
Gea merasa beberapa hari ini Gio seperti menghindarinya.
Berangkat pagi tanpa sarapan, pulang selalu malam. Hampir saja tidak bertemu Gea di rumah atau di sekolah sama kaya dulu lagi. Bedanya dulu Gio masih sarapan pagi.
Diam-diam Gea masuk kamar Gio ketika dia belum pulang.
Gea bawa buku nanti buat alasan belajar bareng.
Lalu beberapa saat kemudian Gio pulang, tapi ternyata dia sudah melepas kemeja seragam sekolahnya diganti kaos hitam.
"Gea? " agak kaget
"Baru pulang? "
"Hem" Gio meletakkan tas di kursi. "Ada apa? " dengan muka datar dia bertanya.
Gea bingung."Em, belajar bareng" akhirnya dia jawab itu sambil menunjuk buka geografi yang diletakkan di meja belajar Gio.
"Gue nggak belajar geografi, em eh lo belajar sendiri aja. " Gio mencari alasan.
"Gue tahu, ya sudah gue pergi" Gea putus asa. Lalu menuju pintu.
Sebelum sempat keluar baru membuka pintunya Gio menyesal, "Gue mau belajar bareng lo"
Gea sudah tidak mood lagi. Lagian niatnya cuma mau lihat sikap Gio, bukan belajar. "Sudahlah, gue mau tidur aja. "
Gea balik ke kamarnya.
Gio di dalam kamarnya mengutuk diri sendiri karena tadi sempat menolak ajakan Gea.
Gio lalu ke kamar Gea, kebetulan pintu tidak dikunci
Tapi Gio tetap mengetuk.
__ADS_1
Dilihatnya Gea sedang telponan menghadap jendela. Jadi tidak tahu Gio datang.
"Belum, gue belum tidur" suara Gea pada HP itu
"Hah? boleh. Besok kita bertemu di perpus"
"Iya, lo janji ya bantuin gue"
"Ok baiklah"
"Ya malam juga Jo"
Gio tercengang ternyata Gea sedang telponan dengan Jonatan.
Gea menoleh,ada Gio.
"Ada apa? "
"Bukannya lo nggak mau? "
"Gue bisa semua mata pelajaran, mudah buat gue kalau gue membaca dan memahami sesaat." Gio agak menyombongkan diri.
"Huh, sombong. " Gea mencibir.
Kemudian mereka belajar bersama, bukan sebenarnya Gio menyuruh Gea untuk membaca buku saja. Dia sepertinya kecapekan jadi ngantuk.
Berulang kali dia nyender dan menguap.
"Dari mana aja sih lo? sampai capek gini? " Gea merasa kasihan.
"Habis dari kantor rumah sakit" jawab Gio berusaha semangat.
"Lo kerja? "
__ADS_1
"Papa minta bantuan gue"
"Bukannya lo juga harus belajar? kenapa kerja juga? kita ini udah kelas 3,bentar lagi ujian. Ah tidak bahkan setiap hari ujian di semester akhir ini. " Gea ngomel.
Gio mengacak-acak rambut Gea, "Makanya lo harus rajin belajar"
"Terus kenapa lo selalu berangkat pagi banget? " pertanyaan Gea membuat Gio bingung jawabnya.
"Gue harus em ke-" ( ngehindari elo karena bingung harus bersikap apa')" dilanjut dalam hati"Ke rumah sakit menyerahkan kerjaan gue yang malamnya gitu" Gio berbohong.
"Oh,lo mending tidur aja, gue juga mau tidur. " saran Gea percaya aja sama yang dibilang Gio.
Gio berdiri, "Baiklah"
Sebelum pergi Gio memberanikan diri untuk bertanya tentang waktu itu.
"Lo nggak merasa aneh gue ngungkapin perasaan gue waktu itu?"
Gea sejenak diam, "aneh, lo orang gila mungkin kalau kita beneran saudara lo mungkin sudah masuk rumah sakit"
Gio tersenyum, "Nyatanya gue normal. "
"Udah pergi sana! " usir Gea
"Bentar satu lagi. Lo suka cowok yang bagaimana? masa lo nggak suka gue? " Gio belum mau pergi.
"Gio,gue lebih suka lo yang dingin yang nggak bawel dan sombong. Karena akan terasa damai" jawab Gea bercanda.
"Serius?"
Gea mendorong Gio agar cepat keluar.
Ketika sudah keluar, Gea merasa Gio itu aneh." Kemarin kaya menghindar sekarang banyak ngomong kaya nggak ada apa-apa gitu. Apa cuma perasaan gue aja? dan nyatanya Gio emang sibuk, bahkan dia kerja juga."
__ADS_1