Menikahi Kembaranku

Menikahi Kembaranku
Episode 76 : Marah


__ADS_3

Paginya Gio beneran bisa pulang.


Pengacara kepercayaan papa itu sangat pandai bernegosiasi dan juga karena memang Jonatan kurang kuat buktinya,Gio dibebaskan.


Gea sejak semalam juga tidak bisa tidur, lalu mendapati Gio pulang ia sangat senang.


"Lo bebas? "dengan senyum merekah.


Gio mengangguk lalu berbaring di pangkuan Gea. Memang posisi Gea saat ini duduk di tempat tidur.


Walau sudah pulang perasaan Gio masih tidak tenang. Tadi ketika masuk rumah mama hanya tersenyum dan tanya


" Sudah pulang? "


"Iya ma" jawab Gio.


Sedangkan papa ekspresinya datar, apalagi langsung mengabaikan Gio lalu menerima telpon.


"Lalu apa yang membuat lo gelisah" Gea seakan tahu kegelisahan Gio.


"Gue takut papa marah" akhirnya Gio mengatakan alasan kegelisahannya.


"Kalau udah kelar masalahnya ya udah pasti papa nggak akan marah." Gea memberi pengertian biar Gio lebih tenang.


"Kata pak Hartawan, orang tua Jonatan itu investor utama rumah sakit, mampus kan gue sekarang? "


Gea sedikit kaget, "Gue yakin orang tua Jo pasti profesional. Tenang saja, ini cuma perkelahian antar anak kecil jadi nggak mungkin orang tua ikut campur. "


"Anak kecil lo bilang??" Gio bangun.

__ADS_1


"Emang"


Gio malah emosi,


"Gue bukan anak kecil yah, gue bahkan bisa bikin anak. "


"Astaga, bangga banget si mesum ini. Lo ngaca dong kalau udah gede nggak mungkin main pukul orang aja. Bukannya lo pinter tumben otak lo nggak lo pakai? ketinggalan ya di rumah waktu itu heh? "


Gio diem, mencerna apa yang Gea bilang bener.


**


Agak siangan papa manggil Gio untuk ke ruang kerjanya.


"Ada apa pa? " Gio bertanya saat memasuki ruangan kerja papa padahal sebenarnya sudah tahu pasti papa bakalan membahas soal Jo.


Papa terlihat duduk di kursi dengan aura berbeda, Gio harus siap mental.


Gio duduk didepan papa seperti terdakwa yang siap diinterogasi.


"Jonatan? iya pa minggu lalu anak itu memancing emosi Gio. Maaf. " Gio mengaku.


"Kamu tahu kan dia anak pak Yohan? investor utama rumah sakit? bagaimana bisa kamu melakukan tindakan yang tidak dipikirkan dulu? " papa emosi.


"Maaf pa, Gio baru tahu setelah pak Hartawan bilang kemarin. " Gio terlihat menyesal.


"Papa minta kamu minta maaf sama mereka. Walaupun jalur hukum sudah selesai. Tapi tetap saja pak Yohan marah anaknya kamu pukul. "


Gio mendongak, " Gio nggak salah pa, untuk apa minta maaf. "

__ADS_1


"Tetap saja, kamu harus minta maaf"


"Tidak. Itu tidak akan pernah Gio lakukan. " Gio bersikeras.


Jawaban Gio membuat kemarahan papa meningkat. "Papa nggak pernah kecewa sama kamu. Papa selalu bangga sama kamu, kamu selalu berprestasi dan jadi anak baik. Ada apa sama kamu Gio? apa begini sikap Gio yang beranjak dewasa? tidak tanggung jawab, suka main pukul, emosional." Papa berusaha menahan amarahnya.


"Papa selama ini diam,kamu diam-diam punya geng kan di sekolah? apa sebenarnya kamu itu anak berandalan heh? mau jadi preman? "


Gio malah melotot,dalam hati tidak menerima tuduhan itu. "maaf pa, tapi papa salah."


"Memangnya papa tidak tahu selama ini? papa biarin karena kamu imbangi dengan prestasi. Tapi tidak dengan sekarang, kamu sudah lulus sudah bekerja seharusnya memikirkan dampak dari tindakan kamu. " papa marah tidak peduli Gio tadi ngomong apa.


Lalu hening sesaat, karena Gio tidak mau mendebat papanya. Walau dalam hati tidak terima.


"Pak Yohan mengambil uangnya, itu artinya rumah sakit bakalan bangkrut. Rumah sakit sudah mengalami krisis sekarang ditambah investor utama akan mencabut investasinya. Apa kamu nggak kepikiran sampai disitu heh? " papa masih dengan kemarahannya.


Gio hanya diam.


"Cepat minta maaf sama mereka! "


Gio menggeleng


"Apa kamu mau membiarkan rumah sakit bangkrut? " papa semakin marah hingga gelas kopi yang ada di atas meja ia banting dan pecah di lantai.


Mama yang berada diluar mendengar suara pecahan lalu masuk ruang kerja papa.


"Ada apa ini pa? " mama kaget melihat pemandangan papa yang kesetanan Gio yang hanya diam mengepalkan tangannya.


"Anak pungut kamu ini bikin ulah! " papa meninggalkan ruangan dengan menyakiti hati Gio.

__ADS_1


Gio sampai menangis.


__ADS_2