
Yang lama telah hilang berganti dengan ketiadaan.
Di malam harinya selepas bermain hujan dan kedinginan, kami berdua bergumul di balik selimut kasur hangat.
“Mau di buatin kopi, Mas?” Bu Lisa menengadahkan kepalanya ke atas. Dia saat ini duduk di pangkuanku, bersembunyi mencari kehangatan.
“Tidak usah, kamu di sini aja. Aku kedinginan kalau kamu pergi.” Aku mendekap kan tubuhnya lebih erat, membiarkan ia bersender pada dada bidangku.
Bu Lisa tidak berbicara lagi, matanya tertutup rapat dengan nyaman. Aku tersenyum, ikut memejamkan mata dan bersender di kepala ranjang.
Untungnya saat kejadian tadi, ketika aku melihat baju bagian dalam dari tubuhnya, ia tidak ngambek ataupun marah. Malah anehnya, dia menjadi orang yang pemalu dan sering salah tingkah, sekali saja mata kami bertemu, rona pipinya akan langsung bersemu merah.
Tapi itu adalah beberapa menit yang lalu. Kalau sekarang sepertinya dia sudah kembali lagi, kepribadiannya menjadi Bu Lisa yang aku kenal.
Aku benar-benar tidak menyangka kalau baju rumahan dia mempunyai bahan yang tipis. Saking tipisnya jika terkena air bajunya akan terlihat transparan sehingga memungkin bagian dalamnya terlihat.
Jika aku tahu seperti itu, aku tidak akan pernah berniat seperti tadi. Kau tahu, gara-gara kejadian tersebut suasana keluarga kami jadi canggung. Butuh keberanian yang kuat agar aku bisa berbicara dengannya kembali.
“Mas, aku ngantuk.” Cicitnya pelan.
“Yaudah, yuk tidur! Mas juga sudah ngantuk.” Kataku menguap, lalu membaringkan tubuh dia di kasur. “Mau Mas peluk?”
Bu Lisa tidak menjawab melainkan langsung mendekati tubuhku dan menenggelamkan wajahnya di dada. Aku tersenyum, mengelus rambutnya secara lembut.
“Selamat malam, Dek.”
“Selamat malam juga, Mas.”
Aku memejamkan mata dan langsung terjun ke alam bawah sadar.
Di keesokan harinya saat hendak berangkat ke sekolah, cuaca hujan masih mengguyur di luar sana. Sebenarnya pas tengah malam tadi sempat reda beberapa saat, namun ketika sekitar jam 5 dini pagi air hujan kembali terdengar.
Aku yang saat ini berjongkok di lawang pintu sedang memasukan kaus kaki, mengerutkan kening. Aku tidak menyangka bahwa hujan kemarin masih akan berlanjut hingga sekarang.
__ADS_1
Tanganku terangkat melihat arloji. Jam 6.10, masih pagi untuk berangkat ke sekolah.
“Dek, aku ikut mobil kamu ya berangkat?” Aku bertanya pada Bu Lisa saat dia nongol dari dalam rumah. Dia sudah memakai baju setelan gurunya dengan anggun.
“Ikut aja, Mas. Ini masih hujan, nanti kalau bawa motor kamu bisa basah seragamnya.”
Aku tersenyum mengangguk.
Kami berduapun akhirnya berangkat ke sekolah dan tiba 30 menit kemudian. Dia menurunkanku tepat di parkiran khusus guru, disini teduh dan tidak ada siapa-siapa jadi kami aman berdua di sana.
Sebelum keluar dari mobil aku mencium keningnya dengan lembut begitupun dengan dia yang mencium punggung tanganku.
“Dek, yang ini belum di cium?” aku mengetuk bibir dengan jari telunjuk. Senyuman nakal jelas terhias di pampang wajahku.
“Enggak ah, ini di sekolah. Sudah cepetan sana!” Bu Lisa berpura-pura mendorong kan tubuhku. “Nanti ada guru yang lain datang.”
“Makannya kamu ci-“
Bu Lisa menciumku tiba-tiba.
“Nah kan udah, ayo bergegas, Mas. Nanti ada guru lain yang lihat.”
Aku tersenyum bahagia. “Iya iya, cerewet banget sih isriku ini.” Aku mengacak rambut panjangnya pelan. “Yaudah, aku pamit dulu? Kamu jadi istri baik ya disini!”
“Iya! Kamu juga fokus belajarnya, jangan suka main game sama yang lain!”
Aku menyeringai tidak menjawabnya, lebih memilih langsung ke luar mobil, sebelum Bu Lisa berubah menjadi mode gurunya.
\*\*\*
“*Turritopsis nutricula*.” Pak Ahmad berseru dari depan, memulai pelajaran biologi. “Merupakan sejenis ubur-ubur yang memiliki rentan hidup yang paling lama. Bahkan paling panjang usianya dari seluruh mahluk hidup yang ditemukan oleh para ahli.
__ADS_1
“*Turritopsis nutricula* atau biasa di sebut sebagai ubur-ubur abadi, memiliki keunikan pada tubuh mereka. Sesuai namanya, dia bisa memiliki umur yang abadi.” Pak Ahmad menekan sesuatu di laptopnya, membuat gambar pada layar papan tulis berubah.
“Lihat! ketika si ubur-ubur ini menjadi dewasa dan bereproduksi. Alih-alih mati seperti kebanyakan ubur-ubur lainya, mereka justru tidak demikian. Mereka dapat mengubah dan memproduksi selnya sendiri sehingga menjadi bayi kembali, dan siklus ini terus berulang-ulang sampai kapanpun.”
“Berarti tidak bisa mati ya, Pak?” tanya Reno memotong penjelasan Pak Ahmad.
“Tidak seperti itu,” jawab beliau dengan mantap, “Ubur-ubur abadi tetap bisa mati oleh hal-hal faktor luar, seperti terjerat jaring, di makan mangsa, di racun atau yang lainnya.”
Reno terpaksa mengangguk seperti terbodohi. Tentu saja, jangankan hewan yang hidup lama seperti ubur-ubur abadi itu, bahkan semutpun yang hidupnya sebentar bisa langsung mati jika terinjak.
“Semua hewan mempunyai umur mereka tersendiri, ada yang lebih singkat dari hidup manusia dan ada pula yang berusia lama seperti yang bapak jelaskan tadi.” Pak Ahmad duduk di meja guru. Memainkan spidol di tangannya.
“Dari pada menebak usia ubur-ubur abadi itu yang entah berapa tahun hidupnya, ada juga hewan yang tak kalah lama darinya. Seperti spons laut yang bisa berumur ribuan tahun, kerang yang bisa berusia sampai lima abad, atau kura-kura yang mempunyai rentan hidup 250 tahun, dan terus kebawah nya yang di atas rata-rata umur hidup manusia.”
Kelas sejenak hening, semua murid terfokus mendengarkan penjelasan dari gurunya.
Pak Ahmad mengetik di laptopnya lagi, menampilkan gambar hewan lainya. Berbeda dengan hewan tadi yang seperti jeli, kali ini gambar hewan tersebut memiliki sayap.
“Perhatikan anak-anak.” Pak Ahmad berseru, meski padahal kami semua sudah memperhatikannya. “Hewan ini sejenis dengan capung, tetapi jangan di samakan dengan capung yang suka terbang di sekeliling kalian, itu sangat jelas berbeda. Ini namanya lalat capung atau nama latinnya *mayflies*.
“Jika sebelumnya bapak menjelaskan hewan yang berusia sangat lama, kali ini adalah sebaliknya. Lalat capung memiliki umur yang paling singkat dari hewan lainnya, mereka hanya memiliki usia sehari atau sekitar 24 jam untuk hidup.
“Lalu kenapa hewan yang hidup tersingkat ini tidak punah sampai sekarang, dan bahkan terkesan menjadi lebih banyak.” Pak Ahmad melirik Reno yang hampir hendak bertanya, sedangkan Reno yang tersindir oleh tingkah gurunya hanya menyeringai sambil menggaruk kepala.
“Jawabannya. Ketika mereka menetas dari telur, hewan tersebut akan langsung bergegas mencari pasangan untuk bereproduksi. Dan setiap kali lalat capung bertelur dapat menghasilkan sekitar ratusan butir dengan penetasan yang singkat. Sehingga memungkinkan lalat capung tidak punah walau berumur singkat.”
Pak Ahmad berhenti menjelaskan karena tiba-tiba ada guru lain yang mengetuk pintu kelas. Mereka langsung bercakap-cakap, namun terlihat dari percakapannya mereka membicarakan seperti hal yang serius.
Setelah beberapa saat percakapan mereka selesai, Pak Ahmad kembali ke bangkunya. “Kita sudahi dulu anak-anak pelajarannya. Bapak ada perlu sebentar.”
Semua seisi kelas ber-*yahh* kecewa, padahal tadi kami sudah berantusias mendengarkan pelajarannya.
\*\***Jangan Lupa Like dan Votenya**..
__ADS_1
**Terima kasih**\*\*