
Memperkuat diri sendiri, tapi tidak untuk bersaing.
“Hei! Kenapa aku bagian lomba balap karung. Aku gak mau! Enak saja…” Reno berseru protes, dia masih tidak percaya dengan apa yang di lihat.
“Semuanya sudah di susun Reno, kau tidak bisa membantahnya,” jelas Della dari depan.
“Tapi kenapa harus balap karung, kan banyak lomba yang lain? Kau tau Del, balap karung itu memalukan. Nanti aku bisa gatal-gatal memakainya.”
Seruan Reno sukses membuat seisi kelas cekikikan tertawa, mereka semua tahu bahwa Reno kebagian sisa-sisa lomba.
Kami saat ini sedang melakukan rapat persiapan PKS (pentas kreativitas sekolah) yang akan di laksanakan lusa depan. Para murid sekarang dikumpulkan di kelas untuk pembagian-pembagian lomba.
Della memimpin rapat ini sebagai ketuanya diikuti dengan Reza yang membantu di samping. Kedua insan itu tidak akan bertengkar ketika kondisi serius, malah bagusnya mereka saling bekerja sama.
PKS di sekolah kami akan berlangsung selama seminggu, didalam acaranya nanti terdapat banyak sekali lomba-lomba dan kreasi menakjubkan dari panitia OSIS. Semua kelas harus wajib berpartisipasi, jika tidak, maka akan dikenakan sanksi dari sekolah berupa hukuman tertentu.
Perlombaan itu bukan perorang saja seperti yang di alami Reno, banyak di antaranya berbentuk individual, tim, dan bahkan seisi sekelas. Seperti aku contohnya yang kebagian dalam lomba estapet.
Reza, Zildan, dan aku, tadi kebagian dalam satu tim lomba lari sambung yang kebetulan harus berjumlah tiga orang. Della sebagai ketua murid mengetahui bahwa kami sudah dekat dari kecil memutuskan untuk di satu timkan.
Aku tentu tidak keberatan, apalagi Reza yang paling semangat, tetapi berbeda dengan si jenius yang pemalas. Butuh beberapa menit hingga akhirnya ia mau mengikuti lomba.
“Kalau begitu Reno, kau harus menjadi model perempuan jika tidak mau balap karung. Bagaimana?”
Wajah Reno berlipat kaget, “Eh, tidak perlu-tidak perlu. Kalau dipikir-pikir lagi balap karung tidak terlalu buruk!”
Della tersenyum puas, “Nah, itu bagus. Kau tinggal loncat-loncat saja nanti, tidak usah berlari-lari atau berpikir banyak.”
Semua orang tertawa gelak, apalagi melihat wajah Reno yang sudah kesal dan pasrah. Dia tidak berkomentar apapun lagi, memutuskan menyalakan ponsel dan bermain game.
\*\*\*
Sudah lama sekali aku tidak kesini, terakhir kali saat sebelum ujian dulu, itupun harus singkat bersinggahnya.
Selesai rapat tadi aku berniat pulang ke rumah langsung, namun di tengah jalan aku mengubah keputusan tersebut dan beralih ke toko swalayan teringat untuk menyapa temanku.
Karena sekarang belum waktunya istirahat jam kerja, aku memilih untuk menemuinya secara langsung. Kebetulan sekali di rumah stok cemilanku hampir habis, aku harus berbelanja kembali.
“Selamat datang di toko kami! Silahkan berbelanja dengan~ Eh? RAKA!” Seorang kasir yang selalu menyambut para pelanggan tiba-tiba wajahnya terkejut saat kedatanganku.
“Yoh, Nina. Apa kabar?” Aku menyeringai lebar, menyapanya ramah.
“Eh? mm... ba-baik. Eh? ak-aku… aku ke toilet dulu sebentar" Nina menatap kasir disampingnya sambil berjalan pergi. "Din! kamu gantiin aku sebentar."
Aku melongo dan hendak menyusulnya, namun tiba-tiba ada tangan terulur menghalangiku. “Hei! Kau mau mengikuti dia ke toilet"
Aku menggaruk kepala, bingung, betul juga… kenapa aku harus menyusul dia ke toilet.
Kasir wanita yang menggantikan Nina itu mulai menghitung belanjaanku satu persatu, “Bukankah kau laki-laki yang bersama Nina minggu kemarin itu bukan?”
__ADS_1
Aku mengangguk. “Iya, Mbak.”
“Jadi seperti ini selera si Nina.”
“Gimana Mbak?”
“Tidak, lupakan saja. Ini semua totalnya 35 ribu.” kasir itu tidak mau membahasnya, dia lebih memilih mengakhiri percakapan ini dengan cepat.
Aku hendak mau bertanya lagi tetapi tidak jadi karena melihat ada antrian dibelakang yang sedang menunggu. Pada akhirnya niatku bertemu dengan Nina batal, aku menghela nafas panjang, mulai berjalan keluar.
“Hei, Raka. Kau mau pulang!?” suara seseorang dari belakang menghentikan langkahku setelah beberapa langkah dari toko, saat aku menoleh ternyata itu Nina yang sedang berlari ke arah sini.
“Kupikir kau akan singgah di sini sebentar?” tanya Nina setelah mendekat.
“Kupikir kau tidak mau bertemu denganku?” balasku mengangkat kedua bahu.
“Tidak, tadi aku cuma berhias dulu, eh, maksudku ke toilet dulu. Aku kebetulan kebelet mendadak.”
“Oh, yasudah… Aku hanya ingin mengatakan kalau ada waktu kau mampir ke sekolahku, di sana sedang pelaksanaan PKS, kau bisa mampir kesana untuk melihatku mengikuti lomba.”
“Kapan?” Tanya Nina yang berubah sumringah.
“Besok lusa.”
Di saat PKS berlangsung, sekolah memang di buka untuk umum, katanya ini adalah cara agar semua orang tahu bagaimana kreativitas para murid di sekolah kami.
“Oh, ok-ok, aku akan mampir kesana jika ada waktu senggang. Eh, kau mau pulang, Raka?”
Nina mengangguk, “Kalau begitu sampai ketemu di sekolah.”
Aku tersenyum lalu melambaikan tangan. Pergi.
Setibanya di depan rumah, Bu Lisa baru saja pulang, dia turun dari mobil merahnya. Aku menekan tombol klakson membuatnya langsung menoleh ke arahku.
“Kirain Adek, Mas sudah ada di dalam rumah,” Bu Lisa mencium tanganku.
“Enggak, tadi aku mampir ke toko dulu sebentar, mau membeli cemilan ini.” kutunjukan kresek putih di tangan.
“Emang di dalam sudah habis?”
“Enggak sih, hanya tinggal sedikit lagi.”
Bu Lisa hanya ber’ooh saja, ia mengambil kunci rumah di bawah keset dan membuka pintu. Di dalam rumah semuanya sudah rapih, tidak harus bersih-bersih lagi saat seperti dulu, itu karena sekarang ada Bu Liya yang bekerja di sini.
“Mas, mau di buatin minum?” Bu Lisa menawarkan.
Aku mengangguk, duduk disopa. “Iya, jus jeruk dingin sayang.”
Bu Lisa pun pergi lalu setelah beberapa menit kemudian dia sudah kembali dengan gelas minuman di tangannya. Saat aku menerima gelas itu dia berbalik arah. “Mau kemana?”
__ADS_1
“Mau ke dapur dulu Mas, ngambil minuman"
“Tidak perlu, kamu duduk disini aja. Nanti biar aku yang ngambil minumnya.”
“Tapikan Mas baru pulang, masih capek.”
“Begitupun denganmu Dek, ayo sini duduk!” aku menepuk samping sopa.
Bu Lisa menurut, ia duduk di sampingku. Melihat dari gurat wajahnya, sepertinya istriku sekarang sangat kelelahan.
Aku meminum jus yang sebelumnya di bawa Bu Lisa, tidak menghabiskan semuanya karena aku berniat menyisakan pada istriku. “Mau minum?”
Bu Lisa mengangguk, dia mengambil gelas yang sebelumnya aku minum.
“Masih mau lagi?” tanyaku kembali.
Bu Lisa mengangguk lagi, aku berdiri lalu mengambil jus jeruk di dapur.
“Sini, aku pijetin kamu ya?”
“Enggak usah Mas, kamu istirahat aja.” Bu Lisa menolak cepat.
“Bagian mana yang pegel, hm?”
“Itu… Mm… Bagian pundak, Mas.”
Aku tersenyum dan mengikuti apa yang dia katakan, kupijit bagian pundaknya lembut. “Ada lagi gak?”
“Udah Mas. Gak usah!”
“Bagian ini pegel?” aku merubah posisi ke bagian betis kakinya.
Bu Lisa dengan patah-patah mengangguk, aku tahu dia dari tadi mencoba untuk tidak merepotkanku, makanya dia beberapa kali mencoba menolak.
Setelah Bu Lisa mengatakan cukup, aku kembali duduk di sampingnya.
“Terimakasih ya Mas, nanti Adek pijitin kamu.” Ujarnya menyandar didadaku.
“Tidak usah, kamu sekarang istirahat aja.” Aku membelai rambutnya pelan.
Bu Lisa mengangkat kepalanya lalu dengan tiba-tiba mencium pipiku, lantas setelah itu ia menenggelamkan wajahnya didadaku kembali.
“Ciuman tadi belum cukup untuk membalas tenaga pijitan Mas, kamu seharusnya mencium bibirku, baru itu adalah bayarannya.”
Aku berkata demikian tentu saja hanya gurauan, tapi ternyata Bu Lisa tidak menganggapnya seperti itu. ia malah menciumku lagi namun kali ini bagian bibirku.
“Sekarang tenaga Mas sudah pulih lagi kan?” tanya Bu Lisa tersenyum.
“Terlalu pulih sayang…” aku mencolek hidungnya yang membuat Bu Lisa malu-malu menatap mataku.
__ADS_1
#Like dan Votenya