
Gea mulai bangkit, sebagai satu-satunya anak papa dan mama sekarang kini dia sadar kalau dia harus bangkit dan semangat kembali meneruskan hidupnya dan pendidikannya. Apalagi setelah menemukan apa yang menjadi passionnya selama ini dan mama mendukung.
Dia memutuskan kuliah. Itu membuat kedua orang tuanya senang.
"Kamu mau ambil jurusan apa" Papa senang ketika diberi tahu kalau Gea mau kuliah tanpa tahu minat Gea. "Bisnis kan? "
Gea menggeleng, "kalau itu lebih baik Gea nggak kuliah. Itu terlalu berat buat Gea. "
"Lah terus mau ambil apa? Kamu nantinya akan menjadi penerus rumah sakit. Kamu sudah tidak bisa menjadi dokter sekarang kamu mau ambil jurusan apa?. " Kalimat papa agak aneh.
Membuat Gea sedikit ada rasa ragu, kalau papa akan memaksakan kehendaknya lagi. Mungkin dia tidak akan setuju dengan jurusan yang akan diambil Gea.
"Itu lagi, itu lagi. " Gea cemberut.
" Lagian papa masih muda masih mampu buat mengurus rumah sakit. Gea dari dulu nggak tertarik sama sekali bekerja di rumah sakit. "
"Lalu apa jurusan yang akan kamu ambil, sayang? "Melihat putrinya agak merajuk dia melemah dan ingat kata-kata mama bahwa hanya Gea yang mereka punya kali ini.
__ADS_1
" Yang berhubungan dengan kuliner."
Papa menghela nafas, tidak menyangka akan bertolak belakang apa yang seharusnya dia ambil. Berat rasanya bagi papa untuk menuruti keinginan putri tercintanya ini. Namun kalau tidak dituruti dia tidak akan mau kuliah, jadi dengan terpaksa papa menyingkirkan keegoisannya.
"Baiklah, terserah kamu asal mau kuliah "
*
Dan disinilah Gea di Fakultas Teknik jurusan kuliner. Dunia kuliner akan membuat Gea senang karena itu yang dia suka dan kuasai. Selain memasak disini juga ada management dan bisnisnya, bisa mempelajari cara membuka usaha di bidang kuliner.
Tidak sulit bagi Gea menarik perhatian, karena memang dia cantik dan sangat menarik.
Disini dia bisa bersosialisasi bebas tanpa ada yang mengekang dan membatasi dirinya.
"Gue nggak nyangka setelah kepergiannya,gue bisa bebas begini. " Gea menghela nafas.
Tapi rasanya memang masih sakit, namun harus dia lupakan cowok itu.
__ADS_1
*
Di tempat berbeda Gio juga mulai beradaptasi dengan lingkungan yang sangat baru baginya. Dia tidak jadi masuk fakultas kedokteran, atas usul papi dia masuk bisnis management. Karena dia nantinya akan menjadi pewaris perusahaan papinya. Banyak usaha papi yang membutuhkan dirinya nantinya.
Gea benar-benar tidak bisa dihubungi. Walau dia menelpon mama, Gea tidak mau bicara dengan nya. Mama dimintai nomer nya Gea yang baru juga nggak mau ngasih karena atas permintaan cewek itu.
"Mau nya apa itu cewek! Bangs*t! " Gio emosi sendiri.
Tidak diduga mami mendengar dan melihat anaknya yang selalu uring-uringan nggak jelas.
"Sudahlah Gio, mungkin kalian butuh waktu sendiri dulu untuk fokus ke pendidikan. Nanti kalau kamu pulang kan bisa ketemu lagi. " Mami memberi pengertian.
"Dia nggak mau Gio hubungi, dia kaya nggak mau lagi berhubungan dengan ku mami" Gio nampak sudah nyaman memanggil ibunya ini dengan mami.
"Biarkan saja waktu yang akan mempertemukan kalian. Kalau kalian masih saling cinta juga nggak akan ke mana-mana. Lagian kalian tetap suami istri mau lari kemana itu Gea kalau statusnya aja istri seorang Gio, heh? "
Kalimat mami membuat Gio sadar kalau memang mereka harus berpisah dulu untuk sementara waktu.
__ADS_1