
Kata pacaran adalah hal yang tabu di keluargaku, di antara semua peraturan yang di buat oleh orang tuaku maka pacaran akan berada di posisi teratas. Karena keluarga kami melarang untuk namanya berpacaran.
Dulu ketika aku masih menginjak SMP, pernah sekali aku menanyakan hal ini pada orang tuaku tentang pacaran. Ayahku yang biasanya ramah langsung berubah seketika dengan ketegasan, dia memandangku seolah-olah bahwa aku sudah tertangkap berpacaran.
“Ingat Raka! Di keluarga kita tidak ada namanya pacaran, sungguh tidak ada.”
Perkataan ayahku masih terngiang di kepala, ketika dia mengucapkan itu, wajahnya penuh keseriusan dan ada sedikit kemohonan. Maka dari sampai itu aku tidak pernah menanyakan hal serupa, dan tentu, aku menuruti larangan beliau.
Itu adalah peringatan ayahku dulu, namun untuk sekarang kondisinya jelas berbeda.
Kalau di pikir memang Jelas-jelas konyol aku menembak istriku untuk berpacaran, secara aku sudah memiliki hubungan lebih dari pada itu.
Orang berpacaran biasanya adalah tahap awal mereka untuk lanjut ke hubungan yang lebih serius, atau kata lainya pernikahan. Sedangkan kondisiku terbalik, menikah dengannya terlebih dahulu lantas setelah itu mengajaknya untuk berpacaran.
Ketika aku memikirkan hal itu kembali, ini benar-benar sesuatu yang lucu. Kalau ada orang yang bertanya, apakah aku punya pacar? Aku akan menjawab dengan anggukan takzim padanya.
***
Jam delapan pagi seharusnya toko-toko di mall masih tutup, dan itu adalah kabar baik bagiku. Untuk berniat berbelanja kesana, kami setidaknya harus menunggu 2 jam lagi agar memastikan mall tersebut buka.
Kami_maksudku aku dan Kalisa. Beranjak pergi dari rumah untuk berbelanja kebutuhan dapur yang telah habis, namun itu adalah niat awalnya, untuk sekarang aku berencana untuk berkencan dengannya terlebih dahulu.
“Mas kita mau kemana dulu?”
Dia bertanya padaku saat tatapannya masih terfokus menatap jalan, tangannya yang halus terulur ke depan memegang setir mobil.
Pertanyaan dia sebenarnya sangat sederhana tapi jelas membuatku bingung, pasalnya selama ini aku belum pernah berpacaran apalagi berkencan.
Apa yang harus dilakukan ketika berkencan? Biasanya orang berkencan pergi kemana? Atau yang lebih sederhana lagi, kencan itu apa?.
Aku melupakan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kenapa aku mengajak dia berkencan jika aku sendiri tidak tahu apa itu kencan. Benar-benar memalukan.
“Mas kita mau pergi kemana dulu?” dia bertanya lagi, matanya yang indah menatapku dengan lembut, karena saat ini kami berada di lampu merah, ia bisa leluasa melihat wajahku yang sedang kebingungan.
Walaupun tidak enak dikatakan aku tetap jujur padanya, berterus terang. “Entah dek, mas tidak tahu, mas belum pernah kencan.”
Seumur-umur pernyataan itu adalah hal yang paling memalukan yang aku ucapkan, mungkin menenggelamkan wajah ke tanah saja tidak cukup untuk menahan malunya. Tapi sebentar, hei, ternyata dia sebenarnya tidak menertawakan ku, dia justru tersenyum.
“Bagaimana kalau kita ke kafe sebentar mas, aku agak haus.” Katanya memberi usul.
Aku mengangguk, sepertinya dia pernah berkencan sebelumnya, itu bagus berarti kencan ini tidak akan berakhir membosankan. Eh sebentar, kalau begitu berarti dia pernah berpacaran dong sebelumnya.
Sial, apakah aku harus bertanya pada dia terlebih dahulu? Atau.. ah lupakan, sebaiknya fokus dulu berkencan, jangan berpikir kemana-mana.
Sesudah itu, Bu Lisa tidak membutuhkan waktu lama sampai menemukan kafe terdekat, ia memarkirkan mobil merahnya dengan hati-hati, menggerakkannya pelan lantas memposisikan dengan baik.
“Dek sebentar?” kataku berseru pelan saat kami sudah keluar dari mobil.
__ADS_1
“Iya mas.”
Aku menjulurkan tangan dan meraih genggaman tangan halusnya, itu benar, aku berniat bergandengan tangan bersama dia berjalan menuju kafe.
“Kita pacaran yang,” Kataku menjelaskan melihat wajahnya yang heran.
dia hanya mengangguk dengan pipinya yang sudah memerah, ‘apakah ia tersipu dengan hal sepele seperti ini’ gumam ku dalam hati.
“Kamu mau pesan apa dek?” kataku setelah kami duduk di kursi.
“Samain aja mas.”
“Eh, kamu yakin, aku soalnya pesen kopi dingin.”
“Kopi dingin? Adek jus aja, jus alpukat.”
Aku mengangguk dan melambaikan tangan, membiarkan salah satu pelayan menghampiri. Setelah beberapa menit kemudian ia sudah kembali dengan dua minuman yang di pesan.
“Ini terlalu manis,”Ujar ku berpendapat.
“Eh, Apanya yang manis mas?”
“Kamu sayang.” Kataku menyeringai.
Wajah Bu Lisa langsung memerah dan dengan cepat-cepat ia menyembunyikannya di balik gadget yang tengah ia pegang. Karena posisi duduk kami saling berhadapan aku tidak bisa melihat jelas wajah malunya.
Aku tersenyum tidak menanggapi, lebih memilih menyeruput kopi.
Kalau dilihat-lihat kafe yang aku datangi ini sangat menarik dan unik dengan kesederhanaanya, entah itu lantai, meja, dinding, kursi, dan semuanya terbuat dari kayu. Kafe ini juga tidak memiliki banyak warna selain warna dasar coklat, mungkin karena temanya seperti itu membuat kafenya terlihat menawan.
Pengunjung disini juga terlihat lumayan ramai, dari sekian beberapa meja yang di sediakan, cuma tiga meja yang masih kosong. Mungkin karena hari ini juga hari libur membuat pengunjung lebih banyak walau masih di pagi hari.
Bu Lisa terlihat asik memainkan gadgetnya, menekan-nekan tombol, menggeser, lalu setelah itu ia meminum jusnya sedikit demi sedikit.
Aku menggaruk kepala, merasa bingung. Apa yang harus di bicarakan ketika berpacaran seperti ini?.
“Dek?” kataku memecah keheningan.
“Eh, iya mas?”
“Kamu sebelumnya pernah berpacaran belum?”
Awalnya aku memang tidak berniat untuk bertanya hal ini sekarang, tapi karena tidak ada topik lain yang harus di bicarakan, juga karena aku memang penasaran. Aku memutuskan untuk membicarakannya.
“Belum mas, adek belum pernah.”
“Beneran?”
__ADS_1
“Iya”
“Aku berarti pacar pertama kamu dong dek,” kataku berantusias.
“Iya, pacar pertama sekaligus pacar terakhir Lisa” Ucapnya tersenyum.
Aku memandang dia terpana, hei, apakah barusan dia mengombaliku? Ini pasti salah, dia kan orangnya selalu malu-malu. Sayang ini memang benar, lihat, dia memang benar-benar malu mengatakannya, dia kembali menyembunyikan wajahnya di balik gadget.
Aku hanya menahan tawa melihat tingkahnya yang gemas, ternyata dia ingin membuatku tersipu malu, namun karena gagal malah dia yang menjadi malu.
“Mas kok minum jus yang punya Lisa?”
Matanya yang hitam terbelalak kaget ketika tiba-tiba aku meminum jus alpukat nya.
“Gak boleh?” tanyaku.
“Bukan gitu, mas kan bisa beli yang baru dari pada minuman bekas adek.”
“Enggak ahh,” Aku menggeleng “enak juga bekas bibir kamu yang.”
Dia langsung mencubit tanganku yang berada di meja, merasa kesal.
“Jangan menggombal mulu mas!” dia memalingkan muka seolah-olah marah dengan tangannya yang sudah menyilang. Walau sebenarnya aku juga bisa melihat kalau sudut bibirnya beberapa kali melengkung ke atas.
“Iya maaf dek, siapa suruh kamu cantik.”
“Tuhh kan gombal lagi,” protesnya melotot.
“Eh maaf, barusan gak sengaja” kataku menyeringai.
Tapi serius dia memang cantik, walau memang aslinya juga cantik, tapi sekarang levelnya jauh berbeda. Lihat! Dia sekarang berhias, bermake-up. lihat juga bajunya yang lebih feminim, rok selutut dengan baju lengan panjang berwarna putih. Oi! Ini istri aku memang cantiklah.
“Dek kamu besok atau lusa dan seterusnya dan seterusnya, berhias seperti ini yaa di rumah.” Ucapku sambil menggenggam tangannya “mas lebih seneng kamu berpakaian seperti ini.”
“Apaan sih mas” pipinya mulai kembali memerah.
“Bolehkan dek?”
Dia mengangguk “iya, adek usahain.”
Aku tersenyum dan menggenggam tangannya lebih erat di meja, juga pandangan kami bertemu dan saling bertatapan lama, lagi-lagi kami seperti ini.
“Selanjutnya kita ke pantai, mas rasanya sudah lama gak ke pantai.” Kataku menatap keluar tepat ke arah ujung kota.
**Like dan Votenya, juga coment kekurangan novel ini, biar author bisa terbantu dengan sarannya..
Terimakasih**..
__ADS_1