
Gea menghampiri Gio ke kamarnya karena sudah waktunya berangkat.
"Ayo Gio, gue udah siap. " Ajak Gea.
Gadis itu lalu menghadap cermin yang ada dikamar Gio.
Gio mendongak " Cantik banget lo, mau pamer sama siapa? "
"Ya elo lah" Gea kini menghadap dirinya.
Gio diam sejenak karena mengagumi Gea yang sangat cantik walau dengan make up tipis dan gaun simpel sederhana.Gio suka, tapi malah bersin kecil.
"Kenapa? Lo sakit? " Tanya Gea
"Kayanya mau flu"
"Ya udah lo di rumah aja, gue bisa pergi sendiri. "
"Nggak rela gue, udah ayo pergi. " Gio menarik tangan Gea.
Mereka pergi menggunakan mobil
"Ge, besok belajar mengemudi ya. Lo jangan manja deh" Gio tiba-tiba ngomongin itu.
"Ngapain, kan ada elo ini. "
"Nggak boleh gitu, lihat deh gue itu bisa sakit. Nah kalau ada apa-apa sama gue em misal bawa gue ke klinik atau rumah sakit masa harus nunggu taksi datang? Padahal ada mobi juga. "
"Ya jangan sakit dong. "
"Itukan cuma misalkan aja. "
"Iya iya, lo yang ajarin ya. "
"Kursus aja gue nggak yakin bisa sabar nantinya, dari pada gue marahin lo terus karena kebodohan lo kan. "
*
Tiba di tempat pesta,
Pestanya meriah, ada panggung live musik dan disjoki juga.
"Jangan jauh-jauh lo sama gue. " Gio terus saja menggandeng tangan Gea.
__ADS_1
"Iya iya. "
Mereka lalu menikmati pesta berkumpul dengan semua teman-teman dan bersenang-senang.
"Weih, couple goal kita datang" sambut Zico, padahal dia yang baru datang. Dia emang gitu.
Mereka berdua cuma tersenyum.
"Katanya lo mau datang sama gue? " Zico ngomong ke Gea dengan menggoda.
"Mending gue pergi sendiri" Gea mengibaskan rambutnya.
Ada band sekolah yang mengiringi, semuanya menikmati.
Ada juga yang ikut bernyanyi walau suara sumbang.
"Gio, gue rasa yang lo nggak bisa adalah bernyanyi iyakan? " Gea bertanya saat menikmati band sekolah yang sedang perform.
Ini seperti tantangan buat Gio.
"Lo lihat aja, jangan jatuh cinta ya setelah itu " Gio menjauh dari Gea.
Entah kemana dia pergi.
*
Itu membuat syok Gea, "astaga cowok gila. "
Gio yang di panggung meminjam gitar lalu berdiri dibalik mikrofon yang ada di tiangnya.
"Sorry ya teman-teman semua, ijinkan gue bernyanyi disini." Gio minta ijin.
Tentu saja semua memberi tepuk tangan menyambutnya.
Ini malah lebih heboh daripada band tadi. Karena kepopuleran Gio tidak bisa ditandingi.
"Lagu ini buat istri gue tersayang, " baru ngomong gitu sudah pada teriak.
"Laguku, by ungu"
Gio bahkan bernyanyi dengan memainkan gitar.
Mungkinkah kau tahu
Rasa cinta yang kini membara
__ADS_1
Dan masih tersimpan
Dalam lubuk jiwa
Ingin kunyatakan
Lewat kata yang mesra untukmu
Namun ku tak kuasa
Untuk melakukannya
Chorus:
Mungkin hanya lewat lagu ini
Akan kunyatakan rasa
Cintaku padamu rinduku padamu
Tak bertepi
Mungkin hanya sebuah lagu ini
Yang selalu akan kunyanyikan
Sebagai tanda betapa aku
Inginkan kamu
Gea malu, dia menutup mukanya salah tingkah. "Gio beneran gila. "
Setelah selesai semuanya memberikan tepuk tangan. Gio langsung turun begitu selesai berterima kasih.
"Gimana? " Gio menaikan alisnya.
"Lumayan" jawab Gea sebenarnya mau bilang bagus banget tapi nggak usah karena Gio kalau dipuji bakalan tambah gede kepalanya.
"Kok cuma lumayan? "
Lalu ada Zico dan lainnya yang memberi pujian.
"Bakat terpendam ceritanya? " Dinda memuji.
"Habis ini lo jadi penyanyi boleh lah, gue yakin bakalan melejit. " Kini Bella juga
__ADS_1
"Boleh juga ide lo. " Gio sekarang jadi ramah sama semuanya.
Mereka menghabiskan malam dengan bergembira, mengingat ini hari perpisahan mereka saat sma. Semua akan berpisah setelah ini jadi mereka harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.