Menjadi Suami Guruku

Menjadi Suami Guruku
Eps. 69 — Perasaan Rahasia II


__ADS_3

Di waktu sore, kami berenam berkumpul selepas pulang sekolah, duduk melingkar di ruangan klub membaca. Di sana sekarang, Bu Lisa tengah berdiri menjelaskan materinya, menatap kami satu-satu.


Yang Bu Lisa ajarkan adalah teknik membaca tiga jari, bertujuan agar kita membaca lebih cepat tetapi dapat memahami setiap kata yang di tulis. Singkatnya, jika sekarang kalian punya buku, letakan jari kalian secara renggang, jari telunjuk-tengah-manis, di atas kertas buku.


Setelah itu, fokuskan mata kalian dalam membaca menggunakan tiga jari sebagai acuan penting, dan kalau sudah terbiasa jarinya tidak perlu diletakan. Saat membaca berlangsung kalian akan fokus pada kalimat penting-penting saja, namun tetap memahami semuanya.


Jika kalian tidak mengerti pengertian itu maka aku juga sama, Bu Lisa terlalu cerdas menjelaskannya sehingga otakku ini tidak mengikuti. Setelah merasa pembimbingan klubnya selesai Bu Lisa berpamitan pergi, ia harus kembali ke kantor guru.


“Hwaahh!” Suara lenguhan dari ruangan klub terdengar, itu bukan suara hewan, itu suara manusia yang tengah mengeliat seperti ketika kita bangun tidur. “Hadehh, kaya di dongengin sama Bu Lisa aja.”


Reza, ya Rezalah yang melenguh itu, ia mengomel tidak jelas karena di buat ngantuk dan pegel duduk.


“Aku mau beli minuman dulu sajalah, kalian mau nitip?” Reza menyodorkan tangannya, artinya siapa yang mau nitip, uangnya tinggal di letakan di telapak tangannya.


Aku nyengir lebar, ini nih yang aku suka dari Reza, meski mengeluh dan marah-marah kayak kesurupan. Dia pengertian pada kami yang lagi kehausan, setidaknya ia kali ini lagi good mod.


Good mod dia sebenarnya sudah terpencar semenjak beberapa hari lalu, tentu saja kalian tahu kenapa, apa lagi kalau bukan hubungan dia dengan Della yang berubah seperti sepasang kekasih.


Aku mengambil uang di saku lalu meletakan lima ribuan pada Reza, begitu juga dengan Zildan, Arin dan Airin. Sedangkan untuk Della dia menggeleng, “Aku juga akan ke kantin, ada hal yang harus aku beli.”


Reza mengangguk, dari matanya ada sedikit kesenangan. Pada akhirnya mereka pergi keluar bersama, berjalan beriringan.


“Hei, apakah menurutmu mereka tengah berpacaran?” Arin yang memastikan bahwa langkah mereka sudah jauh berpendapat tidak sabaran.


Aku hanya mengangkat bahu, tidak tahu. Aku juga sebenarnya penasaran, apakah mereka berpacaran atau tidak.


“Aku sebenarnya cukup terkejut jika Della dan Reza tidak saling bertengkar, namun kali ini jangankan bercekcok mulut seperti biasa, ini malah aku melihat keduanya seperti orang yang berpacaran.” Arin melanjutkan pendapatnya, tidak peduli apakah ada tanggapan dari kami ataupun tidak.


“Mereka tidak berpacaran, Rin.” Itu bukan suaraku, melainkan orang di sampingku, Zildan.


“Kenapa kau bisa menyimpulkan demikian, eh, tidak, aku cukup yakin perkataanmu benar. Kalian kan sudah berteman dari kecil bukan, terus apa alasanmu berkata demikian, Zil?”


“Yahh, seperti katamu tadi. Aku sudah lama berteman dengan si Reza, dari yang aku tahu, dia paling anti namanya pacaran, bahkan terkesan benci. Menurutku hubungan mereka saat ini lebih istimewa dari pada hubungan tidak jelas itu (pacaran).”


“Lebih istimewa!?” Arin memeringkan kepalanya, tidak mengerti. “Maksudnya apa Zil? Reza sama Della sudah tunangan? Atau jangan-jangan mereka sudah menikah? menikah muda?” Arin bertanya antusias, badannya sedikit condong ke arah Zildan.


Aku menepuk jidat, banyak sekali pertanyaan si bunga lotus ini, berbeda terbalik dengan kembarannya yang saat ini diam dan menonton percakapan.


“Kenapa kau sangat penasaran dengan hubungan mereka?” aku menyela pembicaraan keduanya.


“Tentu saja aku penasaran, Della itu sahabatku, jika itu adalah kabar baik untuknya aku turut bahagia. Betul gak, Dek?” Arin menoleh ke adiknya.


Airin patah-patah mengangguk saat kami berdua menatapnya, lalu tidak lama wajahnya langsung tertunduk, merasa malu.

__ADS_1


“Terus, terus, Zil, gimana?” Arin kembali menoleh Zildan, kaki kursi belakang terangkat saking penasarannya.


Sikap Arin terhadap Zildan yang ingin mencari tahu sebenarnya cukup di maklumi, selain jawaban Zildan yang selalu masuk akal, juga perkiraanya selalu tepat. Tidak heran kalau Arin menaruh kepercayaan padanya saat ini.


Zildan itu bukan cerdas di bidang pelajaran saja, kecerdasannya bahkan lebih dari itu, ia cerdas dalam menyikapi setiap masalah kehidupan. Jika aku boleh berpendapat, aku pernah berpikir bahwa tingkat kecerdasan Zildan itu sama dengan istriku, Kalisa. Sama-sama satu level.


“Sepertinya hubungan mereka memang lebih dari sekedar teman, mereka juga saling mencintai, saling menyukai. Namun yang menurutku hubungan mereka istimewa adalah karena keduanya tidak menyampaikan rasa cinta dan rasa suka itu secara langsung.


“Mereka mungkin tidak akan pernah menyatakan cinta satu sama lain, itu tidak perlu, karena tanpa berkata apapun keduanya sudah saling mengetahui perasaan masing-masing. Perasaan mereka sudah pada tingkat yang berbeda.” Jelas Zildan panjang lebar.


Aku menggaruk kepala, tuh kan bener, kalau Zildan itu sama seperti Bu Lisa. Buktinya ia menjelaskan terlalu cerdas sama seperti tadi Bu Lisa, otakku benar-benar tidak bisa memahaminya.


Ternyata Arin juga sama, wajahnya tidak paham sedikitpun, “Ah, pikiranku tidak sampai kesana! Bisakah kau menjelaskan dengan Bahasa lebih sederhana.” Arin mencoba menawar.


Zildan terdiam sesaat, mungkin ia tengah menyusun kata-kata selanjutnya.


“Itu seperti sebuah cinta orang tua sama anaknya, tidak peduli ibumu mengomel siang malam, tidak peduli hukuman apa yang pernah orang tuamu lakukan padamu. Kamu sangat tahu, bahwa mereka tidak membencimu, mereka sangat mencintaimu.


“Seperti itulah cinta Reza dan Della, walaupun keduanya tidak menyatakan cinta, tidak pernah berkata langsung bagaimana keduanya saling suka. Mereka tetap tahu, bahwa keduanya memiliki perasaan yang sama.”


Zildan menghampaskan punggunya pada sandaran kursi, menunjukan bahwa penjelasaannya selesai.


Perkataan Zildan sedikit membuka memori-memoriku dengan Kalisa. Kalau di pikir-pikir kembali, selama ini Bu Lisa memang jarang mengatakan bahwa dirinya cinta padaku.


Namun meski begitu aku sangat yakin kalau dia cinta padaku, dia tidak pernah membantah, menurut saja permintaan anehku, dan yang lebih jelas membuktikan dari cintanya, dia bisa menerima pernikahan ini walau pasanganya adalah seorang anak SMA.


Aku jadi kembali teringat dengan perkataan ayahku dulu, “Cinta adalah tindakan. Jika hanya perkataan saja itu semua omong kosong.”


Tidak berangsur lama, Reza dan Della masuk membawakan minuman yang tadi kami pesan. Percakapan kami terhenti, pandanganku pada Reza dan Della jadi berubah menjadi lebih takjub.


***


Ketika aku pulang dan tiba di rumah, kebetulan istriku juga baru sampai. Ia baru saja membuka sepatunya.


Aku langsung memeluk ia dari belakang, membuatnya kaget sekaligus menjerit. “Maaassss! Kamu ini bikin Adek jantungan aja! Kirain tadi ada yang macem-macem sama aku.”


Bu Lisa mengelus dadanya lalu membalikan tubuh menghadapku, “Kamu kenapa sih, kok tiba-tiba meluk gitu.”


Aku nyengir lebar, tidak menjawab, kemudian kembali memeluknya dengan manja, “Adek… kamu cintakan sama, Mas?”


“Kamu kenapa sih, Mas, kok jadi gini?”


Aku hanya terkekeh, semenjak perkataan Zildan tadi, aku tersadar betapa dia selama ini sangat mencintaiku. “Jawab dulu ih, kamu cinta kan sama, Mas?”

__ADS_1


“Iyah, Mas."


“Kok jawabnya gitu sih.” Aku menatapnya dengan wajah cemberut.


“Yah, terus jawabnya seperti apa?”


“Kamu nyatain dong cinta kamu ke aku.”


“Nyatain gimana?”


“Ya… Kayak nembak gitu, ngertikan.”


“Gak mau ah, Adek malu tahu.” Kedua pipi Bu Lisa perlahan merona.


“Yaudah, aku duluan yang mulai biar kamu gak malu.” Aku berdehem sebentar.


"Adekku sayang... Raka cinta sama kamu."


Wajah Bu Lisa seketika lebih merona, ia hendak menundukan kepala namun aku melarangnya, “Jangan menunduk, pelukan ini gak akan lepas sampai kamu nyatain cinta sama, Mas.”


Bu Lisa memukul dadaku pelan. “Malu…” cicitnya.


Aku hanya tersenyum, menunggu ia melanjutkan kata-katanya.


“Adek cinta...” Katanya sangat pelan.


“Gak kedengeran ah, masa gitu. Tadikan aku udah nyatainnya dengan suara keras.”


“Mas juga sih… kenapa tiba-tiba jadi gini coba, perasaan tadi di sekolah biasa aja.” Bu Lisa memukul dadaku lagi.


“Ada deh.” Aku tertawa kecil.


Bu Lisa terdiam sebentar sebelum berkata. “Mas Raka… Kalisa… cinta… kamu…”


Selepas ia mengucapkan kalimat itu, ia segera melepaskan pelukan dan lari kecil ke dalam kamar. Wajah Bu Lisa tak kuasa memerah, dari yang aku lihat, aku tidak pernah melihat wajahnya merona seperti itu.



\*\*Eh, Sebentar! Sebentar! aku mau promosi dulu... Kalau minat, baca dong novel author yang judulnya “PERNIKAHAN AZZAHRA ".



Berbeda dengan Raka dan Kalisa, yaitu guru dan murid. Cerita ini hanya murid dan murid yang tidak di saling mengenal lalu di jodohkan. Intinya seperti nikah SMA.

__ADS_1



Like dan Vote**


__ADS_2