
[Cerita ini adalah cerita ringan, hanya cerita keseharian saja. tidak ada orang ketiga atau konflik berat lainya! Jika tidak suka tidak mengapa, kalaupun suka tinggal baca.
Author harap semoga yang membaca bisa mengambil hikmah bukan dari kebalikannya. Terimakasih!! ]
Hai…! Namaku Raka, usiaku masih 16 tahun. Sekarang aku baru duduk di kelas 1 SMA tepatnya 5 bulan sudah aku lulus dari SMP.
Aku mempunyai 3 teman baik di sekolah dan sekarang bertambah dua dengan adanya si kembar. Reza, Zildan, Della, Arin, dan Airin, itulah nama kelima temanku.
Sebenarnya temanku di kelas tidak sedikit seperti itu, hanya saja aku tidak mau memperkanalkan semuanya. Buat apa? Toh nanti kalian juga gak akan dihafal, bahkan terkesan tidak peduli walau nanti diberitahu.
Aku akan sedikit memperkenalkan kelima teman baikku satu persatu. Pertama, Reza, dia adalah teman baikku sejak kecil, tepatnya kami sudah kenal sejak SD dulu. Reza adalah laki-laki cerewet yang mempunyai penasaran tinggi di kepalanya, dia juga berpengetahuan luas tentang Ilmu-ilmu tidak berguna.
Untukku sendiri, Reza adalah orang yang berjiwa pemimpin. Dulu ketika pas kami SMP, dia pernah menjadi ketua OSIS dengan kepemimpinan yang berprestasi, membuat nama sekolah melejit tinggi. Singkatnya, temanku ini hebat dalam memimpin sesuatu.
Lalu temanku kedua adalah Zildan, sama seperti Reza dia sudah mengenalku saat SD. Sepanjang aku berteman dengannya dia adalah orang yang gemar dan suka membaca buku, dia adalah temanku yang paling cerdas.
Tentang kecerdasanya aku tidak pernah meragukan dia sedikitpun, entah itu sejak SD sampai SMA Zildan selalu menoreh rangking pertama di kelasnya. Dulu aku sempat iseng melihat nilai raport dia dan siapa sangka, hampir semua nilai-nilai raportnya mendekati angka seratus.
Hanya saja Zildan itu pemalas, dia tidak pernah bersungguh-sungguh dalam belajar di sekolah kecuali jika itu adalah ulangan, maka dia akan menggunakan seratus persen dari kapasitas otaknya.
Lalu selanjutnya adalah Della atau kami sekelas menyebutnya ‘Ibu KM’ (ketua murid). Aku mengenal dia pas waktu SMP saat aku satu kelas dengannya. Yang aku tahu darinya bahwa dia selalu bertengkar dengan Reza, entahlah mereka seperti anjing dan kucing yang tidak pernah akur.
Namun meski begitu sebenarnya kedua orang itu tidak pernah saling membenci satu sama lain dan malah terkesan sebaliknya. Tentang hubungan Della dan Reza aku akan menceritakannya nanti di masa depan.
Oh iya, Della juga orangnya pemberani dan berjiwa pemimpin sama halnya dengan Reza. Dari kedua orang tersebut sebenarnya mereka sangat-sangat cocok, sama-sama terpimpin sama-sama bisa jadi pemimpin.
Terakhir adalah si kembar Arin, dan Airin. Seperti yang kalian tahu si kembar ini walau mempunyai wajah yang seiras tetapi sifatnya tidak seiras sedikitpun.
Arin sebagai kakaknya dia mempunyai sikap ceria dan periang, mudah senyum juga asik kalau di ajak bicara. Setiap kata dan tindakan yang di lakukan olehnya sangat sopan dan terhormat seperti seorang bangsawan.
Lalu untuk adiknya Airin, dia adalah orang pemalu dan pendiam, jujur saja akupun tidak terlalu tahu tentangnya selain dari kedua sifat tersebut. jangankan berbicara ataupun hanya sekedar mengobrol, bertatap muka saja dengan kami dia tidak bisa.
Diluar kelas kami si kembar itu dijuluki sebagai ‘dua bunga lotus kembar’, nama yang terkesan lebay namun sebenarnya berdasar. Bagaimanapun Arin dan Airin selain memiliki wajah seiras keduanya adalah perempuan yang cantik.
__ADS_1
Bukan itu saja, gara-gara kejadian sebelumnya aku jadi mengetahui bahwa mereka berdua adalah salah satu dari 12 keluarga terpandang, yang sangat jelas bahwa dia berasal dari orang kaya.
Nah itulah pengenalan teman-temanku menurut sudut pandang saya. Selanjutnya, aku akan menceritakan tentang rahasia besarku, yang dimana bahkan teman-teman baikku pun tidak mengetahui tentang hal ini.
Tetapi aku yakin kalian semua telah mengetahuinya, aku akan membicarakannya secara langsung. Kalian tahu? sebenarnya aku telah menikah, kalian tidak salah dengar aku memang sudah menikah.
Nama istriku namanya Kalisa, dia baru berumur 21 tahun dan kini dia berprofesi sebagai guru matematikaku. Jarak umur kami terlampau 5 tahun, jarak yang lumayan jauh untuk sepasang kekasih menikah.
Sedikit menceritakan, Kalisa atau Bu Lisa adalah guru yang tegas dan galak. Aku pernah dua kali di hukum olehnya gara-gara tidak mengerjakan tugas, lalu apa hukumannya? Dia tidak berseru galak atau marah-marah, dia langsung mengeluarkanku dari kelas.
Istriku itu memang terkesan kejam dalam menghukum para muridnya, bahkan mereka yang tidak mengerjakan tugasnya selama dua kali pertemuan, hukumannya sangat berat, ia tidak boleh masuk belajar matematika selama sebulan.
Lalu kenapa aku tidak dihukum padahal pernah tidak mengerjakan tugasnya dua kali, jawabannya simpel, karena aku adalah suaminya. Jangan bilang ini tidak adil! Menurutku ini adalah takdir.
Nah, seperti itu sikap istriku ketika di sekolah tetapi jika dirumah dia tidak demikian, sikapnya jauh berkebalikan. Kalisa yang di rumah adalah Kalisa yang lemah lembut, tidak galak, pemalu, dan pengertian, pokoknya berkebalikan banget dengan Kalisa persi gurunya.
Ngomong-ngomong umur pernikahan kami baru berjalan lima bulan, hitungannya sama persis ketika aku baru masuk di sekolah SMA. Jadi, bisa di bilang kami ini masih pengantin baru, masih dalam keadaan sayang-sayangnya.
\*\*\*
“Sayang, aku pinjem ponsel kamu sebentar!?” Aku berteriak pelan memanggil Bu Lisa yang tengah mandi.
“Ambil aja Mas! Ponselnya tidak di kunci kok!” Balas Bu Lisa samar-samar.
Aku berkepal tangan *yes* dan segera mengambil ponsel yang tergelatak di tengah kasur. Awalnya aku hanya iseng-iseng saja melihat foto *galeri*, namun seiring berjalannya waktu aku berpindah ke aplikasi sosial media.
Mataku melebar saat mendapati bahwa *followers* Bu Lisa sangat banyak di salah satu platform media sosial. Sekitar hampir 500 ribu tepatnya.
Di dalam akun platform tersebut terdapat banyak foto-foto Bu Lisa yang di *upload*, yang membuatku membulatkan mata bukan perihal fotonya melainkan komentar dari *upload* foto tersebut.
__ADS_1
Lihatlah, kebanyakan yang berkomentar adalah laki-laki yang genit, masih mending kalau cuma sapaan doang ini malah isi gombalan.
Hatiku menggerutu kesal, segera menghapus semua foto Bu Lisa sampai habis. Enak saja! Tidak ada yang boleh melihat kecantikan istriku selain aku.
“Kenapa, Mas?”
Tiba-tiba Bu Lisa sudah berdiri di sampingku dengan handuk yang terlilit sampai paha. Dia mengamati tingkah laku ku yang terlihat seperti orang kesal dan marah.
“Dek. Bolehkan aku hapus semua foto di akun ini. Aku tidak mau kecantikan kamu di pandang oleh orang lain terkecuali aku.”
Nadaku saat ini terdengar tegas namun sebenarnya dari relung hati agak takut, karena sebelumnya aku telah menghapus semua foto dia tanpa izin.
Tetapi sepertinya aku terlalu khawatir, Bu Lisa tanpa keberatan mengangguk, padahal di lihat dari akun dia, sepertinya akun ini sudah lama namun Bu Lisa tidak terlihat masalah sedikitpun.
“Kalau Mas mau seperti itu, gak apa-apa. Tinggal hapus aja.” Bu Lisa berjalan ke lemari tanpa menoleh sedikitpun.
“Kamu serius?” tanyaku takut salah dengar.
“Iya. Aku juga sebenarnya berniat mau menghapus foto-foto tersebut, namun karena sibuk jadi sering lupa.”
“Tapi followers kamu banyak, emang gak masalah?”
“Aku sebagai seorang istri seharusnya tidak banyak di kenal oleh orang lain apalagi jika orang itu tidak mengenalku. Seharusnya hanya cukup suamiku saja yang benar-benar mengenaliku.”
Bu Lisa menjawabnya dengan ringan sambil mencari baju-bajunya di lemari. Dia tidak menyadari bahwa perkataan itu telah menghangatkan hatiku.
Aku beranjak dari kasur dan langsung memeluk perutnya. “Kenapa, Mas?” Bu Lisa terheran-heran karena aku memeluknya tiba-tiba.
“Enggak, aku hanya sedikit terharu dengan kata-kata kamu tadi. Biarkan lima menit seperti ini.” Aku mempererat pelukannya.
Bu Lisa yang hendak berbicara mengurungkan niat, mungkin ia khawatir handuk yang melilit tubuhnya akan terlepas begitu saja.
__ADS_1
[**Cerita ini adalah cerita ringan, hanya cerita keseharian saja. tidak ada orang ketiga atau konflik berat lainya! Jika tidak suka tidak mengapa, kalaupun suka tinggal baca.
Author harap semoga yang membaca bisa mengambil hikmah bukan dari kebalikannya. Terimakasih**!! ]