
Kunci yang membuka semua gembok adalah kunci yang hebat. Sedangkan gembok yang dibuka semua kunci adalah gembok yang tidak berguna.
Hari minggu tepat disiang hari, langit terlihat cerah tak berawan di atas sana, hamparan warna biru terhampar luas menyelimuti semua daratan bumi. Di negara yang letaknya mendekati garis katulistiwa, langit yang cerah bisa menandakan cuaca panas tak terkira, dengan panas tersebut itu sudah cukup untuk sebagian orang malas keluar.
Aku menghembuskan nafas dengan begitu malas, pasalnya jam 12 seperti ini aku akan berpergian keluar rumah, meninggalkan tempat berteduh yang telah menaungi beberapa jam yang lalu.
“Jadi siapa yang nyetir?” Aku bertanya saat Bu Lisa sudah nongol dari pintu rumah. Dia terlihat memakai baju kasual yang feminim dengan rok berwarna merah sebagai bawahannya.
“Tentu saja aku, Mas kan sekarang masih di bawah umur untuk mengendarai mobil.” Jawabnya sambil tersenyum manis.
Aku hanya menyeringai menanggapi jawabannya, tentu saja itu hanya basa-basi, tidak harus membuat senyuman semanis itu.
Di saat dalam mobil kami tidak membuka suara apapun, hanya terdengar deru mobil yang berjalan mengisi keheningan kami. Namun itu tidak lama sampai pandanganku mengarah menatapnya.
Jika dilihat, wajahnya saat ini berbeda, ia terlihat lebih begitu muda dari hari biasanya. Itu sangat jelas, kerena sebabnya ia memakai make up yang biasanya jarang terlihat, entah itu dari segi mata, pipi, dan bibirnya.
Tanpa pikir panjang aku mendekatkan wajahku dan mencium pipinya sekilas, wajahnya yang cantik tak bisa aku diamkan seperti itu, kali ini aku memang sangat menginginkan untuk menciumnya.
“Apa yang kamu lakukan, Mas?” Dia menatapku tajam, tindakanku kepadanya jelas membuatnya terkejut.
Di sisi lain aku hanya tersenyum. “Kamu berbeda sekarang, wajahmu sangat cantik lebih dari biasanya, Dek.”
“Bilang aja ambil kesempatan pas waktu lengah.” Dengusnya kesal dan menggelembung pipi.
Aku hanya cekikikan, tak membalas lagi, boleh jadi ada benarnya juga ucapanya. Tapi aku tak menyesal melakukanya, toh dia juga istriku ini.
Setengah jam berlangsung, akhirnya mobil kami berhenti di toko buku yang mana itu tujuan kami sebelumnya. Aku menatap sekeliling toko tersebut, di area parkir hanya ada beberapa mobil yang menetap, itu menandakan bahwa toko buku itu tidak memiiki banyak pengunjung.
“Buku apa yang mau kamu beli?” tanyaku padanya. Tentu alasan kenapa aku kesini secara tidak langsung karena di ajak olehnya, secara dia telah memohon-mohon kepadaku untuk mengijinkan ia pergi kesini.
“Novel.” jawabnya singkat.
Aku mengerutkan kening ketika mendengarnya, kupikir ia akan membeli buku yang berkaitan dengan pelajaran sekolah namun jawabannya berbanding jauh dari perkiraanku.
Kamipun turun dari mobil dan langsung berjalan ke toko, entah karena aku belum pernah ke sini, saat aku masuk ternyata alangkah besarnya ruangan tersebut di banding yang terlihat diluar.
Pandangan pertama yang dilihat adalah banyak rak besar yang berjajar rapih, dimana setiap rak itu terdapat ribuan buku sudah tersusun.
__ADS_1
Bukan itu saja, saat aku melihat ke atas ternyata bangunan tersebut berlantai dua, dibanding dengan sebutan toko buku alangkah bagusnya seperti perpustakaan.
“Aku akan menunggumu di sini.” Kataku sambil langsung duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan toko. Secara aku tidak terlalu tertarik dengan dunia perbukuan, jadi dari pada membosankan nanti di sana lebih baik diam dan menunggu di sini.
Dia hanya mengangguk dan berlalu pergi menuju lebih dalam perpustakaan.
Lima menit, setengah jam, satu jam, lalu hingga dua jam waktu telah berlalu aku menunggu, namun sampai saat itu kedatangan Bu Lida masih belum terlihat sedikitpun, sudah beberapa kali aku menengok sana-sini, tetap saja sosoknya belum terlihat.
Aku mendengus, sudah cukup! aku akan mencarinya. Membuat wanita belanja sendiri adalah keputusan yang salah dan fatal.
Untungnya pengunjung yang sepi saat ini memudahkanku untuk berlari kecil mencari dia, setiap belokan, sudut, bangku tak bisa lepas dari pengamatanku.
Setelah beberapa saat, lantai pertama sudah semua aku jejali, tetapi keberadaan Bu Lisa masih tidak ada, dan itu hanya satu jawaban, dia berada di lantai dua.
Di waktu yang salah, ketika aku sedang sedikit emosi karena terlalu lama menunggu, agak marah. Tiba-tiba ada kejadian di depan mata yang membuatku menjadi lebih marah.
Di depan sana, aku bisa melihat Bu Lisa sedang mengobrol dengan seorang laki-laki, wajahnya terlihat berseri-seri dengan tawa kecil dari keduanya.
Saat emosi sudah membakar ke seluruh tubuh, aku hendak berlari dan menghampirinya. Namun baru saja beberapa langkah, aku mengurungkan niat tersebut ketika mendapati laki-laki yang di ajak ngobrol oleh Bu Lisa adalah orang yang aku kenal.
Tanganku sudah mengepal keras, tidak bisa berbuat apa-apa, ingin sekali aku menarik Bu Lisa dan membawanya pulang.
Tapi untuk sekarang kondisinya tidak mendukung, aku tidak boleh membiarkan orang lain tahu bahwa aku dan Bu Lisa mempunyai hubungan.
“Ayo pulang sekarang!”
Aku memberikan Pesan padanya beberapa kali, entah ia sudah selesai membeli buku atau belum, yang pasti aku tidak peduli, aku akan membawanya pulang dengan paksa.
Tepat beberapa menit sesudahnya, Bu lisa datang dari kejauhan dan menghampiriku. “Ada apa, aku belum selesai membeli bukunya."
Ya ampun!! Bahkan setelah dua jam berlalu Dia masih belum sempat memilih buku, apa yang dia lakukan sebelumnya, mengobrol dengan Pak Farhan selama dua jam.
Aku menatap matanya dingin lalu meraih tangannya. “Ayo pulang! Aku sudah menunggumu dua jam penuh, bukanya memilih buku untu di beli, kau malah mengobrol dengan Pak Farhan."
“Apa maksudmu?” Dia menatapku heran.
“Maksudku? Kurasa sudah jelas aku mengucapkannya tadi.” Aku menarik tangannya dengan keras, berjalan keluar menuju mobil.
__ADS_1
“Raka sakit! Jangan keras-keras!” Dia mengaduh kesakitan saat tanganku menariknya paksa.
“Masuk!” Ucapku dingin saat kami sudah berada di dekat mobil.
Dia menghempaskan tanganku dengan kasar, wajahnya kini sudah merah padam karena marah, matanya terlihat berkaca-kaca hendak mau menangis.
Ketika kami sudah berada di mobil, dengan cepat aku langsung mencium bibir kecilnya dengan kasar. Tak peduli apa, saat ini aku ingin menyadarkan bahwa dia sekarang adalah milikku.
Mata dia terbelalak kaget, dan hendak memberontak menghindarinya. Namun tindakan itu tidak berarti, aku dengan kuat bisa mendekatkan bibirku kembali dan menciumnya lagi.
Ciumanku walau sangat lama, dia sebenarnya tidak membalasnya dan bahkan ia terlihat pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa.
“Maap," Kataku setelah melepaskan ciuman.
“Kau jahat Raka!” Teriaknya marah dengan matanya sudah berair menangis.
Aku menahan tangannya saat dia hendak keluar mobil dan langsung memeluk tubuh kecilnya secara lembut.
“Maap.” Lirihku sekali lagi, menguatkan pelukan ketika dia beberapa kali memukul dengan keras untuk mencoba melepaskannya.
Aku tahu, saat ini dia benar-benar marah kepadaku, itulah kenapa aku memeluknya, berharap kemarahan itu luruh hingga habis.
“Aku minta maaf Lisa, aku tahu kelakuanku kali ini berlebihan, aku tahu aku salah. Saat itu aku hanya cemburu ketika kamu berduaan dengan Pak Farhan, aku benar-benar marah, aku mohon maapkan aku."
“Tapi caranya tidak seperti ini Raka” Teriaknya menangis memukul pundak ku beberapa kali.
“Aku tahu dan aku minta maap, ” ucapku lagi dan lagi, memeluknya dengan lebih erat.
“Aku tidak suka kau kasar seperti itu, Raka." katanya dengan pelan dan mulai berhenti menangis.
“Iya aku salah, aku minta maaf sayang."
Setelah itu kami hanya berpelukan lama di mobil, hingga bahkan Bu Lisa tertidur di pundakku. Wajahku tersenyum, mengusap wajah halusnya.
\[**Sudah Direvisi**\]
\*\*\***Like dan Votenya, dan silahkan bila berkenan koment kekurangan novel ini biar nanti author perbaiki**...!!
**Terimakasih**\*\*\*..
__ADS_1