Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 80 — Rumah Lotus Kembar


__ADS_3

“Kita tidak salah alamat, kan?” Reza menatap bangunan di depannya lamat-lamat, merasa yakin bahwa kami berempat salah jalan.


“Tidak, ini benar! Ini adalah rumah Arin, alamat yang dia tunjukan menunjukan ke sini.” Della berkata sedikit ragu, ia juga masih berharap bahwa kita sekarang tersesat.


“Coba kau lihat lebih detail, mungkin ada huruf yang terselip.”


“Sudah, aku juga bisa baca, Za!”


Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, menghiraukan percakapn Reza dan Della yang ada di sampingku. Apakah benar di depan kami ini adalah rumah temanku si kembar?


Kalian mungkin tidak percaya, jika ini disebut rumah maka jawabanya sangat tidak tepat. Pasalnya ini seperti sebuah istana yang besar, halaman rumahnya luas, pagar-pagarnya tinggi-tinggi, apalagi bagian rumahnya, itu seperti musium besar di kotaku, sangat besar dan megah.


“Permisi nak, kalian teman-temannya Nona Arin dan Nona Airin?”


Seorang laki-laki paruh baya, berseragam hitam gagah menghampiri kami. Reza dan Della yang masih bercakap-cakap menjadi terhenti, reflek menoleh pada Bapak tua itu.


“Iya Pak, kami teman-temannya Arin dan Airin.” Aku yang menjawabnya terlebih dahulu.


Bapak itu terdiam sebentar, ia membalikan tubuhnya membelakangi kami lantas seperti berbicara sesuatu sendiri. Salah satu tangannya menekan telinga kanan. Aku bisa melihatnya jeli, itu adalah alat teknologi yang di tempelkan di telinga, berfungsi seperti layaknya ponsel untuk menghubungi orang.


“Baik Nona… baik… baik, saya laksanakan.” Ucap bapak itu samar-samar. Ia membalikan tubuhnya kembali menghadap kami. “Kata Nona Arin, kalian sudah tunggu di dalam.”


“Eh?”


Reza dan Della terkejut bersamaan, reflek mundur dua langkah. “Jadi ini benar rumahnya si lotus kembar?”


Bapak itu menggaruk pelipisnya, tidak mengerti “Lotus kembar?”


“Ah, maap Pak maksudnya rumah Arin, Airin.” Della buru-buru membenarkan, ia lupa bahwa sebutan ‘Bunga lotus kembar’ hanya di sematkan di sekolah saja.


Bapak itu tidak bertanya lebih jauh, ia mempersilakan kami untuk ke dalam mengikutinya. Gerbang besi di geser. Untuk menuju rumahnya kami harus berjalan kaki 50 meter, itu menunjukan betapa luasnya rumah ini.


Zildan yang biasanya selalu bersikap tenang dan tidak peduli, kini menatap takjub melihat halaman rumah Arin yang luas dan hijau. Sebenarnya kami berempat saling lirik-lirik sekitar, keindahan rumah teman kami ini tidak bisa kami anggap angin lalu.


Di depan sana, tepat di depan pintu rumah istana. Ada Arin yang sedang menunggu dan menyambut kami, di belakang dia ada 7 pelayan wanita berjejer rapih, lengkap berseragam maid.


Arin melambaikan tangan tinggi-tinggi, seolah takut kami tidak melihatnya. “Oi! Aku disini!”


Aku tertawa dalam hati. Tidak berteriakpun aku bakal melihatnya, saat ini pakaian Arin terlalu mencolok, dia berpakaian modis berwarna pink, lengkap rok pendek dan tangan panjang.

__ADS_1


“Ah, kupikir kau tidak akan datang.” Arin menggaruk rambutnya yang sudah tersisir rapih.


“Tadi ada sedikit kendala, Rin.” Della menjawab.


Arin menganguk. “Kalau begitu ayo masuk! Adikku pasti terkejut melihat kalian bertamu.”


“Eh? Dia tidak mengetahui kami disini?”


“Iya, dia tidak tahu kalian akan kesini.” Selepas dia berkata seperti itu Arin langsung tertawa kecil, tepatnya tertawa ganjil.


Arin memimpin kami berjalan di depan, sedangkan para pelayan wanita ikut di samping kami seperti pengawal. Untuk aku sendiri hal ini memang biasa, tetapi untuk Reza, Della, dan Zildan adalah hal baru ketika di kawal oleh maid.


Aku membuka mata lebar menyaksikan bagaimana megahnya rumah Arin dari dalam. Jika di banding rumah orang tuaku, kemegehan rumah ini jauh di atas kami. Di sisi lain Reza dan Della membuka mulut berbentuk O, itu adalah tanda seberapa takjubnya mereka.


Atap rumahnya tinggi-tinggi, temboknya bercat putih elegan, lantainya beralasan marmer yang indah, ruangannya sangat luas. Satu kata untuk menggambarkan semuanya, kekayaan keluarga Arin ‘Mengerikan’.


“Nah kita sudah sampai!” Arin merentangkan tangannya semangat, ia berhenti tepat di ruangan khusus yang bercat ping dengan pola bunga. Jika aku menebak, kemungkinan ini adalah area pribadi Arin.


“Kemana adikmu? Dia masih sakit?” Della bertanya.


“Ah tidak, dia sudah sembuh hanya saja masih tidur di kamar.” Arin menunjuk salah satu pintu.


Awalnya kami bertujuan kesini hanya untuk menjenguk si kembar, tetapi nyatanya Arin dan adiknya sudah sembuh. Kemudian Arin menyarankan agar tetap mampir kerumahnya walau dirinya tidak sakit, itung-itung hanya bermain.


Aku tertawa kecil, baru pertama kali Zildan bisa seantusias itu dengan game, mungkin karena PS 5 di negara ini terbilang langka. Kau tahulah, harganya itu lohh.


“Kau tidak ikut bermain bersama mereka?” Arin yang entah sejak kapan ada di sampingku bertanya.


“Tidak, aku tidak terlalu tertarik.”


“Oh, kau terus mau apa? Mau jalan-jalan di rumahku seperti si Della?”


Aku menangguk, “Aku cukup penasaran, kira-kira seberapa besar rumahmu ini.”


“Tidak terlalu luas, cuma beberapa ratus meter.”


Aku mengerutkan kening. Beberapa ratus meter tidak di sebut luas? Kira-kira rumah seperti apa saat dia mengatakan luas yang sebenarnya. Seluas stadion bola!.


Aku kemudian berpamitan pada Arin untuk mulai mengelilingi rumahnya. Arin hanya tersenyum melambaikan tangan. “Kalau kau tersesat, telepon aku!” katanya.

__ADS_1


Aku mengangguk. Karena rumahnya yang besar juga banyak belokan dan ruangan, tidak aneh kalau dia berkata seperti itu. Lucu sekali kalau aku nanti tersesat di rumah orang lain, tidak keren.


Della memang sudah sejak tadi berkeliling, ingin melihat bagaimana kehidupan rumah orang yang kaya raya. Aku memakluminya, itu wajar karena Della adalah berasal dari keluarga yang berkecukupan, tidak terlalu mengenal kemewahan.


Awal tujuan aku ingin melihat halaman rumah Arin. Selain ada taman yang indah, bunga-bunga, dan pancuran air yang jernih, ada juga sesuatu yang… Hei! Lihat! Di salah satu halaman rumah ini ada kebun binatang mini. Banyak hewan-hewannya.


Aku memandang hewan-hewan itu di balik jeruji besi kurungan. Ada banyak sekali hewan didalamnya, namun yang paling aku lirik hanya dua, yaitu burung merak dan rusa bertanduk indah.


Kira-kira seberapa kaya keluarga si lotus kembar sampai bisa membuat kebun binatang sendiri di rumahnya?.


Setelah hampir membutuhkan waktu setengah jam di sana untuk melihat-lihat. Aku kemudian melanjutkan berjalan-jalan di sekitar rumah Arin, karena tidak ada lagi yang unik, aku kemudian masuk ke bagian dalam rumah Arin, tetapi sayangnya aku keliru.


Aku mendapati satu ruangan yang aneh, ruangan itu berlantai kayu, juga ada seidikit uap yang mengambang di atap-atap.


Untuk memasuki ruangan tersebut tidaklah sulit, karena disana tidak memakai pintu, hanya ada kain sebagai penghalang. Aku kemudian masuk tanpa berpikir dahulu, jika tempatnya tidak di jaga oleh maid, maka kemungkinan boleh di masuki oleh tamu.


“Kyaaaaaa!!” suara teriakan wanita melengking nyaring.


“Maap, maap… Aku tidak sengaja! Aku tidak tahu!” aku segera buru-buru pergi dari ruangan itu. Sial! Ternyata itu adalah ruangan pemandian air panas untuk para pelayan wanita.


Mataku terasa telah ternoda melihat bagaimana maid-maid itu tengah berendam. Aku memang tidak melihat mereka telanjang hanya melihat sedikit bagian tubuhnya. Tetapi itu sudah cukup membuatku bisa membayangkan hal-hal liar.


Aku terkulai lemas setelah berlari cukup jauh, menyandarkan tubuh di dinding, menatap lantai lamat-lamat. Sial! Kenapa bisa aku tidak menyadarinya, kalau itu adalah tempat pemandian!!


“Bisa saya bantu, tuan?”


Seorang maid wanita menepuk pundakku. Aku mengangkat kepala pelan dan langsung terkejut ketika melihatnya.


“Kenapa, tuan?” tanya maid itu heran.


Aku menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa, aku hanya sedang istirahat.”


Ketika mataku melirik tubuh perempuan maid itu, seketika terbayang pemandangan perempuan-perempuan di pemandian tadi. Pipiku langsung memanas, entah memerah atau tidak. Dari bawah aku bisa merasakan insting lelakiku telah bangkit. SIALL!!


Untungnya perempuan maid itu langsung berpamitan pergi. Namun meski begitu instingku tetaplah bangkit.


Aku meneguk ludah. Sial! Saat ini aku ingin cepat pulang… Aku butuh istriku… aku butuh Kalisa…


__ADS_1



...**Like dan Vote**...


__ADS_2