
Gio menarik tangan Gea melewati banyak pengunjung dan karyawan. Dia tidak peduli lagi sekarang, kalau perlu semua harus tahu kalau Gea adalah milik Gio.
Dia membawa wanitanya ini keluar hotel agar emosinya bisa terhempas angin.
"Katanya mau makan kenapa bawa gue keluar? " Gea menghentakkan tangannya.
"Bisa jelaskan situasi macam apa tadi? " Gio menatap.
"Seperti yang lo lihat, gue lagi makan siang sama pak Haidar. "
"Are you crazy? suami lo kelaperan lo malah makan siang dengan pria lain? " Sentak Gio.
Gea diam, mereka memang nggak janjian makan siang. Bahkan Gea tidak tahu kalau Gio ada di hotel ini hari ini. Tadi katanya ke hotel Wi, sekarang udah ada disini aja. Gea tidak tahu jadwal suaminya ini jadi kalau tahu dia akan makan siang disini akan Gea siapkan.
"Malah diem! lo sekarang budeg apa tuli? " Gio masih kejam.
"Maaf, gue beneran nggak tahu lo di sini. " Gea hanya harus mengalah.
"Maaf doang? "
"Ya terus? lo juga tahu pak Haidar cuma atasan gue dan rekan kerja apa harus diperjelas? " Gea tahu arahnya cowok ini.Gio cemburu.
"Haidar bawahan gue sekarang, dan lo istri gue. Lalu apa pantas kalian makan bersama. " Gio memperjelas status mereka.
"Dia nggak tahu. "
"Lo yang seharusnya sadar diri goblok! , kenapa nggak nolak heh? "
__ADS_1
Gea menarik nafas panjang merasakan hatinya ada seperti tertusuk jarum. Dia harus bisa menahan amarahnya. Apalagi dilihat sekitar beberapa orang berlalu lalang. Kalau Gea juga membalas dan jadi bertengkar mereka malah jadi tontonan,bagi yang lewat.
"Sudah Gio, gue nggak mau berdebat disini. lo nggak malu banyak yang lihat. " Gea ingin mengakhiri perdebatan mereka. Walau sakit hati, dikatain seperti itu. Memang sejak dulu juga begitu tapi entah kenapa sekarang lebih sakit, kalau dulu malah tidak peduli.
"Gue nggak peduli, biarin mereka tahu lo istri gue. "
"Lo gila! " Gea memilih pergi saja, dia ke parkiran nyari mobilnya. Percuma nurutin Gio yang hanya kemakan emosinya.
Gea memasuki mobil, dia bingung kenapa Gio nggak berubah. Dia pikir dia suda dewasa tidak mengedepankan emosinya nyatanya masih sama. Sejak kecil dia yang terus mengalah, membiarkan dirinya yang selalu dimaki.
Gio menyusul, mengetuk kaca jendela mobil Gea agar dibukakan.
Namun justru malah mesin mobil dinyalakan, Gea memilih meninggalkan suaminya itu yang masih terbakar emosi.
"ARGGGG" Gio hanya bisa mengerang menendang udara.
*
Menghirup udara sebanyak-banyaknya menjernihkan pikiran. Selama tidak ada Gio dia tidak pernah sekalipun dikatain orang kalau kena marah dari atasan atau pengajarnya itu masih wajar.
Berusaha untuk tidak menangis pun susah, padahal memang Gio itu dari dulu seperti itu percuma saja ditangisi. HP nya sedari tadi bergetar di kantong celana bahan panjang nya, tapi tidak dihiraukan.
Disisi lain Gio terus berusaha menghubungi wanitanya itu tapi tidak juga diangkat. Max mendekat, ingin mengajak bosnya ke jadwal berikutnya.
"Maaf tuan, apa sudah selesai makan siang nya? " Max tidak tahu kalau bosnya ini habis ribut, jadi dia berkata seolah tidak terjadi apa-apa
"Sudah, ayo kita pergi. " Gio bohong emang dia habis makan apa? makan cemburu yang ada.
__ADS_1
Memilih membiarkan saja, dia nggak peduli istrinya itu kemana. Ada banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
'Nanti juga ketemu dirumah, bodo amat. 'batinnya.
"Apa ada masalah tuan? " tanya Max sambil mengemudi, melihat sebentar Gio yang ada disampingnya terlihat frustasi.
"Tadi gue lihat Gea makan sama bang Haidar dan gue ngamuk, gue salah ya? kok Gea malah pergi kaya ngambek gitu. Kan aneh itu cewek, nggak jelas banget seharusnya kan gue yang marah. " Gio curhat.
Max menelan ludah dulu sebelum menanggapi.
"Mereka cuma makan kan? " Max mode teman.
"Hem"
"Terus lo marahnya dimana tempatnya? " Max ingin tahu dulu supaya tidak salah memberi saran.
"Di dekat lobby"
"Gila"
"Lah kok gila, dari pada tadi gue semprot langsung di restoran apa nggak malu? " Gio membenarkan diri.
"Mending tadi diseret ke kamar lebih private dan endingnya bakalan enak -enak. " Max menyalahkan rasanya mau mengumpati Gio tapi ditahan.
"Lah iya ya kok gue nggak kepikiran ya? "
"Boleh gue bilang lo Ge-"
__ADS_1
"Ge apa? "
"Geblek! "