Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 10– Minta Izin


__ADS_3

Cahaya Lah yang dapat menggelapkan bayangan itu sendiri




“Orang yang menyukaimu, Reno. Dia tidak akan membuatmu curiga dengan apa yang kau rasakan dari hati. Perasaan cinta adalah sesuatu yang jelas dan nyata, ia tidaklah rumit kecuali kau mencampurinya dengan akal.” Ucap Pak Ahmad menjelaskan, sudah pertanyaan ketiga kali yang ia jawab dari para murid.



Reno memangut-mangutkan kepalanya, ia melihat Pak Ahmad dengan wajah antusias ketika mendengar penjelasan. Entah apa yang ada di kepalanya, kenapa dia bertanya tentang cinta pada guru biologi.



“Ada pertanyaan lagi?” Pak Ahmad berseru lantang, ia sudah siap menjawab pertanyaan apapun dari para murid.



“Saya pak!” salah satu murid laki-laki mengacungkan tangannya.



“Iya silahkan, apa pertanyannya?”



“Eh, kalau ciri-ciri pasangan selingkuh apa ya, Pak?” murid itu bertanya ragu-ragu namun tetap memaksa untuk berbicara.



Aku menepuk jidat. Hei, apa hubungannya pelajaran biologi dengan urusan selingkuh, pertanyaan kalian sudah melenceng semenjak pertanyaan ke dua di mulai. Ini benar-benar sudah salah kaprah.



Pak Ahmad tertawa mendengar pertanyaan tersebut. “Aneh-aneh saja, di banding kata selingkuh alangkah baiknya kita ganti dengan berbohong, karena orang yang selingkuh pasti suka berbohong bukan?”



Murid itu berpikir sesaat sebelum akhirnya mengangguk. Tidak masalah pertanyaannya sedikit di rubah, asalkan itu masih bisa di jawab, begitu kira-kira pikirnya.



“Ok, Bapak akan jawab,” Pak ahmad terdiam dahulu, bola matanya terlihat menengok ke atas, mencoba menyusun kata. “ Biasanya orang berbohong, mereka akan enggan sekali bertatap mata dengan lawan bicaranya, mereka selalu salah tingkah, berbicara tidak jelas.. ” ucap Pak Ahmad menerangkan panjang lebar.



Sekitar lima belas menit lamanya Pak Ahmad menjelaskan tentang ciri kebohongan, entah dari segi pandangan, segi gerak-gerik, lalu dari segi gaya bicara. Semuanya di jelaskan secara detail, seakan dia adalah ahli di bidang itu.



Para murid yang awalnya tertawa dengan pertanyaan konyol tersebut, menjadi serius ketika Pak Ahmad menjawabnya. Tentu, selain karena menarik untuk di bahas, mereka juga merasakan bahwa ini sangat bermanfaat.



“Sudah dulu anak-anak, jam pelajaran Bapak sudah habis.” Ujar Pak Ahmad yang sudah beberapa kali menengok jam di depan papan tulis.



“Yahh...” Para murid berseru kecewa, mereka sudah serius memperhatikan ke depan, mendengar kata demi kata.



“Setengah jam lagi aja, Pak." Salah satu murid mencoba memohon.



"Tidak bisa anak-anak." Balas Pak Ahmad.



“15 menit aja,” yang lainnya ikut menimpali.



Pak Ahmad dengan tegas menggeleng.



“Sebentar, Pak. Lima menit doang.”


__ADS_1


Semua murid mencoba membujuk Pak Ahmad, menyuruhnya untuk tidak dulu pergi. Mereka sudah benar-benar tergila-gila oleh pelajarannya, bukan biologi, tapi ilmu psikologi cintanya.



“Tidak bisa anak-anak, bapak punya jadwal lain di kelas sebelah.” Ucapnya sekali lagi, namun kali ini nadanya sedikit tegas.



Mendengar alasan tersebut, para murid tidak bisa menahan lagi, mereka menyerah. Mereka yakin kata-kata apapun tak akan membuat Pak Ahmad tinggal, selain itu ada sesuatu yang teringat selintas di kepala mereka. Itu benar, pelajaran selanjutnya adalah Bu Lisa.



Aku tersenyum bahagia, pelajaran yang aku tunggu-tunggu akhirnya di mulai, yaitu pelajaran matematika. Walau sebenarnya aku agak enggan saat Pak Ahmad pergi seperti kebanyakan murid, tapi jika itu di bandingkan pelajaran istriku, maka itu tidaklah masalah.



Murid laki-laki sekelas juga langsung berubah sumringah ketika menyadari hal ini, mereka hampir lupa bahwa pelajaran yang di tunggu-tunggu sebelumnya hanya tinggal beberapa detik lagi.



“Selamat pagi anak-anak.”



Baru saja Pak Ahmad hilang dari belokan pintu depan, Bu Lisa langsung nongol lima detik setelahnya. Dia memang guru rajin, semenit pun tak akan ia biarkan begitu saja membuat para muridnya menunggu.



Seperti biasa, pakaian yang ia kenakan saat belajar memakai baju dinas dengan rok selutut, rambut panjangnya sengaja menjuntai lurus, serta disisinya ada hiasan pita biru yang menempel. Wajahnya terlihat seperti remaja SMA, namun ketika berada di dekatnya, maka akan terasa aura dewasa.



Dia duduk di kursi depan, melihat daftar absensi, lalu membuka buku paket yang ia bawa. “Sampai materi apa kita kemarin?”



“Aritmatika, Bu.” Tanggap Reno cepat, dia seakan tahu bahwa Bu Lisa akan menanyakan hal serupa.



“Oh, kau tanggap sekali Reno, seperti biasa. Apakah kau belajar semalam?” Bu Lisa tersenyum, memuji Reno.




Bu Lisa mengangguk. “Itu benar. Ah, itu berarti kau sungguh-sungguh telah menanti pelajaran ini di mulai."



Reno tersenyum riang, dia seperti orang yang beruntung sedunia ketika mendengar sanjungan tersebut. Sedangkan untuk yang lainya menatap tajam Reno, terutama laki-laki, mereka merasa telah kalah cerdik untuk membuat Bu Lisa meliriknya.



Setelah itu Bu Lisa mulai membuka suara, memulai pelajarannya. Menulis rumus-rumus di papan tulis lalu menjelaskannya dengan perlahan, cukup detail menerangkannya membuat semua murid dapat cepat memahami materi tersebut.



Satu setengah jam berlalu, tak terasa pelajaran matematika sudah hampir di ujung waktunya. Aku melirik jam tangan yang kini menunjukan hampir jam 10, hanya lima menit lagi hingga kami akan istirahat.



“Sudah hampir habis anak-anak sebaiknya kita jadikan PR saja hari ini.” Ujar Bu Lisa, dia sudah memberikan tugas sebelumnya, tapi karena waktunya yang tidak sempat, ia mengubahnya menjadi tugasan rumah.



Sebagian murid mengangguk senang, karena ini adalah cara untuk membuat mereka di perhatikan Bu Lisa. Lalu untuk sebagian lainnya hanya menerimanya dengan sebal, mustahil dalam satu pertemuan tidak ada tugas, itulah yang mereka rasakan.



KRING!



Aku mendongak ke bawah, ada suara pesan yang masuk di handphone, saat aku membukanya ternyata itu adalah pesan dari Bu Lisa.



“*Temui aku di ruangan UKS pas istirahat, ada hal yang mau aku bicarakan*."


__ADS_1


Aku menaikan alis, tidak percaya atas pesan tersebut. Bukannya dia yang selalu melarangku untuk tidak menemuinya di sekolah, namun anehnya justru sekarang dialah yang memintaku untuk menemuinya.



\*\*\*



“Ada apa Dek, tumben memanggilku di sekolah.” Aku berkata dengan lembut.



Kini aku sudah berada di ruang UKS berduaan bersama Bu Lisa, untungnya saat disana tidak ada orang, kosong. Jadi cukup aman untuk kami berbincang.



Aku terlebih dahulu menggenggam tangannya, tidak tahan untuk melakukan hal intim ketika aku dan dia berdua. Tapi baru saja bersentuhan dia sudah menepis tanganku.



“Jangan macam-macam Raka, aku disini hanya ingin berbicara.” Dia melotot tajam.



Aku hanya menggaruk kepala, menyeringai. Tidak merasa bersalah sedikitpun.



“Aku disini hanya ingin meminta izin padamu untuk pulang telat nanti.” tuturnya menatapku.



“Tumben, tidak seperti biasanya. Emang mau ngapain?”



“Mm... Aku hanya ke toko buku dulu, itu saja.” Dia berkata pelan menatapku dengan ragu-ragu.



“Ohh, kalau gitu nanti aku antar.”



“Eh, jangan! Justru aku disana cuma mengantar membeli buku.”



Aku menatapnya menyelidik, entah kenapa aku merasa dia terkesan menyembunyikan sesuatu, namun takut untuk mengatakannya padaku. “Kau kesana sama siapa? Sama laki-laki?”



Dia mengangguk “Iya, sama Pak Farhan”.



Sudah kuduga! Itulah kenapa tadi dia agak takut untuk menyampaikan ucapannya, karena sebenarnya dia takut bahwa aku tidak akan mengizinkan.



“Tidak boleh," jawabku singkat.



“Tapi aku sudah berjanji padanya untuk mengantar dia membeli buku, Raka."



“Tetap tidak boleh, aku tidak mengizinkannya” jawabku tegas.



“Ayolah Raka, kami hanya membeli buku sebentar, sejam lalu kami pulang, itu saja.” Dia memohon mencoba membujukku.



Aku menggelengkan kepala. "Tidak Kalisa. Aku tidak akan mengizinkannya, dan sampai kapanpun tidak akan mengizinkannya.” setelah itu aku melangkah berjalan keluar, meninggalkan ia sendiri.



***Silahkan*** \*\***like dan votenya, bila berkenan coment kekurangan novel ini biar nanti author dapat memperbaiki**..

__ADS_1



**TERIMAKASIH**\*\*..!!


__ADS_2