
Kali ini Gea juga membuat makan siang untuk tamu 308 alias CEO baru itu.
"Nanti chef disuruh temenin lagi, tapi tenang katanya dia mau makan di restoran. " kata Dino menyampaikan pesan dari pria misterius itu.
"Syukurlah." Gea menghela nafas. "Eh tapi apa dia marah ya?"
Dino cuma mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
***
Makan siang tiba,
Benar saja tamu itu sudah siap di restoran setelah tadi berkeliling hotel melihat-lihat.
Gea menyajikan makanan dibantu Waiters yang membawakannya.Setelah selesai tersaji dia mempersilakan tamu itu.
Pria itu selalu menatap Gea.
"Saya mohon maaf tuan, soal tadi pagi atas kesalahan yang menyinggung anda. Tapi itu di sebuah kamar jadi saya kurang nyaman. Kalau ada yang akan anda bicarakan tentang pekerjaan misal menu makanan bisa kita bicarakan di sini di restoran akan lebih nyaman." Gea meminta maaf dan jujur.
"Ngapain gue bicara soal kerjaan? " menatap dingin.
"Saya sudah tahu anda pemilik hotel ini yang baru, jadi pasti anda sedang mencari tahu kan tentang hotel ini. Lalu pasti juga ingin tahu makanannya makanya anda ingin menemui saya kan? " Gea duduk padahal nggak disuruh duduk.
Pria itu malah tertawa ringan.
"Gue kira lo cuma pura-pura ternyata beneran lo nggak ngenalin gue? "
Gea jadi bingung memang siapa sih orang ini?
__ADS_1
"Saya tahu kok anda yang tadi malam. " Gea masih berpikir seperti itu.
"Gemes banget, heh untung di tempat umum kalau tidak gue makan lo! "dengan pelan.
"Hah, anda bilang apa? " Gea tidak begitu jelas mendengar.
"Sudahlah, nanti aja. Sekarang ayo makan sambil jelasin makanan apa ini seperti yang lo bilang tadi. " akhirnya pria itu menuruti permainan saja, berpura-pura.
Gea makan bersama dengan menjelaskan apa yang ia masak, kali ini dia masak menu masakan padang. Gea pikir akan disukai tamu ini yang nampaknya menyukai masakan Indonesia.
Lalu datang Pak Haidar, buat Gea ia adalah penyelamat karena sedari tadi dia hanya mendapatkan tatapan aneh dari orang asing ini.
Kaya tatapan antara nafsu dan naksir pokoknya bikin Gea frustasi.
"Selamat siang tuan Wilson. " sapa Haidar.
Orang yang bernama tuan Wilson tadi berdiri, "Siang juga bang Haidar, apa kabar. " lalu mereka bahkan berpelukan akrab.
"Sudah ada pak Haidar, saya permisi ya tuan. Pak Haidar mari. " Gea pamit lalu pergi dengan perasaan lega.
Lalu kedua pria itu ngobrol banyak, mereka sudah lama tidak bertemu jadi banyak yang harus dibahas. Transaksi jual beli waktu itu saja hanya lewat telpon dan video juga disertai saling percaya.
"Habis ini lo bisa mendapatkan surat hotel ini. " kata Haidar.
"Nanti saja, gue masih mau liburan. Lagian rencananya kan masih tiga hari gue kesininya. Bukannya gue mau cepat-cepat cuma mau lihat-lihat dulu hotel ini. "katanya santai.
"Baiklah, semoga anda puas tuan Wilson. "
****
__ADS_1
Malamnya Gea sudah berada di rumah, setelah tadi menyiapkan makan malam untuk CEO baru itu.
Dia melihat kamar Gio terbuka, masih merasa aneh kalau kamar yang sudah lama tidak ditinggalin kini ada penghuninya.
Gea masuk,
"Heh lo kesini mau ngapain? " Tanya Gea pada bocah enam tahun yang kini sedang duduk di balkon sambil main game.
Gayanya sama kaya Gio.
"Liburan lah" jawab Gerald santai.
"Kenapa nggak sama abang lo ke sininya? " tanya Gea berat.
"Cieee nanyain kak Gio. Kangen ya?" Gerald malah meledek.
"Duh, percuma gue nanya, sama kaya abang lo. Lupain!. " Gea emosi sendiri , memilih meninggalkan Gerald.
Entah kenapa sejak kehadiran anak itu kini Gea merindukan Gio, sebenarnya setiap hari tapi ia bisa lupa karena padatnya aktifitas hariannya.
"Apa lo udah lupain gue? "
Gea malah kepikiran sama tamu rewel hari ini.Senyum dan sorot matanya mirip Gio.
"Kenapa jadi semua mirip Gio? ini di rumah ada yang mirip tadi di hotel ada yang mirip juga."
Gerald muncul tiba-tiba, "Tandanya rindu akut itu. "
"Heh! bocil tau apa lo! "
__ADS_1