Menikahi Kembaranku

Menikahi Kembaranku
Episode 18 : Apa kita harus nikah?


__ADS_3

"Apa kita harus nikah? " Gea bertanya.


"Hem, sepertinya begitu"


"Lalu bagaimana dengan kehidupan kita nantinya?kita masih kecil kita masih sekolah dan masih belum siap berumah tangga apa bisa? " Gea bertanya-tanya.


"Kita hanya menikah, kita nggak harus merubah hidup kita. Kita akan tetap menjalani masa muda kita seperti biasanya. Kita tetap sekolah dan meriah cita-cita hanya status kita aja menikah agar kita tetap jadi keluarga gitu aja Gea" Penjelasan Gio.


"Apa bisa seperti itu? lo pikir gampang?"


"Kita belum mencoba"


"Gila ya lo, lo pikir nikah coba-coba?"


Gio malah kemakan omongannya.


"Bukan itu, maksud gue kita nikah aja. Pasti akan menemukan gimana caranya kita tetap menikmati masa muda tanpa terbebani oleh status kita." Gio mencoba menjelaskan.


Gea mencoba berpikir tapi nggak bisa paham, karena setahu dia kalau dia udah nikah dan jadi istri orang dia akan sepenuhnya berbakti sama suami dan melayaninya. Lalu saat Gea memikirkan melayani Gio, malah berpikir melayani dia di tempat tidur. 'aduh'


Gea pindah tempat karena pikirannya kotor dan posisi mereka berdua di atas tempat tidur juga.Gea duduk di kursi belajar.


"Gue udah mikirin seminggu ini kalau kita nikah kita tetap menjalani kehidupan masing-masing tanpa ada yang tahu status kita. Dan kita bisa tetap satu rumah karena kita keluarga yang sebenarnya. " Gio malah mendekati Gea.

__ADS_1


"Gue masih nggak bisa berpikir kalau gue nikah sekarang. Gue aja nggak pernah pacaran tiba-tiba nikah. Elo mah enak udah pernah pacaran beberapa kali. Oh terus kalau kita nikah gimana nasib pacar lo?" Gea ngelantur nggak jelas karena setahu dia Gio punya pacar pastinya.


"Gue juga belum pernah pacaran" Gio jujur.


"Jadi selama ini mereka itu cuma lo php in gitu? "


Yah ketahuan deh.


"Hem, gue nggak suka sama mereka. "


Gea jadi ingat kalau Gio suka sama seseorang.


"Terus lo suka sama siapa sampai nggak bisa memiliki itu cewek? " Gea penasaran.


"Ups, sorry gue nggak sengaja nemuin notes di laci lo. Siapa dia? "


"Bukan urusan lo" Gio tidak mau Gea tahu sekarang.


"Terus nasib gue nantinya gimana kalau gue nikah sama elo sedangkan hati elo milik cewek lain apakah itu adil? " Gea malah bahas itu.


Gio tersenyum, " Jadi elo berharap gue beneran cinta sama lo sebagai istri gue gitu? "


Gea gelagapan, " gue belum setuju nikah ya"

__ADS_1


Gio mengambil kursi rias Gea yang ada di sebrang tempat tidur. Dan duduk dihadapan Gea.


"Kita nikah karena balas budi akan jasa papa dan mama mengangkat kita jadi anak mereka. Dan menyelamatkan hidup rumah sakit agar tetap beroperasional seperti biasanya. Kita bisa berlahan membahas perasaan kita setelah menjalaninya. Yang penting wasiat nenek bisa terlaksana dan papa mama senang. Itu saja Gea" Gio menyimpulkan agar Gea tidak terlalu jauh menanyakan soal perasaannya.


Gea termenung.


"Tapi gue yakin lo bakal ngekang gue melihat sifat lo itu. Lo bakal ngeklaim gue sebagai milik elo jadi kayanya gue nggak bakalan bebas kalau gue sudah nikah. " Gea masih ragu.


"Tidak Gea, gue nggak akan kaya gitu. Gue kan udah bilang hanya status kita yang berbeda tapi kehidupan kita nggak akan berubah. Lo boleh ngapain aja kaya biasanya gue nggak akan ngekang elo. Serah lo mau ngapain. " Gio berpikir gitu karena tahu Gea tidak akan berbuat aneh-aneh.


"Kalau misal gue deket sama cowok lain gimana? " Gea iseng.


"Ya gue juga bisa deket sama cewek lain juga kan. " jawab Gio enteng, karena tahu Gea tidak akan melakukan itu.


Gea berpikir.


"Baik"


"Baik apa? " tanya Gio menatap Gea. "Lo mau nikah sama gue? "


"Iya, gue mau" Gea jawab dengan memalingkan mukanya.


Hati Gio sangat senang, rasanya seperti mengungkapkan perasaannya lalu diterima.

__ADS_1


__ADS_2