Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 109 — Perasaan Tertutup


__ADS_3

Dalam perihal wajah, mungkin wajahku terbilang rupawan di sekolah ini. Kulitku putih, memiliki mata cokelat terang serta rahang yang tegas. Penjiwaanku kepada orang lain terbilang hangat, menurut Della, aku mempunyai pandangan yang teduh, membuat siapapun yang melihatnya akan nyaman bersamaku.


Sebenarnya ini tidak mengherankan kalau ada yang menyukaiku seperti sekarang ini, hanya saja tetap terasa aneh ketika ada yang mau mengutarakan perasaan itu secara langsung.


Aku jadi teringat waktu dulu ketika Nina yang baru beberapa kali bertemu saja langsung mempunyai perasaan padaku.


Disini aku tidak akan menceritakan detail bagaimana surat cinta tadi bekerja. Saat pulang sekolah, aku bertemu gadis itu dibelakang gedung sekolah.


Sebenarnya aku sangat gugup waktu itu tetapi berusaha agar tetap tenang. Gadis itu sangat manis ketika kami bertemu, tingginya sepundakku, setelah berkenalan aku mengetahui kalau dia adalah adik kelasku.


Dia banyak menceritakan tentang diriku dari sudut pandangnya, dibanding rasa suka aku menyebutnya mengaggumi.


Setelah beberapa kalimat ia katakan akhirnya ia tiba pada inti pertemuan kami. Gadis itu mengungkapkan perasaan bahwa ia menyukaiku dari dulu, sejak ketika pandangan pertama.


Aku menggaruk pipi yang tidak gatal, bingung harus menjawab seperti apa.


“Terimakasih atas perasaanmu, hanya saja aku…”


“Tunggu-! Aku tau Kak Raka akan menjawabnya seperti apa tetapi jangan diteruskan, aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ini saja, tidak harus menjawabnya. Setidaknya Kakak tau kalau aku sedang menyukaimu.”


Wajah gadis itu merona merah sepenuhnya, ia bahkan tidak berani menatap wajahku. Gadis itu mundur secara perlahan sebelum berbalik dan pergi.


Aku terkekeh melihat tingkah malu-malu gadis itu, ia sangat imut dengan rambut sebahunya. Aku cukup yakin gadis itu mempunyai watak pemalu seperti Airin hanya saja ia terlalu memaksakan dirinya untuk mengungkapkan perasaannya.


“Andai ia tahu kalau aku sudah punya anak, mungkin dia.…” Aku menggelengkan kepala pelan, tertawa geli membayangkan itu semua.


Bu Lisa sudah menungguku di mobilnya ketika aku kembali, karena kebetulan hari ini aku tidak membawa motor jadi pulang ikut bersamanya.


“Bagaimana, Mas?” Bu Lisa langsung bertanya cepat ketika aku masuk kedalam mobilnya.


“Gimana apanya,” aku mengangkat bahu. “Semuanya sudah selesai…”


“Terus…”


“Sudah gitu aja, gak ada terusannya.”


“Ih, Mas… Adek penasaran tau dari tadi, gimana sih jawaban suami Adek kalau ada perempuan yang mengungkapkan perasaan?”


Aku tertawa kecil mendengar itu dan langsung menyentil keningnya. “Dasar…”

__ADS_1


Bu Lisa menggembungkan pipinya sebal, ia masih penasaran tetapi aku tetap tidak mau menjawabnya.


“Intinya gadis itu sangat manis, Dek, cantik, dia sangat pemalu namun tingkahnya itu membuat ia terkesan jadi perempuan yang imut…” Aku menceritakan sedikit info padanya.


Wajah Bu Lisa seketika berubah drastis mendengarnya, ia menundukkan kepalanya dan wajahnya sedikit tidak senang ketika aku memuji gadis lain.


Aku tersenyum. “Tapi dibandingkan dengan yang lain, Mamah tetap paling cantik dari siapapun…” Tambahku yang langsung mengecup pipinya sekilas.


Wajah dia merona, Bu Lisa ingin memalingkan ke arah yang lain tetapi aku menahannya dengan memegang dagunya lembut. Wajah kami jadi saling berhadapan.


Walau sedikit malu, istriku memberanikan diri untuk menatap mataku. Sedikit ukiran senyum yang aku tunjukkan cukup membuat ia tersipu dan salah tingkah.


“Ternyata, istri Mas juga tak kalah pemalu, ya…” Aku terkekeh pelan sambil mencium keningnya begitu lama. “Yuk jalan…” ucapku setelahnya.


“I-iya…” jawabnya yang malah jadi gugup.


***


“Tumben kalian pulang lama…”


Ketika kami pulang ke rumah, Mamah sedang menggendong Amelia diteras rumah.


Selama ini ketika aku dan Bu Lisa ke sekolah, Mamah lah yang menjaga Amelia dirumah. Jangan salah paham, ibuku lah yang menawarkan ingin mengasuh Amelia. Mamah paling senang kalau seluruh waktunya dihabiskan bersama cucu tersayangnya.


“Amelia gak ngeropotin ibu, kan?”


“Tidak kok, cucu mamah ini baik. Dia sepertinya cerdas seperti ibunya…” Mamah tersenyum lalu menoleh pada istriku.


Pujian itu membuat Bu Lisa tersipu, walaupun terkesan ditutup-tutupi tetapi aku ataupun ibuku tetap menyadarinya. Bu Lisa senang kalau dipuji ibu mertuanya.


Salah satu yang harus diingat bahwa Mamah sangat perhatian pada Bu Lisa, hampir menyamai sebagai anaknya sendiri.


Aku dan Mamah saling pandang sesaat sebelum tertawa kecil. Mamah memang sudah menyadari dari dulu kalau menantunya itu memang sedikit pemalu.


***


Dimalam harinya, aku tengah bermain game disopa tengah rumah. Hujan mengguyur deras dari luar tanpa ampun, deru angin begitu kencang hingga membuat tirai jendela bergoyang kuat.


Bu Lisa tak lama datang dari kamarnya, ia sudah menyusui dan menidurkan Amelia. Aku sedikit terlambat saat menyadari tampilan Bu Lisa malam itu sangat berbeda.

__ADS_1


Bu Lisa memakai baju transparan yang tipis, panjangnya bahkan tidak sampai sepaha sehingga kulit putihnya terlihat jelas. Rambutnya diikat kebelakang, menampilkan lehernya yang putih. Bisa dibilang, Bu Lisa memakai lingerie.


Pandanganku sudah tak lagi menatap ponsel malainkan memandang istriku tanpa berkedip. Tanpa sepatah kata apapun aku langsung menghampiri dan mencium lehernya.


Karena hari ini malam libur jadi kami habiskan semalaman berdua, entah berapa lama kami melekat hingga kecapean lalu tertidur sampai pagi.


Yang pertama aku lihat setelah bangun adalah Bu Lisa yang baru kembali ke kamar. Dia membawa segelas susu ditangannya dan meletakkan diatas laci, sepersekian detik ia menyadari aku sudah membuka mata.


“Mas sudah bangun?” Tanyanya yang angguki. “Ini susu buat Mas, masih hangat…”


“Kamu cantik…” Ujarku memandang matanya dengan dalam.


Bu Lisa langsung merona, ia tak menyangka ucapan itulah yang pertama aku lontarkan.


“Tidak seperti biasanya kamu memakai pakaian seperti itu, Mah. Kenapa?” Aku menunjuk pakaian Bu Lisa yang kini masih memakai lingerie.


“E-enggak ada apa-apa, Mas…”


“Sini duduk…” Aku menepuk area perut bawahku, menyuruh agar Bu Lisa duduk disana. Meski agak ragu ia akhirnya menurut dengan wajah yang menunduk malu. Aku tersenyum. “Kamu kenapa Lisa, ceritakan sama Mas, apa ada sesuatu yang salah denganku?”


Bu Lisa tidak menjawab, ia menggelengkan kepala pelan.


“Kalisa, sini tatap mata Mas dulu, kenapa, hm?”


“Itu…” Bu Lisa memainkan rambutnya dengan malu. “Menurut Mas… Adek gak cantik lagi, ya?”


Aku mengerutkan alis, tidak mengerti. “Kenapa kamu bicara seperti itu?”


“Jawab aja, Mas.”


Aku tersenyum lembut. “Kamu cantik kok, Mah, dan akan selalu tetap cantik. Bukan parasmu saja yang cantik tetapi sesuatu yang didalam sini...” aku menunjuk dadanya. “Juga tak kalah cantik.”


“Apa perempuan itu lebih cantik dari Adek…” cicitnya.


Aku sempat tidak memahami yang dimaksud Bu Lisa sebelum menyadari bahwa yang dimaksud perempuan itu adalah gadis kemarin yang menembakku. Ternyata selama ini Bu Lisa sedang cemburu.


“Tidak Sayang, kamu adalah wanita tercantik bagi Mas, selalu...” Aku mencium tangannya.


Bu Lisa terlihat senang dengan pujian itu, ia langsung mencium bibirku dengan malu-malu. Bu Lisa hendak bangkit dari posisinya dan melarikan diri tetapi aku mencegahnya.

__ADS_1


“Aku mau lagi…” Aku memasang wajah memelas.


Ronanya kian memerah, senyumannya terukir dengan sedikit malu. Aku terkekeh, tanpa harus menunggu jawabannya, aku langsung memulai kegiatan kami lagi.


__ADS_2