"Eh, ada Gio" sapa Mika.
"Hai" Gio datar.
Mika yang emang cewek gampangan, Tiba-tiba tangannya ia lingkarkan ke tangan Gio. Dan kebetulan mereka hampir sampai depan kelas Gea.
'Ok, tahan dulu' batin Gio, membiarkan Mika dengan seenaknya saja. Dan teman-teman Mika yang bareng pada histeris.
Hingga membuat kegaduhan, banyak yang lihat juga yang merasa iri dengan Mika.
Gea juga lihat dari balik jendela. Dia hanya menahan amarahnya.
"Gila kan, sekarang sama Mika. Waktu itu sama Mila." Bella yang lihat depan kelas histeris juga.
__ADS_1
"Menurut gue cocok sama Mila, Sama-sama pintar. Kalau Mika cakep doang tapi otaknya nol. Ya kebetulan aja bisa masuk IPA" Dinda kini malah membandingkan antara Mika dan Mila.
Gea berpikir, mungkin itu yang akan terjadi kalau dia ketahuan sama Gio. Dia tidak pantas bersanding dengan Gio yang perfek. Pasti nanti bakalan banyak yang tidak suka sama dia.
"Kalau misal gue yang sama Gio apa pantas? "Tiba-tiba Gea minta pendapat.
Bella dan Dinda kaget, tumben Gea bilang kaya gitu karena setahu mereka dia nggak pernah tertarik sama yang namanya Gio.
"Lo kesambet? " Bella menyenggol Gea.
"Kan itu cuma misalkan doang"
"Emm, kita mending bangun aja dari mimpi. Lo udah normal,nggak pernah halu ngedapetin Gio. Jadi mending lo tetap normal aja, jangan sama kaya kita berdua. " jelas Dinda.
Gea menghela nafas.
"Jadi gue juga nggak pantes ya sama Gio? " Gea terlihat serius.
"Jangan bikin gengnya Gio rusak, yang suka sama elo itu Zico jadi jangan sampai elo suka Gio juga dan bikin mereka berantem. " Bella malah ngelantur.
"Udah ah males gue. Itukan cuma misalkan" Gea kesal sendiri.
Sebelum kelas dimulai Gea pergi ke kamar mandi dulu karena mau cuci muka. Dia itu memang tidak pernah menggunakan make up jadi bebas cuci muka.
Di toilet juga pada ngeributin soal Gio yang bergandengan dengan Mika tadi.
'Jadi mending nggak ada yang tahu tentang gue dan Gio aja deh' batin Gea.
__ADS_1