Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 50 — Cerita Horror


__ADS_3

[Ingat ya! Genre novel ini slice of life, artinya cerita keseharian hidup kita yang sering dialami, jadi tidak heran kalau ada cerita horror]



Ujian sekolah di adakan selama satu minggu lebih, dan sekarang sudah hampir hari ketiga kami melaksanakan ujian tersebut.



Di hari ini, tidak seperti biasanya setelah ulangan aku memilih untuk tidak keluar kelas, begitu juga dengan teman-temanku Reza dan Zildan yang sama-sama diam di kelas.



Setelah tadi menyelesaikan ujian pelajaran PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) kami sesama murid saling mencocokan jawaban satu sama lain, melihat apakah jawaban kita sama atau tidak dengan murid kebanyakan.



Perbincangan ini sangat seru, sesekali ketika salah satu murid merasa jawabannya berbeda dengan murid yang pintar, mereka langsung mengeluh dan mengonfirmasi bahwa jawabannya tadi pasti akan salah.



Lalu ada juga murid yang membanggakan dirinya, dimana ketika mereka sudah menghafal pelajaran tersebut akan membeberkan jawaban pada yang lain, mengatakan bahwa jawaban itulah yang benar.



Awalnya, terdapat banyak keluhan yang terdengar dari murid-murid, namun sering kesini keluhan itu berubah menjadi sebuah cerita.



Misalnya, salah satu murid mengeluh tentang jawaban yang salah, karena ia tidak mengetahui jawaban tempat kematian salah satu pahlawan. Alih-alih menyalahkan dirinya justru ia malah menyalahkan pahlawan tersebut.



“Kenapa pula dia matinya di tempat itu! Bukankah lebih baik meninggal di kota yang terkenal. Biar orang-orang lebih mengetahui!” Gerutu temanku itu tidak terima.



Kami yang mendengarnya saling pandang lantas tertawa-tawa.



Topik pembicaraan ujian ini, sedikit demi sedikit bergeser dari cerita pahlawan menjadi cerita kematian dan terus bergeser hingga akhirnya berakhir di cerita kisah seram.



Salah satu teman laki-laki disebelahku menceritakan tentang pengalamannya bertemu sosok halus, katanya dia pernah bertemu wanita putih berambut panjang saat di rumah sendirian.



Namun setelah di akhir cerita dia menjelaskan bahwa ternyata wanita itu adalahh ibunya sendiri yang tengah melakukan periasan wajah. Kami yang mendengarnya mengumpat keras, menyesal telah memfokuskan pada ceritanya.



Seiring berjalannya waktu, murid-murid yang sedang berkumpul ini mulai menceritakan cerita mereka masing-masing, entah mereka yang mengalaminya atau cerita dari orang lain.



Aku, Reza, dan Zildan adalah salah satu dari kumpulan itu, kami bertiga tiga tidak menceritakan apapun seperti yang sudah murid lainya lakukan, kami hanya sekedar mendengar dengan penuh minat.


__ADS_1


Lalu setelah habis kesekian cerita salah satu murid, kini Reno yang ingin menceritakan kisah seramnya, murid di sekililing terdiam, memberikan jalan agar Reno memulai ceritanya.



“Pertama-tama sebelum aku memulai bercerita, ini bukan dari pengalamanku, tetapi cerita dari orang tuaku!” ucap Reno mengingatkan.



Kami yang mengelilinginya mengangguk-nganggukan kepala, mengerti.



“Dulu sekali, tepatnya lima tahun dari sekarang.” Wajah Reno tiba-tiba menjadi serius, ia memulai ceritanya. “Ada seorang wanita di malam hari datang ke sebuah rumah sakit sendirian.



“Sang suster yang tatkala itu mau menutup rumah sakit tersebut terkejut menyadari ada wanita hamil di depan pintunya, mau tak mau akhirnya dia mempersilahkan wanita itu masuk, karena menyadari bahwa dia kesini untuk melahirkan.”



“Oh, apakah wanita itu hantunya?” suara tiba-tiba dari belakang membuat kami menoleh, dia Arin yang berbicara, berdiri dengan kembarannya dan Della.



“Hei, kau tidak boleh menebak alur cerita ini! Cerita tidak akan seram jika di terka-terka seperti itu!” Reno berseru kesal, padahal dari tadi dia sudah terlihat keren bercerita.



“Eh, maaf-maaf, aku tidak akan melakukannya lagi. Ayo lanjutkan ceritanya.”




Ternyata bukan ketiga gadis itu saja yang ikut berkumpul dengan para laki-laki, semakin banyak kumpulan murid yang bergerombol justru menambah minat pada murid yang lain untuk bergabung.



“Ah, aku lupa! sampai mana tadi?” Reno menggaruk kepala.



“Wanita hamil itu di masukan kedalam rumah sakit,” jawab salah satu murid di depanku.



“Oh, ok ok, aku tahu… Setelah wanita yang hamil itu di ajak keruang salin, sang suster merasa heran karena biasanya orang hamil itu selalu di antarkan oleh keluarganya.



“Walaupun ada keganjalan tersebut Sang suster tidak bertanya apapun, ia pada akhirnya membantu wanita hamil itu sampai ia melahirkan anaknya.



“Baru saja beberapa menit berlalu, wanita hamil itu akhirnya membuka suara dan mengatakan bahwa dirinya ingin ke toilet. Suster itu mengangguk dengan senyuman, ia menuntunya ke WC dan menunggunya di luar.”



Reno berhenti bercerita, dia meminum botol air yang ada di dekatnya, sedangkan kami yang penasaran hanya bisa menatapnya, berharap segera cepat menghabiskan air itu.

__ADS_1



“Eh, aku lupa lagi, tadi sampai mana ya?”



“Sampai nunggu di WC.” Jawab salah satu murid cepat.



“Ah iya, kau benar, baik kita lanjutkan lagi… Satu jam berlalu tidak ada tanda-tanda bahwa wanita itu akan keluar dari toilet. Sang suster jelas merasa heran lalu pada akhirnya ia memutuskan membuka toilet tersebut setelah sebelumnya di teriaki tidak ada jawaban.



“Hal yang mengejutkanpun terjadi, ternyata wanita itu tidak ada dalam toilet tersebut, sang suster beberapa kali mencarinya namun tetap saja itu mustahil, karena tidak ada jalan keluar di sana kecuali pentalasi kecil yang ada.”



“Tuh kan! Sudah kuduga bahwa wanita itu adalah hantunya… Eh, maaf aku keceplosan.” Arin menutup mulutnya ketika mendapapati tatapan tajam dari kami semua.



Reno menggelengkan kepalanya, ia kembali melanjutkan cerita, “Karena sudah beberapa waktu tidak menemukan wanita yang melahirkan itu, sang suster tanpa sengaja menemukan secarik kertas di atas wastapel.



“Surat itu berisi bahwa, bayi yang telah ia lahirkan harus di bawa ke alamat yang ada di dalam kertas tersebut. Walaupun suster itu begetar saat membacanya, tetapi keesokan hari dia tetap membawa bayi itu ke alamat yang tercantum.



“Sesampainya di sana, ia menemukan rumah di alamat itu dan memberikan bayinya pada sang pemuda yang ada di dalamnya. Pemuda itu sangat terkejut atas bayi yang tiba-tiba di kirim ke rumahnya.



“Sang suster menjelaskan detail kejadiannya kenapa bayi ini harus di kirimkan ke sini, tetepi jusrtu yang terkejut bukan pemuda itu melainkan suster tersebut.”



Reno meghela nafasnya panjang, “Pemuda itu menceritakan bahwa dia kehilangan istrinya seminggu yang lalu saat sedang hamil sembilan bulan. Dia meninggal bertepatan ketika sedang menuju rumah sakit.



“Sang suster yang mendengarnya seketika menjadi merinding, jika wanita hamil itu sudah meninggal seminggu yang lalu, lantas siapa wanita hamil yang di jumpainya kemarin.”



Cerita Reno berhenti disana, kami yang mendengarnya menghirup nafas dingin dengan bulu kuduk yang sudah berdiri tegak sejak tadi.



Ruangan kelas hening dalam sekejap, membuat suasana kelas menjadi terasa mencekam.



Gak kerasa sudah 50 bab, perasaan baru saja Episode pertama, eh ini udah puluhan.


Di Eps 1 – 50 memfokuskan pembaca lebih mengenal Raka dan Kalisa tentang kepribadian dan hubungan mereka, itulah mengapa cerita ini tidak berseling ke yang lain.


Lalu, meski sudah 50 Eps, masih banyak hal yang harus di ceritakan. Seperti teman-teman Raka, Kedua orang tuanya maupun mertuanya, cerita tantang klubnya dan masih banyak lagi.

__ADS_1


__ADS_2