
“Mas, itu pebinor bukan pelakor.” Jelas Bu Lisa yang masuh cekikikan menahan tawa.
“Pebinor? Pebinor apaan?” Aku bertanya polos.
“Pebinor tuh laki-laki yang merebut istri orang, kalau pelakor wanita yang merebut suami orang. Kalau tadi menurutmu Pak Farhan sebagai orang ketiga dalam pernikahan kita, itu di sebut pebinor.”
Jadi dari tadi aku mengerutu salah sebut ya? Sebantar, tapikan aku juga gak salah. Kata pelakor itu lebih sering terdengar di banding pebinor.
“Yahh, apapun sebutannya Pak Farhan adalah orang jahat disini.” Aku bersikeukeuh dengan pendapatku.
“Sudah,sudah, Mas, gak baik bilang orang seperti itu. Ini ada bekal makan Adek, kamu mau?”
Bu Lisa mengulurkan kotak bekal makannya yang tinggal separuh kepadaku. Aku menggeleng. “Kamu harus makan banyak, sayang, biar kamu gemukan, biar nanti anak kita sehat-sehat. Mau aku suapi, hm?”
“Adek sudah kenyang, Mas, kamu aja deh habisin…”
Aku pura-pura tidak mendengarnya, kuambil bekal makanan Bu Lisa lalu duduk di sampingnya. “Ayo, Ma, aa…”
Bu Lisa menghela nafas panjang, kalau sudah begini dia harus menuruti permintaanku, dia akhirnya mau aku suapi hingga bekal makanan habis.
Sepuluh menit berlalu, suara bel masuk terdengar keseluruh penjuru sekolah. Aku berpamitan pada Bu Lisa untuk pergi, sedangkan Bu Lisa ia akan tetap di UKS karena masih sakit.
“Ayah pamit dulu ya, Ma?” aku mecium keningnya lalu turun ke bibir dan terakhir perutnya. “Anak-anak ayah jangan susahin Mama, kesian dia baru makan jangan di muntahin lagi.”
Bu Lisa tersenyum atas celotehanku, ia mengelus perutnya yang rata. Ada sedikit rona pada wajahnya.
“Kalau kamu masih tidak sehat badan, di sini aja dulu. Jangan maksain ngajar.”
“Iya, Mas, Adek ngerti.”
Aku mengecup keningnya sekali lagi, sedangkan Bu Lisa mencium punggung tanganku seperti kegiatan kami berpamitan dari rumah.
Reza sedikit menggerutu saat aku tiba di kelas, ia marah karena aku yang pergi tanpa membayar bakso dulu. Aku menyeringai lebar, lalu memberikan uang ganti.
Empat jam berlalu di masa-masa malas belajar, bel pulang pun akhirnya berdering. Semua murid segera berhamburan keluar, bersorak ceria.
Berbeda dengan kebanyakan orang yang langsung pulang, aku harus menunggu hingga sekolah sudah sepi. Itu karena aku menunggu Bu Lisa menjemputku.
Ah, pucuk di cinta ulampun tiba. Baru aku bercerita mobil merah istriku tiba, ia memberhentikan mobilnya di depanku dan secara perlahan kacanya turun.
“Ayo, Mas!” ujarnya.
Tanpa disuruhpun aku langsung masuk mobil, kuletakan tas di jok belakang sedangkan satu tanganku mengambil air minum di kaca depan, minuman itu adalah minuman bekas Bu Lisa.
“Kamu kenapa gak beli minum kalau haus, air sebotol gitu habis dalam sekali tenggak.” Bu Lisa menggelengkan kepala, ia mengambil tisu lalu mengelap sudut bibirku yang belepotan oleh air.
__ADS_1
“Mahal belinya, Dek.”
“Mahal apa males, Pa…”
Aku menyeringai lebar, tau aja istriku ini. Jarak gerbang sekolah dan kantin sangatlah jauh, butuh 5 menit agar aku bisa kesana. Jadi wajar-wajar saja kalau aku malas apalagi di jam pulang seperti ini.
Bu Lisa kemudian melajukan mobilnya pulang. Di tengah perjalanan dia mengatakan bahwa dirinya ingin mampir di sebuah toko, ia mau membeli alat kosmetik yang sudah hampir habis.
“Katanya mau beli kosmetik kok belanjanya di toko baju?” Aku menatap toko itu di dalam mobil, jelas-jelas di atas toko itu ada tulisan ‘Toko Pakaian’.
“Di sini selain pakaian juga jualan kosmetik, Mas. Toko ini adalah toko langganan Lisa dari dulu, kosmetiknya bagus-bagus tetapi harganya sangat terjangkau.” Jelasnya,
Aku mengangguk, sebenarnya kalau itu tentang perempuan aku tidak terlalu memikirkannya. Mana laki-laki peduli dengan kosmetik yang mahal maupun murah.
Bu Lisa segera memarkirkan mobilnya di dekat toko tersebut. Aku menatap toko itu sesaat sebelum berjalan masuk mengekor di belakang Bu Lisa.
Toko itu seperti toko biasanya, tidak ada yang istimewa. Hanya saja mungkin seperti yang istriku katakan tadi, toko ini berjualan kosmetik, ia terletak banyak di dalamnya.
“Mas mau sekalian beli pakaian, itung-itung nunggu Adek beli kosmetik?”
“Aku tidak bawa uang banyak, tadi disekolah cuma bawa secukupnya, hanya untuk jajan bakso dan minuman.”
Jika boleh jujur, uangku sebenarnya tinggal sedikit lagi. Semenjak aku mengirimkan seluruh uang pada Bu Lisa, Bu Lisa membaginya dan hanya memberikan uang jajan padaku seminggu sekali.
Aku mungkin bisa saja minta padanya, berterus terang kalau uangku menipis. Tapi rasanya ganjil bukan, mengingat akulah yang memberi tetapi aku juga yang meminta.
Tetapi semua pikiran itu langsung terbantah saat ketika Bu Lisa menyerahkan kartu ATM nya. Dia seakan menyadari kalau uangku sekarang sudah sedikit.
“Mas, kamu tidak usah malu kalau butuh sesuatu sama Adek. Kalau kamu butuh uang tinggal bilang aja, Adek akan langsung bantu, kok.” Bu Lisa tersenyum hangat . “Dalam sebuah pernikahan, suami memang harus menafkahi istrinya, tetapi hal tersebut tidak serta merta sang suami tidak berhak meminta.
“Pernikahan, tidak cukup hanya dengan saling melengkapi saja, keduanya juga harus saling menerima kekurangan pasangannya. Mereka yang belum siap dengan hal itu, tidak sepenuhnya saling mencintai.”
Aku terpaku menatap Bu Lisa begitupun dia sebaliknya, penjelasannya yang lembut dan tertutur rapih membuka pikiranku tentang pemahaman pernikahan.
Aku benar-benar lupa kalau aku menikah dengan seorang guru yang cerdas.
Tanpa aku sadari pandangan kami yang saling menatap menuntut lebih, entah itu wajahku dan Bu Lisa sama-sama saling mendekat. Aku menggenggam kedua bahunya sedangkan Bu Lisa menutup matanya.
Beberapa senti bibir kami akan bersentuhan tiba-tiba seorang pegawai toko datang mengganggu aksi ciuman kami. Aku dan Bu Lisa reflek mundur satu langkah, merasa malu karena ketahuan.
“Ehm! Maap menganggu, bisa saya bantu Mbak, Mas?” Pegawai wanita itu tersenyum kikuk, ia tentu menyadari apa yang akan kami lakukan di tokonya.
Untungnya, ketika aku tidak tahu harus berperilaku seperti apa, Bu Lisa dengan segala sikap kedewasaannya melangkah maju, dia bersikap tenang berbicara kepada si pegawai toko, seolah kejadian tadi kami tidak pernah terjadi.
Aku memandang kartu ATM Bu Lisa yang ada di genggaman tangan, menggenggamnya erat sebelum akhirnya berjalan masuk ke daerah pakaian khusus pria, membeli baju.
__ADS_1
***
“Eh, itu kamu beli apa, Dek?”
Bu Lisa terkaget saat melihatku dari samping, dengan reflek salah satu tangannya menyembunyikan barang itu di balik pinggang.
“Kamu beli apa, sayang, kok di umpetin?” aku bertanya heran.
Bu Lisa menggelengkan kepala cepat, “Tidak beli apa-apa Mas, cuma pakaian biasa.”
Aku menyipitkan mata curiga, pasti Bu Lisa menyembunyikan sesuatu.
“Beli apa sih?” aku berjalan mendekati.
“Gak beli apa-apa, Mas, ini hanya pakaian wanita.” Bu Lisa memapah mundur satu langkah.
“Bohong! Pasti kamu nyembunyiin sesuatu?” aku mengambil satu langkah maju.
“Ini… ini hanya pakaian biasa, Mas…” Bu Lisa makin gelagapan, ia mundur satu langkah lagi.
“Yaudah kalau pakaian biasa sini Mas mau lihat.”
“Eh, kalau itu, tidak bisa! Mas tidak boleh lihat!” wajahnya memerah, ia mundur satu langkah kembali.
Sebelum aku berbuat nekat untuk mencari tahu, mataku teralih pada cermin di belakang Bu Lisa. Seketika itu juga aku bisa melihat apa yang Bu Lisa sembunyikan di balik tubuhnya.
Wajahku menyeringai jahat. “Kamu beli pakaian dalam ya, sayang? Lihat tuh kebelakang!”
Bu Lisa refleks menoleh, saat itu juga matanya langsung melebar menyaksikan cermin di belakang tubuhnya, ia menyadari ia telah salah melangkah mundur. Dengan jelas di cermin itu terlihat pakaian dalamnya yang ia sembunyikan.
Tawaku pecah, ternyata dari tadi dia menyembunyikan cellana dalam. Bu Lisa mungkin merasa malu saat membelinya itulah kenapa kedatanganku kesini membuatnya kaget.
Dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus, ia langsung bergerak maju dan mendekapkan wajahnya di dadaku.
“Mas, jahat banget sih…” cicitnya sambil memukul dadaku pelan.
Aku tidak membalasnya, tawaku masih belum berhenti melihat bagaimana Bu Lisa salah tingkah. Murid-murid mungkin tidak akan tahu bahwa Bu Lisa bisa bertingkah seperti ini, saking malunya ia membenamkan wajahnya di dadaku layaknya anak kecil.
Di sisi lain, si pegawai toko hanya menggelengkan kepala melihat aksi romantis kami, ia tersenyum-senyum sendiri.
***Maap atas salah kosa katanya tentang ‘pebinor’. Jujur aja aku justru baru tahu ada istilah ‘pebinor’ di sebuah novel, yang aku tahu hanya kata ‘pelakor’ aja, hehehe… Sikap Raka yang salah mewakili author sedangkan sikap Bu Lisa adalah penjelas kalian. Terima kasih***…
__ADS_1
...Like dan Vote...