
Siang ini Gea mengajak makan siang Gio.
Dia menelpon, ketika Gio bekerja.
"Tumben lo ngajak gue makan siang diluar? " tanya Gio heran saat Gea selesai bicara tiba-tiba ngajak makan siang bareng.
"Pingin aja, gue pingin makan sushi dan kawan-kawan nya di resto jepang nih. "
"Baiklah, lo pilih tempatnya terus kasih alamatnya ke gue ya. " Gio setuju begitu saja sama ajakan Gea.
Lalu sambungan terputus.
"Tumben, kayanya ini anak mulai mau jadi istri baik nih. " Gio tersenyum sendiri. " Apalagi tadi malam pakai acara nonton bf juga. Gea Gea akhirnya lo dewasa juga. "
*
Tiba saatnya makan siang,
Gea bilang di resto Jepang tidak jauh dari rumah sakit biar tidak kejauhan Gio nya. Gea sudah bikin reservasi juga, dan memilih private room.
Gio nurut tanpa curiga padahal itu akan lebih mahal nantinya.
Begitu tiba, Gio disambut dan dituntun oleh karyawan resto untuk menuju ruangannya.
"Sialan ada ada aja Gea. " Gio heran.
Tiba di ruangan, Gea tidak ada. Dia akhirnya duduk sendiri. Lalu mencoba menghubungi Gea.
"Dimana lo? gue udah nyampe nih"
__ADS_1
"Oh, bentar gue sudah didepan kok. Lo pesenin aja kesukaan gue lo tahu kan"
Gio pesan dulu, tak lama makanan datang.
Tapi Gea belum juga muncul. Hingga ada karyawan yang membuka pintu. Dibelakangnya masuklah seorang wanita dan pria agak bule.
"Bren***k lo Gea" Gio kesal dengan Gea karena yang datang adalah mami Vero dan pria entahlah siapa.
Mereka tersenyum padahal Gio mengumpat.
Gio berdiri, hendak pergi.
"Ini Gio? " tanya pria itu.
"Iya, Gio ini papi kamu." ucap mami memperkenalkan papi Mark.
Tapi Gio datar tidak ada niatan untuk memeluknya bahkan menyambut mereka pun tidak mau.
Gio membuka pintu, tapi ternyata pintu dikunci.
"Anj***! bukain woi! " Gio menggedor pintu.
"Gio mami mohon, kami hanya ingin makan bersama kamu. Jangan kaya anak kecil. " Mami memohon.
Gio diam, berpikir kalau dia terus teriak yang ada malah norak dan memalukan.
Akhirnya dengan terpaksa dia duduk, sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Gio, tidak papi sangka kamu sudah sebesar ini. Bahkan kamu tumbuh menjadi pria yang tampan. " papi sangat senang.
__ADS_1
Gio diam,
"Gio,mami dan papi tahu kamu sulit sekali menerima kami. Tapi mami mohon beri kesempatan pada kami untuk menebus dosa kami selama ini. " mami ingin meraih tangan Gio tapi ditolak.
Gio tetap dingin.
"Baiklah, ayo kita makan saja. " papi mencoba akrab.
"Papi minta maaf ini semua gara-gara papi yang tidak mengetahui keberadaan mu dulu. Papi dan mami masih terlalu muda saat itu jadi kami mohon maafkan kami ya nak" papi meneteskan air mata mencoba meraih tangan Gio.
Gio melihat papi tulus, jadi dia biarkan tangannya diraih olehnya. Tapi tidak untuk digenggam.
"Jadi gue anak haram gitu ceritanya? kalian belum menikahkan? " akhirnya Gio bicara walau dengan nada ketus.
"Tidak ada yang namanya anak haram sayang. Yang haram itu hubungan kami dulu. Mami mempertahankan kamu saat itu karena mami sayang sama kamu. Tapi setelah melahirkan mu mami jadi bingung harus merawatmu dengan apa. Saat itu mami tidak punya apa-apa bahkan mami kesusahan untuk makan. " mami menangis menceritakan masa sulitnya.
"Ini semua salah papi. Saat itu papi harus ikut orang tua papi ke Amerika dan melanjutkan pendidikan disana. Papi tidak pernah menghubungi mami kamu karena orang tua papi tidak mendukung hubungan kami. " Papi menambahkan dan masih menyalahkan dirinya.
Gio tidak bergeming, walau kedua orang ini menangis dihadapannya.
"Tidak, ini salah mami karena mami tidak bilang kalau kamu ada diperut mami saat itu." mami juga menyalahkan dirinya.
"Kami menyesal kalau papi tahu, pasti papi akan memilih tinggal dan kita bisa bersama hingga saat ini Gio" papi kini mencoba kuat.
Gio masih diam.
Lalu dia malah memakan makanan yang ada didepannya. "Gue mau makan kalian nggak usah ngedrama. "
Mami dan papi tidak sakit hati atas sikap Gio, setidaknya Gio tidak marah saja mereka senang. Apalagi mau makan bersama.
__ADS_1