Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 102 — Lilyana Rena


__ADS_3

Sekarang aku mulai mengerti jawaban Rena waktu lalu, tentang hubunganku dan dia yang sudah terikat. Juga aku mengetahui kenapa Rena bisa tahu rahasiaku yang sudah menikah maupun punya anak.


Aku sekarang tahu semuanya.


Jika ini didalam sebuah novel, mungkin cerita ini disebut plot-twis. Ah, aku prsutasi memikirkannya lagi dan lagi. Ini menyebalkan.


Akan kuberitahu pada kalian, bahwa Rena adalah adiknya istriku, adiknya Kalisa. Bibinya Amelia. Catat itu!


Sebenarnya fakta ini tidak sepenuhnya benar, secara garis keturunan, Rena bukanlah adiknya Kalisa melainkan sepupunya. Hanya saja, entah itu menurut istriku atau mertuaku, mereka menganggap bahwa Rena sudah menjadi bagian dalam kelurganya.


Kejadian ini terjadi sekitar beberapa jam yang lalu, saat aku sedang ke rumah mertuaku, mengambil baju dinas Kalisa.


Ketika aku dan Bu Lisa hendak membuka pintu rumah, tiba-tiba dari dalam ada seseorang yang berhambur memeluk Bu Lisa. Untungnya waktu itu Amelia ada digendonganku, jika tidak mungkin anakku akan tergencit.


“Kakak…” Gadis itu tersenyum riang, menenggelamkan wajahnya dalam tubuh istriku.


“Eh, Lilya, kamu sejak kapan kembali kesini?!” Bu Lisa girang menimpali, matanya mebulat. “Kok gak bilang sama Kakak. Aduh, sudah besar sekarang, ya, cantik lagi.”


“Iya, dong. Aku kan pasti cantik.” gadis itu tersenyum lebar, senang saat istriku mengelus pucuk kepalanya.


“Kamu kapan kesini, kok gak bilang, terus kenapa gak ketemu Kakak langsung dirumah Bu Ratna?”


“Mm, sejak dua minggu lalu sih, sengaja gak dikasih tau buat kejutan.”


“Uh, semakin pintar ya, sekarang.” lagi-lagi Bu Lisa mengelus pucuk kepalanya, tertawa kecil.


Bu Lisa kemudian menoleh kearahku yang semenjak tadi mendengar percakapan mereka. “Mas, ini Lilya, sepupunya Lisa. Dia~”


“Kak…”


“Eh, iya lupa. Maksudku, dia adiknya Lisa, Mas.”


Aku tersenyum tipis, tanpa perkenalan pun aku sudah tahu wanita tersebut. Kalian bisa menebaknya? Gadis bernama Lilya itu yang tak lain adalah Rena.


Begitulah cerita menyebalkan terjadi. Sangat menyebalkan, bukan? Bagaimana aku dan dia punya hubungan seperti ini, dasar menyebalkan.


Aku dan Bu Lisa masuk kekamar, aku langsung menuntut jutaan pertanyaan pada istriku, menuntut jutaan penjelasan, menuntut semua yang terjadi? Bu Lisa harus menjelaskan semuanya.


Aku juga memberitahu bahwa Rena yang sering aku ceritakan padanya hari-hari lalu tidaklah lain orang yang sama dengan sepupu(Adiknya) Bu Lisa. Sebelum Bu Lisa memberikan jawaban, aku menutup pintu kamar telebih dahulu, menguncinya.


Sengaja agar Rena tidak mendengar dan masuk.


“Jadi Rena yang Mas maksud selama ini adalah Lylia?” Tanya istriku termenung, namun tak lama dia tersenyum dan tertawa kecil, seolah mengerti semuanya. “Adik Lisa jail sama kamu, ya, Mas?”


Aku mendengus, bukan jail lagi, malah kami bertengkar. Rena bahkan hampir mematahkan tanganku.


“Kok kamu gak bilang punya adik?” Aku melipat tangan didada, mengintrogasi istriku.


“Adek kan memang gak punya adik, Mas, tetapi itu tidak sepenuhnya salah. Rena memang sudah Lisa anggap adik sendiri.”


“Terus, kamu kenapa manggil Lilya, bukankah nama dia Rena?”


“Nama asli Rena itu sebenarnya adalah ‘Lilyana Rena’. Sejak kecil dulu, Adek selalu manggilnya Lilya.”


Aku menggaruk kepala, duduk dipinggiran kasur, kakiku dilipat saling menumpu. “Terus, dari segi mana Rena dan kamu memiliki ikatan keluarga?”


Bu Lisa masih sabar menjawab, menatap mataku lebih teduh.


“Mamah Adek mempunyai adik perempuan namanya Bi Riska, dia menikah dengan salah satu putera dari keluarga terpandang, Mas taukan itu?” Aku mengangguk, Reza pernah memberitahukan hal itu. “Nah, Bi Riska mempunyai anak dan itu yang tak lain adalah Rena.”

__ADS_1


Aku menghela napas, sekarang aku mengerti semuanya. Ya. Sangat mengerti.


“Tapi, kenapa Rena terlihat tidak menyukaiku saat bertemu, bahkan dia sangat benci pada Mas? Rena terlihat…”


Suara ketukan pintu terdengar, memotong ucapanku. Bu Lisa membuka pintu dan terlihat Bu Ayu yang tengah menggendong Amelia.


“Dia menangis terus, Lisa, mungkin minta dikembaliin pada ibunya?” Jelas Bu Ayu.


“Sepertinya begitu, Mah. Amelia hari ini belum disusui.”


Bu Ayu mengangguk, membiarkan cucunya bersama ibunya. Dia berpamitan lalu kembali turun.


Bu Lisa membuka kap Bra-nya kemudian mulai menyusui Amelia. Dia duduk dikasur tepat disampingku, wajahnya tersenyum dengan hangat. Demi melihat senyuman itu, rasa sebalku dengan fakta Rena menguap begitu saja. Aku mengecup pipi Bu Lisa.


***


Kembali sekarang.


Rasa sebalku kembali datang melihat seseorang didepanku. Setelah kembali ke kompleks tempat tinggal rumah kami yang asli. Aku dan Bu Lisa tidak kembali dalam keadaan bertiga, melainkan berempat.


Seseorang kini tengah bermain disopa dengan Amelia, seorang gadis, menggendong anakku.


Aku duduk disebelah sopa yang lain, menatap tajam gadis tersebut.


“Kau kenapa bisa disini?” Aku menyipitkan mata, menyelidik.


Rena, gadis itu, yang tengah mengangkat Amelia langsung menoleh, ia menurunkan Amelia kembali. “Kenapa? Inikan rumah kakakku?”


“Tapikan, rumahku juga.”


“Kau tidak suka aku disini?” Dia mengernyitkan alisnya.


Aku terdiam, tidak bisa menjawab.


Rena tertawa, aku berlipat sebal mendengarnya.


Percakapan kami terhenti saat Bu Lisa muncul ditengah-tengah dengan membawa gelas air dingin. Bu Lisa menyuguhkan untukku.


“Terimakasih, Dek.”


“Iya, Mas, tidak masalah.” Bu Lisa tersenyum.


“Kakak kok mau sih disuruh-suruh sama dia? Diakan lebih muda dari Kakak?” Rena menunjukku, dari tadi dia memasang wajah kesal karena aku menyuruh-nyuruh kakaknya.


“Mas Raka, kan, suaminya Lisa. Jadi sudah kewajiban istri melayaninya.”


“Tapi dia lebih muda, seharusnya Kakak lah yang menyuruh Raka untuk mengambil minum.” Rena tidak terima.


“Tidak seperti itu konsepnya, Lilya. Kalau soal nikah, tidak ada konsep tua atau muda. Jika sudah bersuami istri, kamu harus menuruti apa yang disuruh suami. Bersopan santun, berlemah lembut, bertutur kata yang baik.


“Bila suami lapar, masakkan. Bila suami memanggil, cepat tinggalkan pekerjaanmu dan segera menghampiri. Ridha istri terletak pada ridha suami.”


Aku tersenyum hangat mendengar itu, apakah aku sepenting itu bagi Bu Lisa? Sebagai seorang suami?


“Bukankah itu seperti pembantu?” Rena bertanya lagi, tangannya sibuk mengayunkan Amelia digendongannya.


Bu Lisa menggeleng. “Berbeda, sangat jauh berbeda. Ini mungkin bukan waktunya kamu mengerti. Besok atau lusa, kamu akan paham setelah menikah.”


“Uh, pinter banget sih kamu, Sayang.” Aku mencium pipi Bu Lisa tiba-tiba.

__ADS_1


“Kau… berani mencium Kakakku-!” Rena melotot marah.


“Kenapa? Kalisa kan istriku.” Giliranku yang tersenyum mengejek. Menoleh pada Bu Lisa. “Sini, Dek! Duduk dipangkuan Mas.”


Bu Lisa sebenarnya sedikit enggan karena ada Rena yang melihat. Tetapi karena aku ingin usil. Aku tarik tangan istriku hingga Bu Lisa jatuh dipahaku, terduduk.


“Mm… Kamu harum sayang.” Aku mengecup pipi Bu Lisa lagi.


Rena melotot, ia ingin marah tetapi bingung harus bagaimana. Sekarang aku sudah paham kenapa dia juga membenciku, yang tak lain karena aku berdekatan dengan kakaknya.


Rena akhirnya bangkit dari sopa membawa Amelia ke kamar sebelah. Wajahnya terlihat sebal menatapku bermesraan dengan Bu Lisa.


“Kamu jahat banget sih, Mas?” Bu Lisa memukul dadaku pelan.


“Biarin. Dia juga suka jahat sama Mas.”


Bu Lisa tersenyum. “Sepertinya hubungan Mas sama Lilya tidak terjalin bagus, ya?”


“Malah lebih buruk dari itu.”


Posisi kami masih sama, dengan Bu Lisa ada dipahaku. Aku meneguk ludah saat parpum istriku terhirup lebih lama. Ada sesuatu yang bangun dan tegak namun itu bukan keadilan!


“Sayang…” Aku berkata berat.


Bu Lisa meletakkan tangan didadaku, menggerakkan jari jemarinya menulis lingkaran. Sepertinya ia sangat senang diposisi seperti ini.


“Mas pengen…” rengekku manja.


Istriku tersenyum. Kilasan matanya juga mengharap yang lebih.


“Gara-gara kamu duduk dipaha. ‘Itu’ Mas jadi bangun. Mas boleh gak minta sekarang?”


“Enggak dulu Mas, masih sore, Rena kan masih terjaga sekarang.” Dia berkata lembut.


"Tapi nanti malam boleh, ya?”


“Mm... Boleh gak, ya?” Istriku berpura-pura berpikir.


“Uh, biasanya juga kamu yang ngajak. Jangan jual mahal loh Dek.” Aku mencolek hidungnya. “Nanti, kita buat adik lagi bagi Amelia, biar nanti gak kesepian.”


Bu Lisa tersipu salah tingkah saat menyinggung buat anak lagi.


“Mas Raka mesum banget ih, belum juga 3 bulan Adek lahiran.”


“Tapi kamu mau, kan?” Aku menggodanya.


“Tau ah, males bicara sama Mas. Mesum…”


Aku terkekeh melihat Bu Lisa berpura-pura kesal. Dia tidak marah, bahkan beranjak dari pahaku saja tidak. Bu Lisa hanya ingin bermesraan denganku.




\*\****Boleh promosi? Boleh, ya***.



***Aku udah nulis novel baru, judulnya 'Kehidupan dalam perjodohan'. cuma iseng2 buat yang baru. pernikahan persi Dewasa***.

__ADS_1



***Romantiskah? seharusnya sih iya. Baca aja***\*\*.


__ADS_2