
Wanita itu terbuat dari gula dan sesuatu yang manis, mungkin?
Setelahnya, kami berpamitan setelah 2 hari menginap di sana, entah itu Pak Harun dan Bu Ayu sama-sama enggan di tinggalkan anaknya lagi, tetapi meski begitu mereka tidak mencegah, mereka berkata agar kami sering-sering ke sini.
“Nanti kalau ayah sama ibumu ada luang waktu, kami akan berkunjung kerumah kalian.” Ujar Pak Harun menyodorkan tangannya.
“Di tunggu ya, Pah,” kata Kalisa pelan. Aku dan Kalisa mencium tangan Pak Harun dan Bu Ayu secara bergantian.
“Ingat, Lisa, untuk kesekian kalinya!” Bu Ayu mencium kening anaknya, ekpresinya tiba-tiba berubah menjadi serius. “Jangan pernah sekali-kali membantah perkataan suami, sayang, jangan pernah sekali-sekali!”
Setiap katanya, beliau menekan kata-katanya dengan kuat, itu menunjukan bagaimana ia begitu serius dengan perintah ini. Aku yang sedari tadi di samping istriku meneguk ludah, apakah ini aura Bu Ayu yang sebenarnya.
“Perintah Mas Raka adalah kewajiban Lisa, Bu. Mas Raka sekarang adalah pemimpin Lisa dan suami Lisa.” Istriku memeluk ibunya erat.
Aku sedikit terharu dengan ucapan istriku, apakah sebegitu pentingnya aku bagi Bu Lisa sehingga perintahku adalah kewajibannya.
Syukurlah, kali ini tidak ada adegan drama yang terjadi, tidak seperti sebelumnya dimana ada yang menangis saat perpisahan itu berlangsung. Kami kemudian memasuki mobil, lalu melambaikan tangan pada kedua mertuaku.
Didalam mobil, aku dan Bu Lisa sedikit berbincang.
“Terima kasih Dek, telah menjadi istri remajamu ini.” Aku mencium pipi putihnya. “Aku jadi lebih bersyukur punya istri sebaik kamu.”
Kalisa hanya terdiam beberapa detik sebelum ia mengangguk dengan rona merah di pipinya. Aish, dicium sedikit saja sudah merah, apalagi tindakan yang lebih, itu loh maksudku, ngertikan?
“Mas Raka adalah suami Lisa, jadi memang sepatutnya Adek bercakap demikian.” Cicitnya pelan.
Oh, lihat, lihat! Bagaimana dia berkata seperti itu dengan malu-malu. Ya ampun, boleh gak sih nikah sama istri dua kali.
Kali ini aku mencium keningnya, “Terima kasih sayang, Yuk, kita pulang.”
“Mas, mm… boleh gak kita ke restoran dulu sebelum pulang?”
“Kamu lapar?” aku mengangkat salah satu alis.
Bu Lisa mengangguk, “Bolehkan, Mas?”
Aku mengelus pucuk kepalanya. “Tentu saja sayang, kenapa enggak. Kamu mau restoran yang mana, hm?”
“Eh, itu biar Adek aja yang urus.”
“Yasudah, tunggu apalagi. Mas juga sepertinya jadi ikutan lapar melihat kamu yang lapar.”
Aku mengusap bagian perut seperti orang yang kelaparan, Bu Lisa yang melihat aksiku hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh. Ia kemudian menginjak pedal gas membuat mobil maju ke arah yang dituju.
Jalan yang di lalui oleh Bu Lisa adalah jalan menuju kota pusat, tetapi meski begitu aku tidak terlalu familiar dengan arahnya. Entah restoran yang mana yang Bu Lisa maksud.
Setelah hampir menghabiskan setengah jam di perjalanan, barulah kami tiba di restoran itu. Restoran yang sederhana namun terkesan mewah.
“Restoran ini maksudmu, sayang?” aku membuka sabuk pengaman yang melilit tubuh. “Kenapa harus jauh-jauh ke sini?”
“Adek pengen aja, Mas. Di sini ada masakan yang adek suka di banding restoran yang lain, terlebih lagi ini adalah mili~“
__ADS_1
“Ibu Kalisa!”
Perkataan Bu Lisa terhenti saat tiba-tiba dari arah samping ada seorang perempuan yang memanggil namanya. Di lihat dari bajunya sepertinya ia seorang pegawai.
“Halo, Rin.” Bu Lisa membuka pintu kaca mobil dengan senyuman ramah.
“Eh, Ibu, sudah lama gak kesini?”
“Iya, di sekolah lagi banyak kerjaan, jadi gak ada waktu luang untuk ke sini.”
Sepertinya dari rauh wajahnya, aku cukup yakin dia lebih tua dari Bu Lisa, tapi kenapa dia nyebut istriku dengan sebutan ‘Ibu’. Apa mungkin itu karena Bu Lisa adalah guru.
Percakapan mereka tidak berangsur lama, hanya bertanya basa-basi yang tidak penting. Aku dan Bu Lisa kemudian keluar dari mobil, melangkah menuju restoran.
“Sepertinya perempuan itu sangat mengenali kamu, sayang?”
Wanita yang disebut Rin itu sudah berpisah dari kami, dia memang seorang pegawai, aku bisa melihat itu ketika dia menyapu-nyapu tempat parkiran, menyapu daun yang jatuh dari pohon.
“Dia namanya Rini, Mas, teman Adek.”
Aku hanya mengangguk-nganggukkan kepala, sok peduli padahal tidak. Setibanya kami masuk aku bisa menyaksikan bagaimana ruangan restoran itu.
Oi, apakah ini restoran? Lihatlah! bagaimana dekorasi ruangan ini yang menakjubkan. Tidak seperti restoran yang sering aku kunjungi, restoran ini memiliki tingkat unik yang ekstrim.
Restoran yang bernuansa seperti malam hari, di mana ketika masuk kau akan di suguhi oleh lampion-lampion bercahaya yang menggantung di langit-langit. Warna cat di restoran itu berlatar belakang hitam namun di setiap dindingnya ada bintik-bintik cahaya seperti bintang di malam hari.
“Pantes aja kamu suka restoran ini, sayang?” Aku menggengam tangan istriku setelah beberapa waktu terpana.
“Bagaimana, indahkan, Mas?” Bu Lisa menoleh ke arahku yang langsung aku angguki sebagai jawabannya.
Aku baru saja mau duduk di salah satu meja yang kosong tetapi istriku tiba-tiba mencegahnya. “Kenapa Dek, bukannya kita mau makan?”
“Duduknya tidak di sana, Mas.”
Aku menggaruk kepala, mungkin dia tidak suka duduk di tengah-tengah restoran.
“Kita tidak duduk di sini juga Mas,” Bu Lisa menambahkan. “Ayo ikutin Adek aja, kita punya ruangan pribadi di restoran ini.”
Perkataan Bu Lisa tidak aku mengerti tapi aku tidak berkata apapun lagi, aku membiarkan Bu Lisa memimpin dan menarik tanganku menuju tempat yang ia maksud.
Seiring langkahnya dia, membuatku mengerutkan alis, bagaimana tidak? Bu Lisa nyatanya tidak duduk di salah satu meja di restoran ini, melainkan terus maju lebih dalam.
“Dek kamu tidak berencana masuk ke ruangan itu, kan?” aku menunjuk pintu yang bertulis, ‘Di larang masuk selain pegawai’.
“Adek memang berencana ke sana.”
“Jangan Dek, gak boleh, nanti ada pegawai lain lagi yang menegur.”
Apakah istriku tidak memahami hal tersebut, sudah tahu di pintu itu tertulis ‘DI LARANG’. Eh, ini malah mau masuk.
__ADS_1
“Tenang saja, Mas, tidak akan yang berani menegur kita.” Dia terus memegang tanganku lebih erat dan menariknya.
Aku hanya menghela nafas, biar sajalah, biar nanti istriku tahu rasa dengan tindakannya. Tapi saat kami sudah masuk ke sana dan di lihati pegawainya, hei, tidak ada yang menegur kami.
Jangankan pegawai itu merasa marah karena ada pelanggan yang memasuki tempat kerjanya, justru mereka malah menghormat pada kami.
Istriku membalas hormatan mereka dengan menganggukan kepala, “Tolong buatin masakan 2 porsi dan antarkan ke ruanganku,” titahnya.
Tindakan Bu Lisa membuat badai keheranan di kepalaku, kenapa Bu Lisa terlihat biasa saja setelah masuk ke sini, selain itu dengan entengnya dia memerintahkan pegawai di sana untuk membuatkan makanan.
Bu Lisa tidak berhenti di sini, melainkan terus melangkah lebih dalam hingga ia masuk ke dalam pintu yang bertulis ‘R. IBU KALISA”.
Di ruangan itu terdapat kursi, sopa, dan meja. Di atas meja terdapat berkas-berkas yang menumpuk, juga ada tulisan nama ‘KALISA’ sebagai tanda bahwa meja itu adalah meja khusus.
Bu Lisa dengan santai duduk di sopa panjang tersebut, sedangkan aku ikut duduk di dampingnya, pikiranku saat ini tengah kacau oleh banyaknya pertanyaan.
“Dek, kamu bisa jelaskan tentang hal ini?” Aku menggaruk kepala, bingung.
“Jelasin apa, Mas?”
“Jelasin ini, sayang, kok bisa kamu masuk ke ruangan ini?”
Ruangan yang kami masuki jelas adalah ruangan seorang atasan dari para pegawai. Dalam kata lain, rungan ini tidak boleh di masuki sembarangan, bahkan pekerja di sini.
“Inikan ruangan Adek, Mas, ruangan ini memang milik Adek pribadi,” Jelasnya.
“Ruangan pribadi? Maksudnya?”
“Adek sepertinya belum cerita yah, kalau Adek punya restoran pribadi.” Aku menggelengkan kepala, “Restoran ini adalah restoran aku, Mas.”
“Kamu serius?”
“Iya, kalau bukan, mungkin Adek gak akan di sini.”
Perkataan Bu Lisa sulit dicerna oleh keterkejutan, tetapi setelah di pikir-pikir lagi sebenarnya tidak mengherankan kalau dia punya restoran seperti ini karena mengingat bahwa dia adalah orang kaya.
“Bagaimana? Baguskan Mas, restoran kita?” Ujarnya sekali lagi.
“Bagus sayang,” aku tersenyum, lalu kemudian terbesit pikiran konyol. “Kalau aku kesini nanti, kamu kasih diskon ya?”
Perkataanku barusan membuat Bu Lisa terkekeh, “kalau kamu nanti makan disini, kamu bebas makan apapun tanpa harus membayar.”
“Kamu serius?” aku nyengir lebar, merasa tidak percaya.
“Tentu saja, Mas. Kamu itukan suami aku.”
Dengan ia tersenyum manis membuatku reflek mencium pipinya tanpa aba-aba, Bu Lisa nyatanya tersenyum malu-malu, ia menundukan kepala dengan rona merah di wajahnya.
Eh, mau nanya? Yang baca novel ini ada gak yang masih SMA? Cuma nanya aja…
Maaf agak lambat update, aku kurang sehat kemarin. Jangan lupa likenya, dan juga vote.
__ADS_1