Menikahi Kembaranku

Menikahi Kembaranku
Episode 17 : Mulai bicara


__ADS_3

Gio duduk di dekat Gea dengan tidak tenang, dia takut kalau gadis ini akan membahas perilaku dan sikapnya selama hampir tiga tahun ini.


"Lo kesiksakan sama sikap dingin gue seminggu ini? sama gue juga. Kita sejak kecil selalu bersama, bermain bersama dan kalau ribut juga cepet baikannya. Lalu lo tiba-tiba bersikap dingin sama gue. Gue bertahan, gue anggep lo mempunyai sikap dingin sekarang. Tapi lo baik sama semua orang kecuali gue. Apa bisa gue tenang? gue selama ini nahan Gio. Lo itu saudara gue tapi lo musuhin gue. " Gea memulai dengan mengingat bagaimana dia bertahan akan sikap Gio selama ini.


"Tapi itu dulu Gea" Gio nggak mau bahas itu.


"Dulu lo bilang? seminggu yang lalu lo masih bersikap dingin sama gue lo pikir gue nggak ingat gimana rasanya kalau ngomong lo cuekin kalau ngajak ngobrol lo diemin. heh? " Gea menggebu-gebu.


"Ya udah maaf, maafin gue" Gio terlihat menyesal. " Gue ada alasannya tapi gue nggak bisa bilang.Maaf" Gio menyentuh punggung tangan Gea.


Gea menghempaskan.


"Sekarang lupain soal itu please Gea, kita bahas yang lain. Gue janji nggak akan bersikap dingin lagi sama elo" Gio berusaha meraih tangan Gea lagi tapi tidak berhasil.


"Gue ngantuk, males ngomong lagi. Pergi sana lo! " Gea malah merebahkan diri lagi. Bahkan kini dia menyelimuti tubuhnya hingga kepala.


Gio berusaha untuk sabar.


Dan menunggu Gea bicara lagi. Dia tahu gadis ini tidak akan betah kalau ditungguin. Gio bahkan ikut merebahkan diri di samping Gea.

__ADS_1


"Gue tidur disini sambil nungguin lo mau bicara lagi. "


Gea yang didalam selimut melotot.


Lalu membuka selimut, menoleh kesamping.


"Lo gila ya! pergi lo! Kita ini bukan saudara jadi nggak bisa tidur bareng. Pergi nggak lo! " usir Gea.


Gio juga menoleh ke arah Gea.


"Udah sadarkan kalau kita bukan saudara jadi kita harus bicara bagaimana baiknya tentang hubungan kita." Gio menatap Gea.


" Jangan bilang lo setuju kita nikah" Gea bertanya.


"Belum, gue nunggu pendapat lo"


Gea bangun, dia tidak tahan berada di situasi seperti ini. Dia sadar emang Gio bukanlah saudaranya jadi tidak baik terus menerus berbaring berdempetan seperti ini.


"Gue belum memikirkan itu. Tapi apa nggak ada cara lain selain kita nikah? " Gea agak ragu menyebut kata nikah.

__ADS_1


Gio ikut duduk.


"Entahlah, kita harus bicarakan sama mama papa. Kita pikirkan juga cara yang lain. Tapi mungkin akan sangat sulit, karena ini wasiat nenek yang sudah meninggal. Sepertinya hukumnya wajib."


Gea memikirkan bahwa yang dibilang Gio benar.


"Lo tahu sendiri papa dan mama menggantungkan karir mereka di rumah sakit. Apalagi rumah sakit itu peninggalan kakek dan nenek yang didirikan sendiri oleh mereka dari nol. " Gio mengingatkan tentang rumah sakit yang jadi penyebab mereka harus menikah.


"Gue bahkan nggak minat kerja di rumah sakit, apalagi memilikinya. "


"Tapi mereka yang berjuang membesarkan rumah sakit dan mengembangkan nya tidak akan rela rumah sakit dihancurkan. Begitu pula para karyawan yang sudah menggantungkan hidupnya di sana." Gio memberi penjelasan lagi.


"Kita nggak harus menghancurkan rumah sakit juga Gio"


"Iya bisa aja, tapi kepemilikan akan berpindah. Papa tidak akan menjabat sebagai direktur rumah sakit tapi akan kehilangan rumah sakit untuk selama-lamanya. Karena rumah sakit akan menjadi milik pihak lain yang akan membelinya dan uangnya di donasikan semuanya. Lalu papa dan mama yang sudah mencintai rumah sakit hanya bisa menggigit jari. " Gio menjelaskan lagi panjang lebar.


Gea diam, dia tidak menanggapi. Namun berpikir apa yang Gio bilang semuanya benar.


"Kita harus menyelamatkan rumah sakit. Kita tetap bisa sedekah juga tanpa menjual semuanya. Agar bisa menjadi jariah kakek dan nenek diakhirat. Dengan bermanfaat nya rumah sakit bagi semuanya juga akan menambah amal mereka. " Gio mode ceramah serius.

__ADS_1


Gea terpana mendengarnya,sudah lama dia tidak mendengar Gio berbicara panjang lebar.


__ADS_2