
Lima bulan berlalu bagai peluru, tidak terasa aku sudah naik ke kelas dua SMA. Itu adalah awal yang baru bagiku, bukan hanya kelas dan pelajaran saja, tetapi keluargaku juga ada sesosok malaikat yang baru.
Bu Lisa sudah menginjak usia hamil 6 bulan. Perutnya amat membuncit dan besar. Di umur kehamilannya yang terus bertambah, entah kenapa istriku menjadi lebih cantik, lebih seksi, lebih berkarisma — apalagi jika dia memakai seragam dinasnya.
Kami baru saja pulang sekolah dan baru tiba dirumah mertua. Karena di rumah orang tuaku tidak ada siapapun, jadi Bu Ayu mengusulkan tempat tinggalnya sementara untuk menjaga kehamilan anaknya.
Aku memapah Bu Lisa saat dia turun dari mobil dan menuntunnya berjalan sampai masuk rumah. Bu Lisa menginginkan agar dia dudukkan di kursi sopa, aku mengangguk lalu meletakannya secara perlahan.
“Mau Mas pijit, sayang?” Aku mencoba menawarkan. Bu Lisa mengangguk. Aku tersenyum lalu memulai memijit kaki putihnya.
Bu Lisa memerintahkan salah satu pelayan yang berdiri di belakangnya untuk di ambilkan air minum. Istriku terlihat gerah sekaligus kehausan, ia memium air gelas dalam waktu sepersekian detik.
Aku kemudian berpindah ke belakang sopa, memijit bahunya, membuat Bu Lisa merem keenakan. “Gimana, enakan pijitan Mas?”
Bu Lisa mengangguk lalu mengecup pipiku. “Terima kasih.”
“Ada yang pegel lagi gak?” karena di cium oleh Bu Lisa seketika aku langsung semangat.
“Enggak, ini sudah cukup. Mas mau di pijitin?”
Aku menggelengkan kepala lalu duduk di sampingnya. Istriku pasti kelelahan hari ini mengingat dia berdiri terus saat mengajar. Dengan perutnya yang terus membesar ia akan terbebani, sehingga kakinya sering pegal-pegal dan mudah kelelahan.
“Mau kami pijit-pijit, Non?” salah satu pelayan bersuara menawarkan.
“Tidak usah, ini biar aku aja yang urus.” Aku yang menjawabnya. “Tolong simpan tas ini sebentar!”
Pelayan itu menurut, ia kemudian pergi untuk meletakan tas sekolahku dan tas Bu Lisa. Di rumah mertuaku ini ada sekitar 5 orang pelayan yang di tugaskan mengawal Bu Lisa saat hamil. Mereka akan berjaga selalu di dekat kami, terutama pada kehamilan Bu Lisa.
Bu Ayu dan Pak Harun masih belum pulang ke rumah, ia akan datang sekitar menjelang magrib. Sehingga disini hanya aku dan Bu Lisa jika mengecualikan para pelayan.
Saat aku baru menyandarkan tubuh di sopa tiba-tiba Bu Lisa beranjak hendak pergi. Aku segera berdiri di sampingnya siap menuntun dia lagi.
“Tidak usah, Adek cuma mau ke kamar mandi, Mas.” Bu Lisa terkekeh kecil melihat tampangku yang sigap dan cemas.
Aku hanya menggaruk kepala, mungkin aku sedikit terlalu posesif sekarang. Aku kemudian melepaskan tangan Bu Lisa dan ikut berjalan bersamanya ke kamar.
“Mas mau ikut mandi?”
Lontaran dari pertanyaan Bu Lisa seketika membuatku termenung. Eh? Apa tadi, Bu Lisa ngajak aku mandi bareng. “Gimana, sayang, aku gak denger?”
“Mas mau ikutan mandi sama Adek?” Dia mengulangnya.
“Memang boleh?” Aku cukup yakin kalau ini hanya gurauannya tetapi Bu Lisa mengangguk serius.
Bu Lisa berjalan terlebih dahulu tidak menungguku yang terdiam mematung. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum sebelum kemudian masuk ke pintu kamar mandi.
Aku menggelengkan kepala. Sungguhkah Bu Lisa mengajakku terlebih dahulu. Tanpa ba-bi-bu lagi aku berjalan masuk, ikut mandi bersama.
__ADS_1
Seharusnya kami membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit untuk menyelesaikan mandi, namun karena ini mandi berdua, dan lagi berlawanan jenis tentu ceritanya akan beda lagi. Kami di kamar mandi hampir menghabiskan waktu dua jam.
Berhubungan intim saat mandi tidak seleluasa di kamar, selain harus hati-hati karena lantainya licin, juga luas ruangannya terbatas. Selain itu juga sekarang Bu Lisa tengah hamil besar, aku tidak berani bergerak seenaknya.
Selepas kami melakukan ritual itu, waktu sudah menunjukan jam 5.30 sore, hanya sebentar lagi malam akan tiba. Kami berjalan keluar dari kamar usai berpakaian.
Para pelayan seolah tidak melihat kami ketika keluar kamar, mereka menunduk ke arah lantai, tidak berani menatap. Aku tertawa cekikikan, ini pasti karena suara desahan Bu Lisa yang keras hingga para pelayan yang berada diluar kamar dapat mendengarnya.
Wajah Bu Lisa memerah, seolah tahu apa yang aku tertawakan. Aku mengecup pipi dia singkat, “tidak apa-apa, mereka pasti ngerti kok.”
Kami berdua nonton televisi di ruang tengah dengan posisi Bu Lisa menyandarkan kepalannya di pundakku. Bu Lisa menonton sambil mengelus perut besarnya.
“Mas, Adek pengen roti bakar?” tidak ada angin tidak hujan tiba-tiba Bu Lisa berkata seperti itu. Nadanya merengek memohon.
“Kamu mengidam?”
Bu Lisa mengangguk, tangannya masih sibuk mengelus.
Akhirnya, setelah dua bulan tidak meminta sesuatu Bu Lisa ngidam kembali. Aku tentu saja semangat, tidak akan mengeluh. Kalau Bu Lisa ngidam seperti ini aku merasa telah benar-benar menjadi seorang ayah.
“Biar kami saja yang beli, Tuan.” Seorang pelayan berkata.
“Aku saja, terima kasih tawarannya. Kalau istriku ngidam seperti ini pastikan kalian memberitahuku, biar nanti ayahnya yang bertindak.” Aku menoleh ke arah Bu Lisa yang membuat dia langsung merona.
Pelayan itu tidak berkata lagi, ia memberikan usul padaku untuk membeli roti di ujung pertigaaan jalan yang paling dekat. Aku menurut, lebih cepat lebih baik.
Sekembalinya, aku sudah mendapatkan roti bakar yang ia minta. “Sayang! Ini Mas bawa roti yang kamu minta!”
“Aku suapi ya?”
Bu Lisa mengangguk, tersenyum lebar.
Baru saja aku menurunkan tubuh di sopa, tiba-tiba Bu Lisa langsung duduk di pangkuanku sambil tersenyum senang.
“Ayo cepatan bukaa… Adek pengen.” Dia mengalungkan tangannya di leherku.
Aku terkekeh geli, ini sudah ketiga kalinya sikap Bu Lisa berubah. Dia bukan lagi guru yang dewasa seperti di sekolah, dia sekarang adalah guru kecilku.
Aku membuka plastik yang membungkus roti bakar itu, merobek rotinya kecil-kecil, lantas memasukannya ke dalam mulut kecilnya.
“Suka?”
Bu Lisa mengangguk. “Suka banget Mas. Enak-enak.”
Aku tersenyum menggelengkan kepala, memulai memasukan potongan roti lagi ke mulutnya.
“Aww….”
__ADS_1
Tanganku langsung terhenti ketika Bu Lisa seperti meringis kesakitan memegang perutnya. Para belayan di belakang langsung sigap serius, takut majikannya kenapa-napa.
“Kamu kenapa sayang?” aku bertanya cemas.
“Ini, Mas. Ralisa kecil kita nendang…”
“Eh, nendang?”
“Heem, tadi dia nendang, Mas. Geli kayak ada getaran gitu. Mungkin ini karena suka roti yang di bawa Papahnya.”
Aku tertegun, sungguhkah ini karena aku? Aku mendekatkan telinga pada perut Bu Lisa, berharap Ralisa kecil menendang lagi, tetapi sayangnya tidak ada respon apapun.
“Ralisa kecil.” Aku mengelus perut istriku lembut. “Kamu suka sama rotinya, hm?”
“Eh, ada respon lagi, Mas.” Bu Lisa berkata lagi.
“Sungguh? Hm… Sepertinya ibu sama anaknya lagi sama-sama mau makan roti hari ini.” aku menoleh ke arah wajah Bu Lisa. Bu Lisa seketika malu-malu tersenyum.
“Mau kami belikan roti bakarnya, tuan.” Ucap salah satu pelayan menawari.
“Boleh, jika ini tidak merepotkan kalian.”
“Tentu saja tidak. Kami malah senang membantu Tuan sama Nona.”
Aku memberikan uang pada pelayan itu. “Kembaliannya sama kamu aja.”
“Terima kasih tuan, terima kasih. Saya akan kembali secepatnya.”
Pelayan itu segera berlalu pergi dengan semangat tinggi. Aku tahu mereka juga ikutan bahagia melihat majikannya bahagia.
Aku kembali menatap Bu Lisa yang kini masih di pangkuanku. “Semoga anak kita perempuan, ya Ma?”
“Memang kamu ngarep perempuan?” Bu Lisa balik bertanya.
Aku mengangguk, sangat menginginkan malah.
“Adek juga kalau boleh milih pengennya perempuan, Mas.” Bu Lisa mengelus perutnya penuh harapan, Berharap hal itu terkabul.
Aku di sisi lain memandangnya dengan tatapan yang berbeda, saat ini wajah istriku mengeluarkan aura keibuan. Aku meneguk ludah, memegang dagunya lalu mencium bibirnya.
“Mas jangan asal cium ih... Di belakang ada pelayan tuh?” Wajah Bu Lisa memerah akibat bibir kami bersentuhan.
“Eh, maap Dek…” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. “Tadi gak kuat lihat wajah manis kamu, sayang.”
Wajah Bu Lisa semakin memerah, ia langsung membenamkannya di dadaku, sedangkan para pelayan di belakang hanya menunduk. Berpura-pura tidak melihat kejadian tadi.
__ADS_1
...***Like dan vote***...