Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 104 — Kembali Mengajar


__ADS_3

Aku tengah berdiri dilantai dua sekolah tepat didepan pintu kelasku, tanganku ditaruh diatas pagar dengan pandangan melihat kebawah. Saat ini aku tengah melihat istriku.


Bu Lisa hari ini adalah hari pertama dia sekolah sejak cuti kehamilannya, baru saja tiba disekolah sudah ada banyak murid yang berkerumun mengitarinya.


Kebanyakan dari kerumunan itu adalah wanita walaupun keberadaan murid laki-laki tidak bisa dibilang sedikit. Mereka mengucapkan salam pada Bu Lisa, beberapa bertanya kabarnya, beberapa bertanya atas kelahiran anaknya.


Bu Lisa menanggapi murid-murid itu dengan sabar dan tersenyum, sepertinya istriku juga rindu dengan suasana sekolah ini.


“Apakah Kakakku selalu seperti itu?” Rena bertanya disebelahku, ikut memandang kebawah.


Aku menoleh padanya, mengerutkan alis, sejak kapan gadis ini ada disampingku, aku benar-benar tidak menyadarinya.


“Ternyata walaupun seorang guru, kakak tetap disukai banyak murid. Apalagi laki-laki.” gumamnya menggelengkan kepala.


Aku kembali menatap kebawah. “Ini sudah hal umum, Bu Lisa memang guru populer disekolah ini. Sama sepertimu, banyak murid laki-laki yang ingin mendekatinya, bahkan tidak sedikit ada murid yang menyatakan cintanya langsung.”


“Kau cemburu melihat itu bukan?” Rena memandangku.


Aku menghela nafas panjang. “Suami mana yang tahan kalau istrinya didekati oleh laki-laki lain?”


“Aku tahu... “Rena menyipitkan matanya. “Jangan bilang kau pernah berkelahi dengan laki-laki yang mendekatinya. Kau pasti membuat mereka babak belur lalu sesudah itu berkata ‘Jangan dekati wanitaku…’ seperti itu?”


“Kau pikir ini sinetron…” Aku mendengus. “Walaupun cemburu aku tetap bisa berpikir jernih, lagian kenapa harus berkelahi kalau tahu Bu Lisa sudah cinta sama siapa.”


Aku langsung menunjuk diriku didada, tersenyum bangga.


“Cih, kepedean…” Rena berdecak kesal, membuang wajahnya.


Aku tertawa, kalau soal ini Rena pasti kesal dibuatnya. Rena selalu cemburu dengan kedekatanku pada kakaknya, apalagi di rumah, dia melihat kemesraan kami.


“Kau tidak akan mengumumkan bahwa kau adalah saudaranya Bu Lisa?” Aku beralih bertanya.


“Kenapa harus diumumkan, itu bukan hal yang wajib mereka tahu. Lagian aku tidak punya orang dekat disini, kalaupun ada belum tentu dikasih tahu.”


“Bagaimana denganku, bukankah aku orang dekat?”


“Amit-amit, kalau bukan kau adik iparku mana mau aku bicara disini.”


Aku menaikan salah satu alis. “Adik ipar?”


Rena mengangguk. “Betul. Oh ya, seharusnya kau harus sopan padaku sekarang, setidaknya panggil aku dengan sebutan ‘Kakak’.”


Aku sekejap langsung tertawa, apa dia bilang? Aku adik iparnya. “Coba aku tanya, kau lahir tanggal berapa?”


“Buat apa, aku lahir tanggal 10 maret.”


Aku tersenyum lebar. “Itu berarti kau yang harus menyebutku ‘Kakak’, bukan aku! Aku lahir tanggal 12 Febuari.”

__ADS_1


Dia membuka mulutnya tetapi tidak ada suara yang keluar, sedangkan aku cekikikan, merasa menang.


Rena menginjak kakikku dengan sebal, “Amit-amit, mending tidak punya saudara sekalian...” dia mendengus dan berlalu pergi.


Begitulah hubunganku dengan Rena beberapa hari ini, sebenarnya kondisi seperti ini bisa membuatku bernafas lega terutama tau kalau dia adalah sepupunya Bu Lisa.


Aku takut dulu saat kenal pertama kali, dia akan menjadi pengganggu hubunganku dengan Bu Lisa. Tapi setelah mengetahui kebenarannya aku bisa tenang kembali.


Rena langsung pergi setelah itu, aku juga sama, langsung kebawah untuk bertemu Bu Lisa. Aku tadi melihat ada Della dan Reza, juga si kembar sedang bersalaman dengan Bu Lisa.


***


Suasana kelas terasa berbeda dijam belajar, maksudku, berbeda karena yang mengajar adalah Bu Lisa. Hari ini pelajaran Matematika, dan istriku kebetulan yang mengajar dikelas.


Bu Lisa tidak ramah saat diluar tadi ketika penyambutan, pas dirinya memasuki jam pelajaran wajah Bu Lisa berubah dingin. Aku hampir lupa perasaan ini, bahwa istriku adalah guru berkategori Killer.


Metode belajar Bu Lisa memang selalu serius untuk mengajari kami, dia jarang sekali becanda dengan murid-murid. Tegas dengan tatapan yang tajam.


Untungnya, cara dia menyampaikan materi dapat mudah dimengerti, kami bisa faham dengan cepat dibanding dengan saat guru lainnya mengajar. Tidak heran kalau belajar bersamanya juga adalah hal yang efektif.


“Sampai disini dulu anak-anak, waktu ibu telah habis.” Bu Lisa melihat jam tangannya, kemudian menoleh dan tatapannya jatuh padaku yang duduk paling pojok kelas. “Raka, tolong kumpulkan buku paket, bawa ke meja ibu di kantor!”


Aku terperanjat, “Siap, Bu.”


Bu Lisa mengemasi barang-barangnya di meja sedangkan aku mengumpulkan semua buku paket yang ada di setiap meja kelas. Setelah semuanya aku ikut berjalan bersama Bu Lisa meninggalkan kelas.


Bu Lisa tidak menjawabnya tetapi ia menurut dan menurunkan ritme langkahnya.


Sepertinya, walaupun wajah Bu Lisa terkesan dingin, dia tetap saja menurutiku, meski statusku sekarang adalah seorang murid.


Kami terus melangkah sepanjang lorong kelas.


“Aku senang lihat Ibu mengajar.” Aku melangkah lebih dekat, berjalan disampingnya. “Sudah lama sekali aku tidak melihat wajah dingin ibu.”


Seharusnya Bu Lisa marah jika dikatakan seperti itu oleh muridnya tetapi beda kasusnya jika itu aku, suaminya.


“Bagaimana kabar anak Ibu, apakah sehat?” aku mencoba lebih akrab. Jika dilorong tidak banyak murid yang berkeliaran mungkin aku tidak harus berbicara formal, tetapi tetap saja aku ingin menggodanya.


“Puteri Ibu sehat, Raka.” Bu Lisa masih berpura-pura dingin.


Aku tertawa kecil, lihatlah, wajah dingin Bu Lisa yang murid-murid segani itu justru membuatku lebih tertarik ingin menggodanya.


“Siapa namanya, Bu? Pasti ayahnya memberikan nama yang indah persis dengan ibunya?” Kali ini suaraku terdengar lebih pelan.


Bu Lisa menatapku sesaat, dia sebenarnya ingin marah padaku tetapi mengingat aku adalah murid spesialnya (Dalam artian lain) jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


“Kenapa Bu guru sayang, kok dingin gitu sih…” Lanjutku terus menggodanya. Kami berbelok dan kini tengah menuruni anak tangga.

__ADS_1


“Mas ih, jangan pake sebutan itu…” Bu Lisa melirik area sebentar takut ada murid yang melihatnya, ia mencubit pinggangku kesal.


Bergugurlah wajah dinginnya seketika, Bu Lisa langsung memandangku dengan perasaan jengkel. “Ini disekolah, jangan goda Adek dulu!”


Aku nyengir lebar. “Maap Bu, gak kuat soalnya…”


Percakapan kami terhenti sebentar karena ada beberapa murid yang hendak naik tangga. Aku dan Bu Lisa segera bersikap senormal mungkin.


“Ibu belum jawab pertanyaanku tadi?” Maap istriku, aku tak bisa menahan ingin menggoda mu.


Bu Lisa sedikit menahan senyum, ia mencubit pinggang sekilas lagi. “Namanya Amelia, suami ibu memberikan nama itu.”


“Wah, pasti beruntung, ya, yang menjadi suami Ibu.” Aku mendapat topik lain. “Ibu kan orangnya cantik, pinter, dewasa. Suami ibu pasti bersyukur memiliki istri seperti Ibu Lisa.”


Istriku mengigit bibirnya, berusaha sebaik mungkin agar tidak tersenyum ataupun tersipu. Ini dilorong kelas, bisa bahaya murid-murid melihat wajahnya yang memerah.


Disisi lain aku yang melihatnya hanya terkekeh pelan, ternyata seru juga menggoda Bu Lisa seperti ini.


Kami tiba di kantor guru beberapa langkah kemudian. Aku ikut mengekor dibelakang Bu Lisa karena tidak tahu mejanya dimana.


Suasana kantor guru sendiri terlihat begitu sibuk, semua guru tengah mengerjakan sesuatu. Kebanyakan meja kosong, sepertinya masih banyak guru yang masih mengajar dijam waktu pulang.


“Raka, taruh disini bukunya.” Bu Lisa menepuk meja.


Aku mengangguk, meletakkannya. Sekarang aku bisa tahu dimana letak meja Bu Lisa berada.


Meja Bu Lisa terkesan sesak karena dikelilingi banyak buku dan kertas yang menumpuk . Ada laptop dan makanan ringan disisi yang lain. Aku termangu, apakah guru itu sesibuk ini mengurusi murid-murid.


Walaupun tugasku telah selesai aku tidak berniat langsung pergi. Aku mencomot salah satu biskuit yang ada dimeja Bu Lisa tanpa aba-aba. “Bolehkan, Bu?”


Bu Lisa mengangguk, mempersilahkannya.


Aku mengigit biskuit itu dibibir, saat mau perjalan pergi Bu Lisa menahanku sebentar. “Tunggu dulu, Raka. Kalau mau ambil saja biskuitnya!”


“Eh, beneran, Bu?”


"Ambil saja, Ibu masih ada banyak di laci... "


Aku menatap sekeliling, tidak ada yang melihat kami. Aku memecahkan satu biskuit lagi menjadi potongan kecil dan memberikannya pada Bu Lisa.


“Buku mulut sayang…” Perintahku untuk menyuapinya.


Bu Lisa terlihat ragu tetapi buru-buru memakan biskuit ditanganku.


“Terimakasih, ya, Ma. Ayah pergi dulu….” Bisikku pelan. Mengedipkan mata genit.


“Iyah..”

__ADS_1


Aku tertawa kecil, menggenggam tangan Bu Lisa sekilas. Tersenyum. Bu Lisa menatapku salah tingkah, wajahnya langsung tersipu malu.


__ADS_2