
"Habis itu kalian bisa bulan madu terus bikin cucu buat kita. " Papi meneruskan pembicaraan soal rencana pesta pernikahan.
"Kalau itu Gio setuju banget" Gio dengan semangatnya mendengar kalimat papi
Mendapati cubitan kecil dari Gea dia nggak peduli.
"Dan kami juga rencananya akan tinggal dirumah kami sendiri. " Gio memutuskan sendiri padahal Gea belum setuju.
Gea melotot, "Gio"
"Bagus itu. " papi setuju ternyata.
"Sudah ada rumah yang mau ditinggalin memangnya? " papa bertanya dengan serius.
"Mungkin kita akan tinggal di apartemen atau di hotel. " jawab Gio.
"Masih mungkin kan? " mama sedikit berat.
"Ada apartemen milik mami dulu, kalian bisa tinggal disitu. " mami mengusulkan.
"Tidak mami, kami akan cari sendiri saja. " Gio menolak.
__ADS_1
"Memang sudah wajar sih kalau anak gadis bakalan dibawa oleh suaminya, kalau papa terserah kalian. " papa nyerah
"Kalau mama sih pinginnya kalian tetap disini. Rumah bakalan sepi tidak ada kalian. Mama rindu masa kecil kalian yang selalu membuat rumah ini hidup." mama sampai berkaca-kaca.
Gio yang nggak tega segera memeluk mama, "kita akan tetap kesini kok ma walau tinggal terpisah. "
"Ini sudah resiko mama, jangan sedih gitu. Anak-anak sudah besar sekarang. Nanti kalau mereka punya anak bisa kamu urus dan rumah ini ramai lagi. " papa juga memberi pengertian.
"Benar, kami tidak pergi cuma agar kami bisa menata rumah tangga kami sendiri itu seperti apa. " Gio membujuk mama.
Lalu hening, mama belum setuju.
Karena sudah malam mereka memutuskan istirahat saja. Mami dan papi tidur di kamar Gio yang beberapa hari ini dipakai Gerald, dengan tambahan kasur lagi tentunya.
"Mau berantem lagi? " Gio hendak tidur menyadari kalau wajah istrinya ini sedari tadi begitu.
"Ya habisnya lo memutuskan sendiri tadi, gue bahkan belum setuju. Lo lihat juga mama keberatan kan. "
"Gue kan pemimpin rumah tangga kita, ya lo harus ngikutin gue dong. " Gio memilih merebahkan diri, masa bodo dengan Gea yang ngambek.
"Mama itu sangat senang ada lo disini lagi. Mama bahkan hampir setiap hari kan telpon lo selama delapan tahun ini? Ini saat yang ditunggu mama bisa bersama-sama lagi. Dan lo anak kesayangan mama Gio. Asal lo tahu saat gue sekolah di Prancis jarang mama telpon paling seminggu sekali. Beda sama lo, dia lebih sayang sama lo Gio. Makannya mama nggak mau lo tinggalin lagi. "Gea berbicara dengan air mata terus menetes.
__ADS_1
"Ge, lo kok gitu. Mama juga sayang sama lo, makanya dia nggak mau anak gadisnya dibawa suaminya."Gio memeluk wanita ini.
" Ya iyalah suaminya anak kesayangannya. " Gea menenggelamkan wajahnya didada Gio.
"Sudahlah,mama pasti akan ngerti nanti. Kita tidur aja ya, besok masih ada banyak pekerjaan. Terus menyiapkan pesta pernikahan juga kan. "
"Dan mengenai pesta emang perlu ya? gue kaya nggak siap diketahui publik kalau jadi istri konglomerat. Nanti bakalan banyak gosip yang beredar. " Gea jadi ingat efeknya.
"Gosip apa? emangnya? lo kebanyakan berpikir negatif makanya jadi gini. Udah deh serahkan semuanya sama gue ya. " Mendekap erat dalam pelukan menenangkan kekasih agar tidak khawatir tentang kehidupan.
*
Didalam kamar papa dan mama ternyata juga terjadi perdebatan kecil perihal anak mereka akan memilih tinggal terpisah.
"Papa lihat Gio sudah sangat mapan, dia pasti membahagiakan Gea ma. Biarkan saja, lagian mereka butuh privasi juga. Kalau disini kan nggak sebebas rumah sendiri. " papa memberi pengertian.
"Nggak bebas gimana, ini rumah mereka sejak kecil. "
"Ya nggak bebas bermesraan nya, walau mereka sudah menikah lama tapi kan lama tidak bertemu, jadi pengantin baru lagi kan. Soalnya dulu habis nikah mereka nggak pernah mesra sama sekali, kan masih remaja. Sekarang mereka sudah dewasa, sudah saatnya membina rumah tangga yang sebenarnya. "papa masih saja memberi pengertian pada istrinya ini.
"Mama hanya ingin selalu bersama pa"
__ADS_1
"Mereka nggak pergi mama, kamu makin tua makin manja ya" Papa malah menggoda mama.