
Hujan deras perlahan mereda seiring dengan cahaya matahari yang mulai muncul. Pagi yang sejuk, dedaunan basah, tetesan dari genting, hawa dingin yang segar, adalah hidangan pertama kami dalam awal hari.
Bu Lisa dengan telitinya mengikat tali dasiku hingga terlihat rapi dan tidak miring. Dia sudah siap dari tadi, berpakaian dinas khas guru di negara ini.
“Kamu janji ya, Dek. Ini adalah hari terakhir kamu mengajar, setelah ini kamu harus ambil cuti, libur untuk berisitirahat.” Ucapku mengingatkan.
“Iya, Pah. Kamu sudah bicara itu 3 kali pada Adek memang tidak bosen ngingetin terus. Kalau Mas tanya gitu lagi nanti, Adek kasih mangkok sama piring gratis lagi.” Bu Lisa tersenyum becanda.
Aku nyengir lebar, menggaruk kepala. Mau bagaimana lagi? Aku hanya khawatir pada kehamilan istriku. Perut dia semakin membesar saja di setiap harinya. Aku takut dia kenapa-napa.
Setelah selesai sarapan pagi aku memapah Bu Lisa ke teras rumah. Bu Lisa memakai mobil seperti biasanya namun tidak menyetir melainkan dengan menggunakan seorang sopir.
Usai dia mencium punggung tanganku dan berangkat sekolah, aku menyusulnya kemudian di belakang mobil menggunakan motor. Walaupun di perjalanan juga aku tetap menjaganya, menjadi suami yang siaga.
Bel masuk berdering nyaring memecah keributan murid-murid, semuanya bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing. Pelajaran pertama segera akan dimulai.
Di kelasku, pelajaran pertama kebetulan adalah pelajaran matematika, yang tak lain adalah pelajaran istriku. Bu Lisa akhirnya masuk setelah beberapa menit berlalu, dia berjalan pelan di depan kelas dengan perut hamilnya.
Meski Bu Lisa selalu menjelaskan pelajarannya dengan teliti agar semua murid bisa memahaminya dengan mudah, namun kali ini hal itu sangat sulit dilakukan, itu karena beberapa murid selalu pecah kosentrasinya dengan kondisi Bu Lisa. Mereka kadang melihat kedepan untuk melihat perut besarnya.
Di bangku yang paling belakang dan pojok, aku bisa menyaksikan pandangan teman-teman sekelasku pada Bu Lisa. Hal ini memunculkan kenangan tentang 3 bulan lalu, dimana saat-saat itu para murid saling berbisik-bisik tentang Bu Lisa yang terasa menjadi gemuk.
Aku masih ingat dengan jelas. Dikehamilan tiga bulannya, perut Bu Lisa mulai perlahan menonjol. Perlahan namun pasti akhirnya murid-murid menyadari hal tersebut dan mulai mempertanyakannya.
“Perasaan perut Bu Lisa membuncit, apa ini perasaanku saja?” salah satu murid berpendapat, bertanya keheranan.
“Oi, bukan kau saja. Aku juga berpikir demikian!”
“Hm, apa mungkin Bu lisa sering makan banyak hingga membuncit seperti itu. Tapi rasanya tidak mungkin, setahuku Bu Lisa makannya teratur, tidak berlebihan. Aku pernah lihat dia selalu makan sayuran.”
__ADS_1
“Kalau yang aku pikirkan bukan itu melainkan sesuatu yang buruk. kurasa Bu Lisa tengah hamil.”
“Hah? Hamil! Memang dia sudah menikah?” Murid itu terkejut dengan pemikiran temannya.
“Entahlah, ini hanya perasaanku saja. Jika saja perutnya terus membesar maka sudah di pastikan kalau Bu Lisa sedang hamil.”
Begitulah bisik-bisik yang terdengar saat aku tengah ke kantin memakan bakso. Rasa penasaran dan keheran itu akhirnya memuncak 2 minggu setelahnya. Aku mendengar dari salah satu murid bahwa ada murid yang bertanya langsung pada Bu Lisa di kala jam belajar.
“Maap, Bu.” Murid laki-laki yang entah namanya berdiri ingin bertanya, dari wajahnya dia merasa ragu untuk berkata-kata.
“Iya, ada apa?” Bu Lisa menjawabnya di meja guru.
“Mm… jadi gini ya, Bu. Banyak desas-desus dari para murid membicarakan bahwa Ibu saat ini tengah hamil. Kalau boleh saya tahu, memang benar begitu, Bu?”
Murid itu amat hati-hati dalam berbicara, takut Bu Lisa akan marah dengan pertanyaan yang jelas di luar tema pelajaran sekolah.
“Iya, Ibu memang hamil. Sekarang sudah menginjak usia 3 bulan kehamilan.” Bu Lisa menjawabnya tanpa keberatan, seolah pertanyaan itu adalah hal umum baginya.
Menurutku reaksi murid-murid sekolah itu adalah hal yang dimaklumi. Bu Lisa adalah guru termuda di sekolah sekaligus guru yang paling cantik. Walaupun dia termasuk guru galak, tidak akan mengubah pesona dirinya pada murid-murid itu.
Guru-guru dan teman Bu Lisa di kantor justru baru mengetahuinya dari murid sekolah. Setelah Bu Lisa mengonfirmasinya bahwa itu benar, semua guru langsung terkejut, yang terbesit dari pikiran mereka hanya satu. Kapan Bu Lisa menikah?
Dari semua kejadian ini yang paling terkejut bukan guru dan murid, melainkan pada sahabatnya, Pak Farhan.
Fak Parhan memang masih mempunyai perasaan pada Bu Lisa walaupun sudah di tolak. Dia berharap bahwa suatu hari nanti mungkin Bu Lisa akan membuka hati untuknya, dan menjadikan dia pasangannya. Tetapi ketika mendengar berita ini semua harapan itu telah sirna.
Suatu hari aku pernah mendengar perkataan mereka di parkiran.
“Jadii alasan kau menolakku adalah kamu sudah menikah?” Pak Farhan berkata pelan, wajahnya begitu kelam penuh ketidak harapan.
__ADS_1
Bu Lisa mengangguk kecil. Dia tidak berkata apapun kecuali hanya rasa bersalah yang terlihat.
“Kapan kamu sudah menikah?” Pak Farhan berkata sekuat tenaga, menahan air matanya yang hampir menangis.
“Setahun lalu…” Bu Lisa bercicit kecil.
“Kenapa kau tidak memberitahukannya! Bukankah kita sudah berteman 3 tahun lalu. Kenapa saat aku punya rasa padamu kau baru mengatakan kalau kau sudah menikah?”
Bu Lisa menggelengkan kepala, menunduk. Sedetik kemudian tetesan air matanya akhirnya jatuh.
Bu Lisa menangis bukan karena dia punya perasaan yang sama Pak Farhan, bukan! Melainkan dia menangis karena telah menyakiti hati sahabatnya yang baik dan setia.
Pak Farhan yang hendak berkata sesuatu lagi, menjadi urung. Hati dia juga sedih, tidak bisa menghiburnya. Pak Farhan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Bu Lisa sendirian.
Di rumah, karena aku tahu semuanya. Bu Lisa langsung memelukku begitu erat di kamar. Tangisannya pecah membasahi baju seragamku.
Itu benar-benar hari yang kelam dan begitu menyakitkan. Sampai kapanpun aku tidak tega menyaksikan istriku menangis seperti ini.
“Adek memang bukan orang baik, Mas… Adek orang jahat…” Ucap Bu Lisa disela tangisnya.
Aku menunduk. Aku tidak tahu harus berkata seperti apa padanya. Apa yang di alami Bu Lisa adalah sesuatu yang tidak dirasakan oleh remaja sepertiku.
Aku mengelus punggung Bu Lisa dengan lembut. membiarkan tangisannya mengeras bertumpah ruah. “Tidak apa… keluarkan semuanya, Dek… keluarkan…”
Bu Lisa menangis selama satu jam lebih. Dia berhenti karena kelelahan menangis dan akhirnya tidur di pelukanku.
__ADS_1
......***Like Dan Vote***......