Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 27– 4 Bulan Yang Lalu.. III


__ADS_3

Jika bisa, orang tua tidak akan mengijinkan anaknya tumbuh dewasa, mereka tidak akan membiarkan sang waktu merebut anaknya, merebut dan memisahkannya begitu saja.




Tujuh hari berlalu semenjak kami menikah, banyak hal telah terjadi di keluarga baru kami. Salah satunya adalah aku sekarang sudah berpindah tempat tinggal ke sebuah komplek perumahan.



Kedua orang tuaku dan dia berbaik hati membelikan rumah pada kami atas hadiah dari pernikahan, kata mereka, ini semua adalah awal kami harus belajar menjadi suami dan istri sesungguhnya.



Bagiku itu tidak masalah, dengan begitu aku bisa menuangkan banyak waktu berduaan bersama Bu Lisa, kalian tahu? Aku mungkin sudah mulai jatuh hati padanya.



Adegan dramatis tidak dapat di hindarkan setelah kami mengatakan pamit pada mertuaku. Entah ibu dan ayah Bu Lisa sama-sama sedih ketika anaknya akan meninggalkan rumah, bagaimanapun, mereka telah bersama selama 21 tahun, dan itu bukanlah waktu yang sebentar.



Sambil berdiri di samping istriku, ayah dan ibu mertuaku mencoba menasehati anaknya untuk terakhir kali. Aku tahu mereka enggan untuk berpisah, namun karena demi kebaikan anaknya, mereka mengubur perasaan itu dalam-dalam.



“Tidak ada yang ayah wajibkan selain kamu harus mematuhi apa yang suami suruh. Turuti apa yang ia katakan, cintai dia, dan jangan pernah sekali-kali kamu membantahnya.”



Pak Harun tersenyum, dia mengelus pucuk kepala anaknya dengan lembut. Walaupun aku tahu dia sedang tersenyum, tetapi pandangan matanya tidak sama, ada perasaan sedih di balik tatapan itu.



Lalu berbeda dengan suaminya yang menyembunyikan kesedihannya, Ibu Ayu terang-terangan langsung memeluk tubuh Bu Lisa, matanya terisak menangis.



“Masakan suamimu jika ia lapar sayang, beri ia dukungan jika sedang terpojok, bantu dia ketika sedang kesusahan. Kalisa kamu adalah anak mamah yang cerdas, tidak sepatutnya kamu tidak mengerti ucapan barusan.”



Bu Kalisa mengangguk, dia tidak menangis tapi hanya wajahnya menunjukan kesedihan. Sambil mencium kedua tangan orang tuanya dia pamit dan berjalan menuju mobil.



Adegan drama ini sangat biasa di televisi, namun jika anda merasakannya langsung itu terasa berbeda sekali. Percayalah tidak ada yang mau drama ini terjadi pada hidup kalian.



Jika sesuatu dapat di ubah, mungkin orang tua tidak akan mengijinkan anaknya tumbuh dewasa, mereka tidak membiarkan sang waktu merebut anaknya, merebut dan memisahkannya begitu saja.



Diikuti setelah Bu Lisa, aku mencium kedua tangan mertuaku, ikut berpamitan menyusul Bu Lisa yang telah masuk ke dalam mobil.



“Kalisa sekarang bukan tanggung jawab kami lagi, bapak harap kamu melindungi dia, jaga dia dan hatinya.”



Aku tersenyum mengangguk, “Aku tidak akan berjanji dan berkata-kata manis, aku akan membuktikannya lewat tindakan.” kataku percaya diri.



Pak Harun tertawa kecil menepuk pundak ku “Kamu memang anak Damar, persis seperi itulah dia dulu bersikap.”


__ADS_1


Aku menggaruk kepala, tidak tahu harus berkomentar apa. Karena tidak ada yang harus aku ucapkan lagi, setelahnya aku berpamitan untuk terakhir kali sebelum menyusul Bu Lisa di dalam mobil.



Samar-samar aku melihat Pak Harun menggengam tangan istrinya, mencoba meredakan isakan tangis Ibu Ayu yang belum berhenti.



“Tidak apa-apa dek, kita nanti juga sesekali bisa berkunjung kesana.”



\*\*\*



Menyampingkan kesedihan tadi, waktu telah berlalu kian amat cepat, berhari-hari, berminggu-minggu, lalu tidak terasa kami melewati pernikahan ini selama 4 bulan.



Banyak hal yang telah terungkap dan berubah, salah satunya adalah sikap Bu Lisa, kalian tahu, dia awalan memang lemah lembut padaku, namun karena belum terbiasa serumah dengan lawan jenis sifatnya berubah menjadi waspada.



Dia selalu mengomel ketika aku mencium pipinya tiba-tiba, menggerutu ketika aku bersikap manja padanya, lantas bersikap cuek ketika aku meminta hal yang aneh. Tapi dari sikap itu semua dia tidak pernah membantah perkataan ku, dia persis seperti apa yang di nasehat kan orang tuanya.



Kalau sekarang aku masih tidak tahu apakah sikap itu masih ada, kelihatannya sih tidak. Semenjak aku sakit karena menunggu dia sampai larut malam, dia berubah kembali menjadi lemah lembut.



PTAK!!



Tiba-tiba entah dari mana sesuatu datang menghantam keningku yang justru membuat lamunanku buyar begitu saja, aku menggerutu dalam hati dan siap mengeluarkan umpatan pada siapa yang berani menggangguku.




“Raka, kerjakan soal di depan!”



Aku meneguk ludah. Sial! Aku ingat sekarang, tadi pas pelajaran Bu Lisa berlangsung, aku melamun ketika sedang memperhatikan wajahnya, aku sempat-sempatnya bisa teringat kenangan kenapa kami bisa menikah.



Apakah sebegitu nya aku melamun sampai tidak memperhatikan keadaan sekeliling.



“Jangan cuma di tonton Raka, itu bukan bioskop ataupun televisi, cepat kerjakan atau pelajaran ini tidak akan berlanjut!”



Mendengar perkataan Bu Lisa semua seisi kelas tertawa. Sial! aku benar-benar di buat malu kali ini, awas saja kalau nanti di rumah aku akan balas kejadian memalukan ini pada dia.



Namun kesialannya tidak berhenti di sana, tepat aku melangkah kedepan.. Oi bagaimana ini? Aku tidak tahu cara menyelesaikan soal tersebut.



“Ayo Raka , kamu tidak bisa membuat kami menunggu lebih lama bukan?”


__ADS_1


Aku menghembuskan nafas pelan, mencoba ber tetap tenang “Maap bu, saya sepertinya tidak bisa mengerjakannya.”



“Lihat, kalau kamu tidak mengerti cara mengerjakan soal tersebut, kenapa kamu malah melamun saat ibu menjelaskannya tadi.”



Hei! Apakah Bu Lisa lupa bahwa aku adalah suaminya, bukan main-main, dimana sikap lemah lembutnya saat dia di rumah kepadaku.



“Ayo Raka kerjakan, memang apa yang kamu lamun kan saat pelajaran ibu berlangsung?”



Bu Lisa tersenyum, dia benar-benar ingin mempermainkan suaminya kali ini. Tapi apakah begitu? Jika iya berarti ia telah salah cari lawan.



“Eh, itu, Mm.. tentang Ibu.” Ucapku gugup seolah-olah tidak sengaja keceplosan bicara.



Napas Bu Lisa tertahan, apa yang telah aku katakan sangat membuatnya terkejut. Samar-samar dari kedua pipinya memerah dan dengan cepat ia memalingkan wajahnya dari para murid.



Aku tersenyum sedikit sampai-sampai orang lain tidak menyadarinya. Bu Lisa sengaja menghadap papan tulis, sehingga hanya aku saja yang bisa melihat wajahnya memerah.



“Lain kali kamu harus fokus Raka, kejadian ini jangan sampai terulang lagi.”



Aku mengangguk tersenyum, sekaligus tidak menyangka bahwa Bu Lisa akan tersipu dengan kata-kata sesimpel itu. Sebelum pikiran dia berubah aku melangkah kembali ke tempat duduk.



Semua murid memasang wajah kecewa, mereka sudah berharap bahwa aku akan di hukum dan akan menjadi tontonan yang menarik. Apalagi Reza, dia yang paling kecewa melihatku tidak di hukum apa-apa. Sungguh benar-benar teman yang baik.



Lagi-lagi aku menghembuskan napas lega, setidaknya dia tidak menghukum ku kali ini. Tepat beberapa saat pandangan dia tertuju padaku dengan cepat-cepat aku berbicara tanpa suara, sehingga hanya bibirku yang bergerak.



“Aku.. cinta.. kamu..”



Mata dia langsung berpaling ketika ucapanku selesai, rona wajahnya yang tadi sudah hilang kini muncul kembali.



“Ba.. baik anak-anak, kita lanjutkan materi selanjutnya.”



Aku yang duduk paling belakang mencoba menutup mulut menahan tawa, apakah sebegitu nya wajah dia selalu memerah ketika aku hanya menggodanya sedikit, atau boleh jadi dia sudah jatuh hati padaku? Entahlah, aku tidak tahu hanya dia sendiri yang tahu jawabannya.



\*\*\****Sepertinya Saya harus fokus dulu memperbaiki episode sebelum-sebelumnya, banyak yang salah dan tidak sesuai.. Bagaimana menurut kalian***?



***Tombol sukanya jangan lupa ya.. jika boleh komen dong kekurangan novel ini, saya sangat berterima kasih jika ada yang memberikan saran***!!

__ADS_1



***Terima kasih***\*\*\*


__ADS_2