Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 75 — Pelakor


__ADS_3

“Ma, kamu yakin mau ke sekolah?” aku bertannya kesekian kalinya menganggu Bu Lisa yang tengah menyisir rambut.


“Iya, Pa, kan Mama udah kasih tau kemarin.” Istriku menjawabnya tenpa menoleh, terfokus menatap cermin riasan.


Aku menghela napas pendek, sepertinya Kalisa sudah keukeuh ingin mengajar lagi. Aku hanya khawatir kalau nanti dia kenapa-kenapa di sekolah, sedangkan jika dia di rumah akan lebih aman dengan adanya pelayan dan ibuku.


Jam menunjukan angka 8 malam, suasana langit sudah gelap pekat, cahaya bintik-bintik bintang mulai bermunculan, rembulan menggantung seperti melayang, malu-malu menampakan keindahannya.


“Ma, kamu bener yakin mau ke sekolah?” aku mengulang pertanyaan ke empat kali.


“Iya, Pa…”


“Boleh gak aku tidak izinin kamu kesana?”


Pertanyaanku sontak membuat gerakan menyisirnya menjadi terhenti, ia tidak lagi melirikku di balik cermin melainkan langsung menoleh.


“Kenapa tidak boleh, Mas?”


“Eh, itu… Aku hanya tidak mau kamu kelelahan sayang, itu saja.”


Aku menjawab pelan dan penuh kehati-hatian. Semenjak Kalisa hamil aku sebaik mungkin tidak menyinggung perasaanya, karena ada desas-desus wanita hamil itu mudah terbawa emosi.


Menanggapi hal tersebut Bu Lisa berdiri dari meja riasnya kemudian berjalan kearahku dan duduk di pangkuanku.


“Terima kasih atas ke khawatirnya, Mas. Adek senang. Tapikan Adek di sana bukan guru olahraga, Adek cuma berbicara di depan, berdiri saja.”


Dia berkata itu dengan senyuman, hanya saja saat ini aku tidak terlalu fokus pada ucapannya melainkan pada posisi kami yang berdekatan. Masalahnya adalah Bu Lisa malam ini berdandan seksi, bajunya tipis dan pendek, di tambah juga wajahnya berkas make-up.


“Kamu sengaja ya membuat adik Papa tergoda, hm?”


Bu Lisa terkekeh. “Emang Mas punya adik gitu?”


“Pura-pura gak ngerti lagi,” Aku menyentil keningnya dengan gemas. “Kita main ya malam ini?”


Bu Lisa mengangguk. Sepertinya yang menginginkan hubungan suami istri ini bukanlah aku saja, namun istriku juga demikian. Hal itu terlihat ketika aku mulai membuka helaian bajunya ia tidak memakai pakaian dalam apapun.


Saat Bu Lisa mengandung, memang sikapnya menjadi berbeda, dan mungkin terkesan berkebalikan. Seperti sekarang ini, jika biasanya aku yang memberikan kode untuk berhubungan intim, namun sekarang dialah yang memulainya dari awal. Walaupun mungkin dia tidak akan mengatakannya secara langsung.


Usia kandungan Bu Lisa sudah berumur sebulan, masih di perbolehkan untuk berhubungan intim asal harus berhati-hati dalam melakukannya. Dulu aku sempat malu-malu bertanya kepada ibuku tentang hal ini, alhasil ibuku langsung tertawa mendengarnya.


Setelah kami melakukan pelepasan, aku langsung ambruk cape, begitu juga dengan Bu Lisa. Istriku secara sigap menutupi badan kami dengan selimut, nafas kami masih menderu dengan senyuman kebahagian tertempel jelas.


“Terima kasih, Mas” istriku berkata terlebih dahulu, ia membalikan tubuhnya hingga kami jadi saling berhadapan.


Aku tersenyum. “Aku suka kalau kamu agresip kaya tadi, tapi gak boleh keras-keras sayang, nanti orang tuaku dengar lagi.”


Wajahnya langsung merona, mungkin dia tidak menyadari desahannya saat berhubungan terbilang keras.


“Kira-kira mereka dengar gak, Mas?” Bu Lisa bertanya malu-malu, menutupi wajahnya dengan selimut.


“Semoga aja tidak. Sekarang kita tidur yuk, udah larut malam.”

__ADS_1


Bu Lisa mengangguk, ia langsung membenamkan tubuhnya di dadaku. “Selamat tidur, Pa.”


“Iya, selamat tidur juga, Ma.”


***


Semuanya berjalan aman sejauh ini, tidak ada panggilan dari Bu Lisa yang mengkhawatirkanku. Kulirik ponsel setiap menit, takut ada notifikasi dari Bu Lisa yang tidak aku dengar.


Jam istirahat tidak lama lagi akan berdering, aku sudah memasukan buku-buku pelajaran selepas guru biologi telah berpamitan pergi.


“Ke kantin, Ka?” Zildan bertanya padaku dari samping.


Aku mengangguk, “Pastinya.”


“Oi! Kita ke kantin?” Kini Reza yang bertanya, berteriak dari bangku paling depan.


Aku mengangkat tangan sambil menjulurkan ibu jari, bertanda ‘iya’. Tidak sampai menunggu 3 menit, suara bel istirahat akhirnya berdering, semua murid sontak bersorak, berlarian keluar menuju kantin, termasuk aku yang di antara mereka itu.


Sudah hal lumrah di sekolah ini harus buru-buru berebut kursi kantin, jika kalian telat beberapa menit saja setelah bel, maka sudah di pastikan masa depan kalian harus makan di bungkus, atau dalam artian lain kalian harus makan bakso di kelas.


Beruntung sekali kami gesit mendapat meja, Reza, ya, Reza lah yang telah berjasa atas perebutan meja ini, tubuhnya yang gesit memungkinkan kami mendapatkan tempat duduk mendahului yang lain.


Zildan memesan bakso untuk kami, sedangkan aku dan Reza menunggu di meja. Tidak lama Zildan sudah membawa napan berisi tiga mangkuk bakso.


Di sela kami makan dan mengobrol, suara murid perempuan yang ada di meja kami membicarakan sesuatu, awalnya aku memang tidak peduli sampai ketika dia menyebut nama ‘Bu Lisa’.


“Kenapa? Mungkinkah saat itu Bu Lisa tengah sakit?”


“Mual-mual? mungkin dia masuk angin akibat cuti seminggu. Katanya dia habis jalan-jalan ke luar kota.”


“Terus gimana sekarang? Bu Lisa sudah baikan?”


“Aku tidak tahu, pasti sekarang Bu Lisa sedang di UKS.”


Mendengar obrolan itu sontak napsu makanku berkurang, aku langsung menarik diri dari kantin dan pergi menuju ruang UKS.


Sayup-sayup Reza berteriak dari belakang. “Oi! Kau mau kemana, Raka, bayar dulu baksonya!”


***


“Adek! Kamu tidak apa-apa?” Aku berseru panik dan langsung membanting pintu, napasku tersenggal akibat berlari dari lantai satu kelantai tiga.


“Huft… Mas, kamu bikin kaget aja.”


Kulirik istriku tengah sarapan bekalnya di kasur UKS, kemunculanku yang mendadak hampir membuat bekal itu tumpah.


Aku meringis sedikit merasa bersalah. “Maap, Ma, aku tadi panik.”


“Tidak apa-apa, sini masuk! Kita sarapan Pa.”


Aku menutup pintu UKS sebelum berjalan menghampirinya. Aku tersenyum bahagia ketika melihat bagaimana istriku sangat lahap makan. Kalian tahu, soal makanan ini istriku jarang sekali berselera, semenjak hamil ***** makannya berkurang drastis.

__ADS_1


“Kudengar kamu tadi mual-mual saat mengajar?” Akhirnya aku bertanya tentang mengapa alasanku kesini.


“Iya, Adek tadi mual-mual. Tapi tenang saja kok, Mas, aku tidak sampai muntah di kelas.”


Aku mengelus pucuk kepalanya. “Kalau gak kuat mengajar jangan di paksain ya?”


“Baik, Mas, Adek ngerti, Adek kalau lelah pasti istirahat kok.”


“Bagus itu baru su…”


Perkataanku terhenti saat ada suara pintu yang hendak dibuka. Aku dan Bu Lisa sontak mengambil jarak dan bersikap senormal mungkin. Ketika pintu terbuka sempurna terlihatlah Pak Farhan yang kesini.


“Kalisa, kudengar kau sakit?” Pak Farhan beridiri di sampingku, ada tatapan khawatir dari matanya.


“Tidak apa-apa, Farhan, tadi cuma mual sedikit.”


“Syukurlah, kupikir kau kenapa. Memangnya kau sedang tidak enak badan?”


Bu Lisa menggeleng. “Cuma mual.”


“Ah, kalau begitu kebetulan aku bawa manisan. Lumayan buat nyegah rasa mual.” Pak Farhan tersenyum dan memberikan kotak manisan pada Bu Lisa.


Bu Lisa ragu-ragu menerima. “Terima kasih, Pak.”


“Kamu ada urusan apa disini?” Pak Farhan kini menoleh kearahku yang dari tadi berdiri dan mendengarkan percakapan mereka.


Aku meneguk ludah, “Eh? itu Pak…. Aku… Cuma...”


“Raka aku suruh tadi untuk membawakan kotak makanan.” Bu Lisa memotong perkataanku segera.


Pak Farhan mengangguk, setelahnya dia berpamitan pergi. “Jaga kesehatan, Lisa, awalan musim hujan seperti ini memang rawan sakit.”


“Iya terima kasih, Farhan.”


Baru setelah di rasa Pak Farhan sudah jauh aku langsung mulai menyerocos. “Dasar pelakor! Masih curi-curi perhatian sama istri orang. Sudah di tolak masih aja berharap!”


“Mas, sstt… gak boleh gitu sama guru!” Bu Lisa menyuruhku untuk berhenti bicara.


Aku tidak peduli. “Sok-sok’an kebetulan bawa manisan, bilang aja niat ngasih. Hmph! kalau bukan guru, sudah aku buang manisannya. Tidak ada yang bisa mengambil istriku disini.”


Bu Lisa yang hendak ber-hsst menjadi urung saat mendengar kata ‘Istriku’. Kedua pipinya perlahan merona.


“Kamu mau manisan itu, Dek?” aku menunjuk kotak yang ada di genggaman Bu Lisa.


“Enggak sih, Adek tidak terlalu suka yang manis-manis.”


“Kalau begitu bagus, sini Dek! Manisannya, biar aku aja yang makan.”


Bu Lisa menahan tawa melihat gelagatku yang cemburu, ia kemudian memberikan manisannya. dalam sekali tenggak, aku menghabiskan semua manisan itu dengan perasaan yang amat kesal.


...~~...

__ADS_1


...Jangan Lupa Like dan Votenya, itu perbuatan sederhana tapi jelas menyenangkan bagi author. itu seperti penghargaan kalian padaku....


__ADS_2